Kedamaian

Guru Kehidupan yang Paling Dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Sulit mengingkari, di tahun 2020 menuju 2021 ini bumi dilingkupi oleh banyak energi ketakutan. Dan akar terdalam dari semua ketakutan adalah ketakutan akan kematian. Untuk itu, di penghujung tahun 2020 ini, menuju tahun 2021 ada baiknya merenungkan kematian. Tidak untuk menakut-nakuti, tapi untuk ikut membuat bumi lebih harmoni.

Terutama karena begitu akar terdalam ketakutan bernama kematian dimengerti secara mendalam, ketakutan lain ikut melemah cengkramannya. Sahabat yang pernah menonton film Flat Line di HBO tahu, bagi orang biasa yang pikirannya tidak disentuh meditasi sama sekali, di saat kematian akan dikejar rasa bersalah. Dengan demikian, lebih awal para sahabat menyembuhkan rasa bersalah lebih baik.

Itu sebabnya, di sesi bimbingan meditasi para sahabat diajak untuk belajar memaafkan. Dan di putaran waktu ini, memaafkan adalah obat yang menyembuhkan banyak sekali sakit fisik, mental maupun spiritual. Bagi para sahabat yang belum paham soal ini, disarankan untuk menonton video-video bimbingan meditasi baik di youtube maupun di FB.

Di atap bumi Tibet, di tempat di mana ada Gunung Kailash (hulu banyak sungai suci, serta rumah Shiva tertinggi di muka bumi) pernah turun ajaran kematian. Ia turun melalui seorang Mahaguru yang sangat dihormati bernama Lama Padmasambawa. Beliau putera raja yang menolak jadi raja. Saat meniggalkan Tibet menghilang di arah Barat mengendarai Cahaya matahari.

Untuk membuat ceritanya singkat namun padat, ada beberapa jenis kematian. Pertama, ia yang bunuh diri. Menurut ajaran ini, tanpa proses panjang orang jenis ini lahir di alam setan kelaparan. Karena melakukan kesalahan berbahaya pada tubuh yang berisi banyak permata di alam ini. Kedua, ia yang wafat karena kecelakaaan dianjurkan untuk segera mempersembahkan apa saja yang dimiiliki.

Dari harta sampai perbuatan baik pada subyek yang disembah. Yang dibahas agak panjang adalah manusia yang wafat secara normal. Ketika seseorang wafat, bagian tubuh pertama yang menghilang adalah unsur tanah. Ia ditandai oleh perasaan ringan di dalam. Seringan kapas. Diantara hilangnya unsur tanah dengan unsur air, orang wafat melihat fatamorgana. Seperti air di atas aspal saat siang.

Ketika unsur air menghilang, tubuh yang mau wafat terasa haus. Makanya banyak orang mau wafat minta air. Antara hilangnya air dan api, seseorang melihat obor. Di kala unsur api hilang, ada gerakan hawa panas di tubuh. Jika seseorang akan lahir di alam bawah, gerakan hawa panasnya bergerak turun. Bila mau lahir di alam atas gerakan hawa panasnya naik.

Antara hilangnya api dan udara, yang mau wafat melihat kunang-kunang. Bagian terakhir adalah hilangnya unsur udara. Ditandai dengan nafas ke luar yang panjangnya tetap, tapi nafas masuk semakin lama semakin pendek. Sampai terakhir hilang. Di saat seperti itulah, Cahaya putih Ayah muncul dari atas, Cahaya merah Ibu muncul dari bawah. Keduanya berjumpa di ulu hati.

Jika seseorang berlatih dan diberkahi, di saat seperti itu ia bisa mengalami pencapaian spiritual. Bila tidak, perjalanan berlanjut ke alam bardo (alam di antara kematian dan kelahiran berikutnya). Bagi publik pemula, di alam bardo disarankan memanggil Guru. Di Hindu Gurunya Shivaji dengan melafalkan mantra Om Nama Shivaya. Di Buddha Mahayana disarankan memanggil Buddha Amitaba.

Sehingga oleh Buddha Amitaba seseorang diselamatkan agar terlahir di tanah suci di Barat bernama tanah suci Sukawati. Bagi penekun meditasi mendalam, disarankan memasuki keadaan Rigpa (tidak ada hal negatif yang perlu dibuang, tidak ada hal positif yang perlu digenggam). Apa pun yang muncul di alam bardo, sadari semuanya hanya muncul dan lenyap.

Bila tidak berhasil di alam bardo, seseorang akan dijemput oleh beberapa jenis Cahaya. Bagi ia yang tidak dibekali ajaran suci, secara alami akan ditarik oleh karmanya masing-masing. Bagi sahabat yang dibekali ajaran suci Tantra, disarankan mengikuti Cahaya berwarna biru yang membawa seseorang terlahir jadi manusia (tubuh paling bercahaya di alam ini).

Begitu waktunya tepat, orang ini akan berjumpa calon ayah dan Ibu yang berhubungan suami-istri. Jika akan lahir jadi anak perempuan, ia terangsang pada calon ayah. Bila akan lahir jadi anak laki, ia terangsang pada calon Ibunya. Seumpama praktik spritual seseorang di hidup ini sangat kuat, ia bisa menahan nafsu seks yang muncul. Sehingga bisa menutup pintu kelahiran.

Jika tidak bisa, ia akan masuk ke rahim Ibu dan jadi manusia. Agar jadi manusia yang lebih bercahaya, sebelum masuk ke rahim Ibu renungkan ajaran suci Bodhichitta. Semua mahluk pernah jadi Ibu kita. Ibu terakhir sedang menderita di alam samsara. Lahirlah ke alam samsara ini dengan niat mulya mau meringankan beban penderitaan semua mahluk.

Itu untuk orang biasa, bagi jiwa-jiwa yang Agung (di Hindu disebut Vyuthana, di Buddha disebut Bodhisatwa), mereka bersumpah untuk terus menerus terlahir sampai alam samsara ini kosong suatu hari nanti. Langkah masuknya juga serupa. Sebelum memasuki rahim Ibu merenungkan secara sangat mendalam ajaran suci Bodhichitta. Sehingga terlahir menjadi Guru yang membawa Cahaya.

Mudah-mudahan bisa menjadi Cahaya penerang bagi para sahabat dalam memasuki tahun 2021. Semoga semua mahluk berbahagia. Bebas dari segala derita.

Photo courtesy: Twitter

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.