Kedamaian

Hutan di Luar, Hutan di Dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Sulit mengingkari, sebab penting kenapa bumi semenyentuh sekarang karena di mana-mana hutan dilukai. Salah satu bukti akuratnya, virus corona menyebar sangat hebat di tempat pemukiman yang padat. Implisit berarti, di sana banyak hutan dilukai. Sebuah statistik membuka rahasia, negara-negara pengguna tisu terbesar seperti AS juga menjadi korban terbesar.

Sekali lagi, tisu adalah tanda hutan terlukai. Bukti lain, keramaian adalah tempat yang sangat ditakuti di zaman ini. Lagi-lagi bercerita tentang pentingnya hutan yang sepi. Ajakannya untuk para sahabat, ketika hutan di luar semakin langka, mari belajar merawat hutan di dalam. Dalam bahasa Inggris, hutan disebut forest. Jika dibagi menjadi dua ia menjadi for rest (tempat isrirahat).

Agar bisa menemukan tempat istirahat di dalam (baca: hutan di dalam), sebaiknya membaca Guru simbolik berupa penyakit obesitas (kegemukan) serta penyakit diabetes (gula), yang menjadi pembunuh papan atas di zaman ini. Pesan simbolik yang mau disampaikan, jika di zaman serba kekurangan dulu manusia menjadi sehat dengan banyak memasukkan makanan ke mulut, zaman ini lain lagi.

Di zaman ini, para sahabat diundang untuk memasukkan lebih sedikit makanan ke dalam. Bahkan Guru besar genetika dari Universitasi Harvard bernama David Synclair, sekaligus tokoh paling berpengaruh dalam memperpanjang umur manusia di zaman ini, juga menyarankan untuk makan besar (nasi, lauk, sayur, dll) cukup sekali sehari. Guruji juga telah melaksanakannya lebih dari 10 tahun.

Begitu makanan yang masuk melalui mulut lebih sedikit, secara alami makanan yang masuk melalui pikiran dan perasaan juga lebih sedikit. Terutama karena hawa nafsu di tubuh berkaitan dengan gerakan energi di pikiran dan perasaan. Untuk itu, bagus jika bisa merawat diri dengan memasukkan lebih sedikit makanan melalui pikiran dan perasaan.

Dari menonton lebih sedikit berita yang mengacaukan, lebih sedikit menggunakan ajaran suci dan pelajaran di perguruan tinggi untuk menghakimi orang lain, sampai lebih sedikit bergaul di lingkungan yang berisi terlalu banyak persaingan berlebihan serta saling menjatuhkan. Dalam bahasa YMM Dalai Lama: “Religion is not here to attack the others, but to purify the inner soul”.

Agama bukan senjata untuk menyerang orang di luar, melainkan Tirtha (air suci) untuk memurnikan jiwa di dalam. Dibimbing oleh pengertian indah jenis ini, kemudian ingat merawat hutan di dalam. Kata kuncinya, istirahatlah di saat ini apa adanya. Kurangi menggunakan ajaran suci untuk menghakimi. Kurangi menggunakan ukuran ideal dari waktu lain untuk menghakimi saat ini.

Dalam bahasa indah Confusius: “Bila orang terlihat benar, tauladani mereka. Jika orang terlihat salah, periksa pikiran di dalam”. Sambil ingat, organ tubuh manusia (mata, telinga, pikiran, perasaan) bukan cermin bersih yang bisa memantulkan realitas apa adanya. Apa yang dilihat oleh mata adalah hasil interaksi rumit antara kerumitan di luar dengan kerumitan di dalam.

Dengan demikian, ketika orang terlihat kurang berkenan, tidak perlu buru-buru menyebutnya sesat. Sadari sedalam-dalamnya, judul tidak positif yang datang dari pikiran juga dipengaruhi oleh kekotoran di dalam. Dibandingkan memamerkan kemarahan ke luar, atau mengundang lebih banyak serangan dari luar, lebih disarankan untuk mengistirahatkan pikiran di dalam.

Hanya tatkala kolam tenang, maka bunga lotus bisa mekar indah. Hanya ketika pikiran (perasaan) tenang-seimbang, maka jiwa di dalam bisa mekar indah. Dengan demikian, tugas terpenting untuk merawat hutan di dalam adalah mempertahankan pikiran yang selalu tenang dan seimbang. Keadaan pikiran seperti inilah yang mau dicapai melalui meditasi mendalam.

Menyegarkan ingatan para sahabat di sesi-sesi bimbingan meditasi, sebagaimana alam tidak bisa membuang sang malam, sebagaimana samudera tidak bisa membuang gelombang, sebagaimana mawar tidak bisa membuang duri, manusia juga tidak bisa membuang kesedihan dari kebahagiaan, tidak bisa membuang dukacita dari sukacita. Keduanya bersandingan secara alami.

Makanya, di kelas-kelas meditasi para sahabat telah lama dibimbing seperti ini: “Meditasi menyembuhkan dan mendamaikan tidak dengan membuang yang negatif, tidak dengan menambahkan hal positif, melainkan dengan cara istirahat di saat ini apa adanya”. Siapa saja yang tekun di jalan ini, suatu hari akan bisa memiliki hutan menentramkan di dalam.

Psikolog terkemuka Carl Jung adalah salah satu orang yang telah sampai di sini: “Those who seek outside dream, those who rediscover inside awake”. Ia yang mencari di luar rawan kecewa. Karena dunia di luar mirip mimpi. Ia yang menemukan di dalam, itulah jiwa yang telah bangun. Di India Kuno orang terbangun diberi sebutan Buddha (jiwa yang tercerahkan secara sempurna).

Jika itu kelihatannya terlalu tinggi untuk dicapai, pikiran yang istirahat (baca: hutan di dalam) membuat energi bocor lebih sedikit, kekebalan tubuh membaik, konflik lebih sedikit. Sehingga otak tidak perlu melahirkan hormon neraka seperti cortisol, serta melepaskan lebihnya banyak hormon pertumbuhan seperti dopamin. Ringkasnya, makannya enak tidurnya nyenyak.

Keterangan foto: Guruji sedang “bertapa” di sebuah kawasan hutan di Bali Timur. Foto diambil oleh Ibu (istri Guruji)

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.