Kedamaian

Cahaya kembar di Ashram Avalokiteshvara

Ditulis oleh Gede Prama

Pagi ini tatkala siap-siap membuat rekaman MP3 dalam bahasa Inggris, sepasang Cahaya sangat indah muncul di Timur. Takjub dan kagum. Yang unik, Sang Cahaya mau dipotret untuk dibagikan. Setelah ditanyakan ke dalam, ternyata satu mewakili Ibu yang tersenyum indah. Satu lagi mewakili Ayah yang sangat karismatik. Bahasa Balinya metaksu.

Setelah ditanyakan pesan apa yang mau disampaikan, jawabannya terang sekali: “Jangan izinkan kegelapan di luar melahirkan kegelapan di dalam. Gunakan kegelapan di luar untuk melahirkan Cahaya di dalam. Untuk itulah Ibu dan Ayah datang”. Angka pengangguran yang tertinggi di sepanjang sejarah, virus corona, tragedi kemanusiaan di AS adalah sebagian contoh kegelapan.

Mari menggunakan kegelapan di luar untuk melahirkan Cahaya di dalam. Soal tingginya angka pengangguran. Teruslah berusaha mencari kerja. Kesulitan sering melahirkan pikiran kreatif. Kesulitan juga sering membimbing seseorang jadi hati-hati dan rendah hati. Gunakan waktu berlimpah untuk menyempurnakan kualitas di dalam.

Tentang virus corona sudah banyak pesan yang dibagikan. Teruskan ziarah ke dalam. Pikiran yang lentur, hati yang bersyukur, itu Guru di dalam. Berkaitan tragedi kemanusiaa di AS, luka jiwa manusia ternyata berumur sangat panjang. Mirip dengan luka jiwa di balik tembok besar China yang bercerita tidak nyambungnya orang China dengan orang Mongol, permusuhan orang putih dan orang hitam serupa. Itu luka jiwa yang gagal disembuhkan selama ribuan tahun.

Tidak ada pilihan lain, cepat belajar memaafkan. Tidak saja jiwa jadi sembuh dan tumbuh. Tapi juga membuat para sahabat tidak mengirim jejaring panjang luka jiwa ke masa depan. Yang bisa menghasilakn tidak terhitung jumlah kekerasan di masa depan. Tabik Ibu dan Ayah alam semesta.

P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri) Keluarga Compassion 0361 845 5555
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian) Keluarga Compassion 08233 5555 644

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto diambil pagi ini sekitar jam 05:05 waktu Bali persis di depan kamar Guruji. Cahaya ada di arah Timur mengarah ke Barat. Yang langka, Sang Cahaya menyediakan dirinya untuk dipotret. Kebanyakan Cahaya tidak mau dipotret

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.