Kedamaian

Jalan Indah Keikhlasan

Ditulis oleh Gede Prama

Ada saatnya dalam hidup, terutama di putaran krisis yang panjang, logika, rasa, pengetahuan, pengalaman, otak dan bahkan hati pun tidak menolong. Semuanya terasa dan terlihat gelap. Ketika wabah penyakit menyebar, sejumlah puskemas dan rumah sakit malah ditutup. Tatkala miliaran manusia kehilangan pekerjaan, ekonomi malah tiarap. Pada saat yang sama, paradoks dan kontradiksi muncul di mana-mana. Ia mengingatkan manusia pada ungkapan tua, ketika di luar miskin Cahaya, belajar menemukan Cahaya di dalam. Dan salah satu Cahaya indah yang tersedia di dalam, serta terbukti menyelamatkan umat manusia di sepanjang sejarah, ia bernama keikhlasan. Pembawa-pembawa Cahaya di zaman kita dari Kahlil Gibran, Jalaludin Rumi, Nelson Mandela, Bunda Teresa, Mahatma Gandhi sampai YMM Dalai Lama, semuanya pernah diselamatkan oleh Cahaya indah bernama keikhlasan.

Membersihkan penghalang

Agar jalan menuju keikhlasan lebih mudah terbuka, sebaiknya penghalang menuju ke sana dibersihkan terlebih dahulu. Salah satu penghalang penting dalam hal ini adalah rasa sakit, penyakit dan kematian. Ia tembok besar yang sulit ditembus oleh keikhlasan. Untuk itu, mari membuka jendela pengertian yang lebih sehat tentang rasa sakit, penyakit dan kematian. Untuk direnungkan para sahabat secara lebih dalam, penyakit dan rasa sakit bukan terbukanya pintu menuju kematian. Sekali lagi bukan! Tapi terbukanya pintu menuju perubahan. Begitu penyakit digunakan sebagai “bel suci” untuk berubah, penyakit bisa menjadi malaikat menyamar yang bisa membuat kehidupan jadi jauh lebih indah. Banyak yang telah membuktikannya. Langkah praktisnya, kenali apa yang dilarang oleh penyakit. Misalnya, jika terkena sakit gula, cepat mengubah diri untuk mengurangi mengkonsumsi gula. Bila sering terkena sakit kepala, kurangi terlalu keras berpikir. Setelah larangannya tidak dilanggar, ingat membaca pesan spiritual di balik penyakit.

Orang yang terkena sakit jantung dianjurkan untuk menyempurnakan cinta kasih. Ia yang sering sakit di wilayah mulut dan tenggorokan, bijaksanalah dalam menggunakan kata-kata. Teman-teman yang sering sakit di kaki, hati-hati melangkah dalam kehidupan. Jika sakitnya di sekitar punggung, belajar lebih tegak dan percaya diri dalam menjalani kehidupan. Selalu ingat, makanan yang tepat dan pas adalah obat tertinggi yang ada di alam ini. Disamping itu, perjalanan menyembuhkan diri adalah perjalanan bersahabat dengan diri sendiri. Bukan perjalanan yang penuh permusuhan dengan diri sendiri. Siapa saja yang tekun dan tulus di depan penyakit, terutama dengan memadukan antara disiplin tidak melakukan larangan penyakit, serta disiplin melaksanakan pesan spiritual di balik penyakit, suatu hari akan mengerti melalui pencapaian: “Pain is not a threat. It is an opportunity”. Rasa sakit dan penyakit bukan ancaman, melainkan kesempatan untuk melangkah balik menuju rumah Cahaya. Di Barat banyak yang menemukan kesimpulan seperti ini: “As you heal yourself, you will meet the brighter parts of yourself”. Begitu Anda berhasil menyembuhkan diri, Anda akan berjumpa wajah kehidupan yang jauh lebih bercahaya. Di atas semuanya, belajar menggunakan rasa sakit dan penyakit sebagai kunci utama untuk membuka pintu indah keikhlasan.

Jalan setapak menuju keikhlasan

Sebagaimana alam tidak bisa membuang sang malam, samudera tidak bisa membuang gelombang, mawar tidak bisa membuang duri, manusia juga tidak bisa membuang bad mood, kesedihan, rasa sakit, penyakit serta kematian. Kematian khususnya, ia bukan musuhnya kehidupan, melainkan mintra makna dari kehidupan. Di zaman kita, Guru besar psikologi dari Universitas Harvard bernama Susan David dalam mahakaryanya “Agile Emotion” sangat jernih dalam hal ini. Kebanyakan orang mengambil langkah tidak sehat ketika dikunjungi kegelapan di dalam seperti kesedihan dan kemalangan. Pertama-tama menghakimi orang luar sekaligus menghakimi diri di dalam. Kemudian lari menjauh dari kesedihan dan rasa sakit. Ada yang lari ke hiburan, ada yang lari ke obat penenang. Ujungnya, kegelapan di luar melahirkan kegelapan yang lebih besar di dalam. Indahnya keikhlasan, ia bisa membuat kegelapan di luar melahirkan Cahaya indah di dalam.

Untuk itu, setiap kali dikunjungi kesedihan atau rasa sakit, kurangi terlalu manja terus menerus lari menjauh. Latih diri untuk secara tekun dan tulus untuk “berdekapan” dengan ketidaknyamanan di dalam. Untuk direnungkan para sahabat, tidak ada kehidupan yang selalu nyaman. Bahkan jiwa-jiwa suci seperti Mahatma Gandhi dan Buddha pun mengalami banyak ketidaknyamanan. Langkah praktisnya, tumbuhlah bersama ketidaknyamanan. Lihat dan perlakukan ketidaknyamanan apa adanya. Sesederhana alam memperlakukan malam, sesimpel samudera tumbuh bersama gelombang, setenang mawar bertumbuh bersama dengan duri. Awalnya ada yang menolak di dalam. Dari penolakan keras seperti merasa bodoh dan dibodoh-bodohi orang lain sampai curiga sedang ditipu setan. Sampai penolakan halus seperti tidak masuk akal, sampai membenarkan diri dengan ayat-ayat suci yang mau menyamankan diri. Kendati demikian, teruslah latih diri untuk “berdekapan” indah dengan ketidaknyamanan. Gunakan rasa tidak nyaman seperti amplas yang sangat menghaluskan.

Siapa saja yang menghabiskan cukup banyak waktu berlatih seperti ini, pelan perlahan ada pintu pengertian sangat dalam yang akan terbuka di dalam. Kadang disebut the inner scriptures (buku suci di dalam diri). Buku suci unik yang ditulis hanya untuk diri Anda sendiri. Tanda-tanda awalnya, tubuh mulai menunjukkan wajahnya yang lebih bersahabat, kadang malah memberi tahu tentang the ultimate medicine (obat tertinggi yakni makanan yang tepat dan pas). Bad mood dan sedih memang tetap datang, tapi Anda bisa melihatnya seperti awan-awan yang numpang lewat. Memori buruk tentu saja masih datang, tapi ia menyimpan banyak sekali pelajaran. Masalah masih berkunjung, namun para sahabat bisa melihatnya sebagai nutrisi kedewasaan. Perasaan kadang-kadang masih gelisah, tapi di balik kegelisahan tersembunyi banyak hal indah. Yang paling dalam, jika bisa mengerti melalui pencapaian: “Pain, the gift that no body want”. Ketidaknyamanan dan rasa sakit adalah berkah spiritual yang dibuang oleh nyaris semua orang.

Sahabat-sahabat yang berhasil menyembuhkan dirinya di jalan keikhlasan, tidak sedikit yang bergumam seperti ini: “As you heal yourself, you will meet the brighter parts of yourself”. Seorang wanita India yang pernah mengalami mati suri sebentar bernama Anita Moorjani bercerita terang benderang: “Banyak rahasia Cahaya yang dibuka oleh penyakit dan rasa sakit”. Lebih dari itu, karena pernah mengalami rasa sakit hebat, bahkan pernah mati suri, Anita Moorjani berubah dari seorang wanita biasa menjadi seorang pembawa Cahaya bagi dunia. Presentasinya di situs youtube TED dikagumi banyak orang, nasehat-nasehatnya menyembuhkan dan menyelamatkan banyak orang. Pakar neuro-science dari Harvard bernama Jill Bolte Taylor serupa. Ahli otak yang dikagumi dunia ini pernah terkena stroke selama 8 tahun. Otak kirinya lumpuh. Yang mengagumkan, setelah sembuh wanita hebat ini bercerita sangat indah tentang misteri otak manusia. Tidak saja berdasarkan penelitian di laboratorium, tapi juga berdasarkan pengalaman langsung dari dalam. Ringkasnya, inilah yang disebut jalan indah keikhlasan. Keikhlasan membawa jauh lebih banyak Cahaya dibandingkan kepintaran. Itu bisa terjadi jika para sahabat berdekapan mesra dengan ketidaknyamaman, rasa sakit dan penyakit. Penyembuh tingkat dunia Louse Hay jelas sekali mewartakan, di balik setiap rasa sakit selalu tersembunyi penolakan akan diri. Dokter terkenal sekaligus pakar Ayurveda Deepak Chopra terang sekali bercerita, akar terdalam dari semua rasa sakit dan penyakit adalah luka jiwa dan trauma dari masa kecil. Berita baiknya, ini bisa disembuhkan oleh keikhlasan.

Ikhlas sempurna di depan ke-u-Tuhan

Untuk membantu para sahabat agar sehat selamat, mari menjumpai wajah keikhlasan yang jauh lebih sempurna. Yakni ikhlas di depan ke-u-Tuhan (whole). Di dunia ilmu pengetahuan, tokoh-tokoh yang berada di depan bernama fisikawan David Bohm dan Fritjof Capra, psikolog terkenal dari Harvard bernama Daniel Goleman dan Susan David, sampai antropolog sosial terkenal bernama Gregory Bateson. David Bohm dalam mahakaryanya berjudul “Health and the implicate order” bahkan jelas sekali menyimpulkan, kata health (kesehatan) berasal dari kata whole (ke-u-Tuhan). Di filospi Timur, kesempurnaan digambarkan dalam bentuk lingkaran utuh dan sempurna. Ia disebut Mandala. Tetua di China paling jernih dalam hal ini dengan melahirkan lingkaran cantik Yin-Yang. Baik di alam luar maupun di alam di dalam, ada sisi gelap dan ada sisi terang. Di bagian gelap ada hal terang, di bagian terang ada sisi gelap. Dalam bahasa tetua Bali: “Rwa bhinedane tampi”. Belajar menerima dan bersahabat dengan semua jenis dualitas seperti buruk-baik, sedih-senang, duka-suka. Guru meditasi sangat mengagumkan di zaman kita bernama YA Thich Nhat Hand memperkenalkan pendekatan “inter-being”. Di balik hal yang salah ada yang benar. Di balik kesedihan ada kebahagiaan mendalam. Begitu mengerti “inter-being”, pikiran langsung istirahat secara sempurna.

Langkah praktis dan aplikatifnya, latih diri bertumbuh dari “dunia sebagaimana yang diinginkan” menuju “dunia sebagaimana adanya”. Untuk direnungkan para sahabat, siapa saja yang memenuhi keinginan secara berlebihan, suatu hari akan menjadi orang asing dalam tubuh sendiri (alienated soul). Menjadi orang lain dalam tubuh sendiri. Di sini salah di sana salah. Kaya bikin gelisah, miskin juga bikin gelisah. Inilah benih-benih kecelakaan hidup seperti bunuh diri dan penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Undangannya, mari bertumbuh ke wilayah indah bernama “melihat dunia sebagaimana adanya”. Ikan berenang di air, burung terbang di udara. Lotus mekar indah di kolam basah, kamboja mekar indah di tanah kering. Keduanya berbeda, tapi keduanya bahagia dan sempurna “apa adanya”. Inilah pintu pembuka menuju keikhlasan di depan ke-u-Tuhan. Sekaligus langkah indah untuk tumbuh alami. Sealami burung di udara, sealami lotus di lumpur yang basah. Sekaligus melangkah menjauh dari kemungkinan menjadi orang asing dalam tubuh sendiri (alienated soul). Dan melangkah menjauh dari kemungkinan mengalami kecelakaan kehidupan seperti bunuh diri dan penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan.

Sebagai bekal melangkah dalam keseharian, meditasi dalam artian luas (tidak saja duduk, diam serta menutup mata) akan sangat membantu dalam hal ini. Intinya adalah bersentuhan dengan jeda (gap). Ketika mendengarkan suara apa saja, mengalami apa saja, gunakan ia sebagai bel suci untuk bersentuhan dengan jeda diantara dua nafas. Diantara nafas masuk dan nafas keluar. Tatkala dikunjungi memori ini dan memori itu, rasakan jeda diantara dua memori. Saat mendengar suara apa saja, dengarkan jeda diantara dua suara. Sebut saja mendengar anak-anak bernyanyi lagu: “Do re mi fa sol…”. Antara suara do dan re, antara suara re dan mi ada jeda sepersekian detik. Manakala para sahabat berjalan kaki, rasakan jeda diantara dua langkah kaki. Di waktu ketika pikiran memikirkan ini dan itu, diantara dua pikiran ada jeda. Saat perasaan berubah-ubah, diantara dua perasaan juga ada jeda. Intinya, gunakan jeda untuk menyatu dengan saat ini. Gunakan jeda sebagai kunci untuk membuka “dunia sebagaimana adanya”. Selebihnya hanya praktik yang menyempurnakan. Praktik jenis ini tidak saja membuka pintu kesembuhan, tidak saja membimbing menuju kedamaian, tapi juga membuka rahasia kesempurnaan. Dalam bahasa indah pujangga besar Rumi: “Silence is the only language of God. The rest is only poor translation”. Keheningan adalah satu-satunya bahasa Tuhan. Selebihnya hanya kekeliruan dalam penterjemahan. Sehingga bisa dimaklumi jika tetua Bali merayakan tahun baru dengan hari raya Nyepi. Memberi nama Tuhan dengan sebutan Sang Hyang Embang (Yang Maha Sunyi). The ultimate silence.

***) Ini ringkasan cerita yang akan disampaikan di perayaan Compassion Day (hari belas kasih) tahun ini secara live. Dari tanggal 28/2 sampai dengan 1/3 2021. Ringkasan ini dibuat untuk membantu para sahabat yang kurang paham dengan bahasa Inggris, karena Guruji akan menyampaikan pesannya dalam bahasa Inggris

Photo by bady abbas on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.