Kedamaian

Jangkar indahnya jiwa

Ditulis oleh Gede Prama

Sejumlah sahabat terharu semalam menonton FB live tentang “Jangkar Indahnya Jiwa”. Menyegarkan ingatan, orang di luar semuanya datang dan pergi. Satu-satunya orang yang tidak pernah datang dan pergi, serta terus menerus Anda jumpai sejak kecil sampai tua adalah diri Anda sendiri. Untuk itu, rawat diri Anda agar jiwa Anda dirawat balik. Dan musik adalah salah satu cara.

Untuk publik pemula, kapan saja di luar ada simbol-simblol sukacita, cepat nyanyikan lagu yang membuat sukacita di dalam terhubung dengan sukacita di luar. Misalnya melihat kupu-kupu sebagai simbol sukacita di luar, cepat nyanyikan lagu “Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau terbang…”. Jika melihat bintang, nyanyikan lagu “Kupandang langit penuh bintang bertaburan…”.

Itu yang dimaksud sebagai nyanyian sebagai jangkar yang menghubungkan jiwa dengan pantai sukacita. Untuk para sahabat dekat yang telah kena inisiasi mendalam, telah namaskara mendalam, temukan nyanyian terindah jiwa bernama keheningan. Dengarkan jeda (keheningan) diantara dua suara. Saat lingkungan riuh penuh suara, kurangi terganggu oleh suara yang riuh.

Lihat suara yang riuh sebagai pintu pembuka menuju keheningan. Setelah suara riuh itu berlalu, biasanya keheningan akan terasa sangat dalam. Menyatulah dengan keheningan mendalam jenis ini. Ia sebuah perjumpaan pribadi dengan Tuhan sebagai keheningan (The ultimate silence). Tetua Bali menyebutnya Hyang Embang (Yang Maha Sunyi).

Di Barat musik terindahnya jiwa disebut naked voice (suara yang telanjang). Suara terindah yang pernah ada di alam ini. Mengulangi cerita di fb live semalam, suku Himba di Namibia Afrika punya buku suci yang berbunyi seperti ini: “Setiap jiwa yang lahir di bumi membawa nyanyian yang unik”. Ia yang menemukan nyanyian uniknya, mudah sekali mekar menjadi jiwa yang indah. Berlatih naked voice, itu jalan cepat menemukan nyanyian unik di dalam

“Buku Suci” Keluarga Compassion: https://play.google.com/store/books/details?id=BMXgDwAAQBAJ
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri Keluarga Compassion) 0361 845 5555

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Twitter

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.