Kedamaian

Senyum-senyum saja

Ditulis oleh Gede Prama

Tatkala masih melayani para sahabat di Landih Bali, seorang peserta meditasi bertanya heran: “Kenapa Guruji mendoakan setan. Padahal di banyak agama orang memusuhi setan”. Untuk dimaklumi bersama, di tingkat pemula semua agama penuh larangan. Sekali lagi semua agama. Ia mirip melarang anak kecil memegang api, bermain pisau, memegang kabel listrik. Nanti bahaya.

Begitu tumbuh dewasa, apa lagi menjadi insinyur elektro, memegang kabel dan bekerja di tempat yang ada listrik, tidak ada yang melarang. Hal yang sama juga terjadi dengan pertumbuhan spirit di dalam. Begitu seseorang tumbuh dewasa, apa lagi bercahaya, gelap dan terang bukan dua kekuatan yang berperang. Tapi sepasang tangan dari tarian kesempurnaan yang sama.

Sahabat yang belajar astrobiology (kombinasi antara astronomi dan biologi) pasti sering mendengar, di alam semesta yang maha luas ini 70 % isinya adalah dark energy (energi gelap). Dengan persentase sebesar itu, bisa diramalkan siapa yang akan menang jika energi gelap itu diajak berperang. Yang diajarkan oleh jiwa-jiwa sempurna sederhana, bukan berperang, melainkan berpelukan.

Buddha adalah Avatara dengan jarak waktu terdekat dengan waktu kita. Sesaat menjelang pencerahan, beliau diserang oleh kekuatan gelap bernama setan mara. Seorang Guru besar dari Oxford menyimpulkan detik-detik berbahaya itu seperti ini: “In the moment whent Prince Siddharta accept satan mara as part of himself, from that moment he was no longer Prince Siddharta, he was a Buddha”.

Pelajarannya, sudah cukup bertumbuh menjadi seorang pemula. Yang manja hanya mau terang tidak mau gelap. Bimbing diri untuk tumbuh lebih dewasa. Bilamana perlu, buka pintu Cahaya. Sebagaimana disimbolkan oleh Cahaya listrik, ia tidak lahir dengan membuang yang negatif, tapi dengan mensintesiskan negatif-positif.

Langkah praktis meditatifnya, setiap kali dikunjungi energi gelap dan terang, kurangi menendang yang gelap, kurangi menggenggam yang terang. Duduklah di atas gelap-terang dengan cara menjadi saksi yang penuh harmoni. Kesedihan memang sejenis kegelapan, tapi tanpa kesedihan maka kebahagiaan tidak akan pernah dalam.

Kegagalan juga wajah lain dari energi gelap, namun tanpa melewati kegagalan, sukses mana pun akan terasa datar dan hambar. Ekonomi sekarang memang sedang tiarap, ia membuat miliaran manusia kehilangan pekerjaan. Ini juga sejenis energi gelap. Begitu ia nanti berlalu, di sana akan terasa betapa indahnya bisa punya pekerjaan.

Makanya, keluarga Compassion telah bertahun-tahun dibimbing seperti ini di sesi meditasi: “Terima, mengalir, senyum. Semua adalah tarian kesempurnaan yang sama”. Pesan lain yang sering dibagikan saat bimbingan meditasi: “Musim kemarau tidak mengurangi jumlah air di alam. Musim hujan tidak menambahkan air di alam. Demikian juga dengan sedih-senang. Bagikan senyuman jiwa yang indah”.

Sesungguhnya di semua agama ada jiwa-jiwa langka yang bisa sampai di sini. Di Hindu-Buddha jalan ini ditekuni oleh murid-murid Tantra. Orang Hindu menyebut tarian kesempurnaan ini dengan Nataraj. Orang Nyingma di Tantra Buddha menyebutnya dzogchen. Penekun Kagyu di Tantra Buddha menyebut ini mahamudra.

Apa pun namanya, ia tidak jauh dari penjelasan sederhana seperti ini. Sebagaimana sifat alami air yang basah, sebagaimana sifat alami bunga yang indah, sifat alami jiwa yang menyatu sempurna dengan tarian kesempurnaan, kesehariannya kaya dengan cinta kasih yang indah. Sebuah lagu tetua Bali bisa digunakan sebagai pedoman bertindak sesampai di sini.

Hidup seperti menyapu lantai. Sekarang disapu, sebentar kotor lagi. Dengan cara yang sama, kedamaian memang terus disebarkan. Pada saat yang sama, kekerasan juga ada yang menyebarkan. Penyebar kedamaian seperti tukang sapu. Penyebar kekerasan mirip debu dan sampah. Keduanya bagian dari tarian kesempurnaan yang sama.

Di keluarga Compassion, para sahabat yang telah sampai di sini diberi gelar S3 (senyum-senyum saja). Tatkala sedih-senang, kotor-suci terlihat sebagai tarian kesempurnaan yang sama, tidak ada lagi yang layak ditanyakan, tidak ada lagi yang layak diperdebatkan. Yang tersisa hanya sepasang sayap jiwa yang sangat indah: “silence and smile” (keheningan yang berkawan dengan senyuman).

Selamat datang di rumah sejati jiwa-jiwa yang indah!

Foto hasil karya Dewa Yoga di Ubud Bali. Dewa Yoga adalah keluarga dekat Compassion selama bertahun-tahun. Beliau bahkan pernah memberi Guruji lukisan Buddha Avalokitehvara yang masih bersinar terang sampai sekarang di Ashram di Bali Utara

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.