Kedamaian

Dialog ke dalam di Ashram Avalokiteshvara di perbukitan Bali Utara

Ditulis oleh Gede Prama

Kesedihan di dalam: Pulau Bali sangat menyentuh hati. Sudah ekonomi sangat menyedihkan, sekarang agama tetua dihina orang di depan umum. Apakah kami yang lahir di Bali saat ini punya kesalahan yang demikian besar sehingga harus mengalami rasa sakit yang demikian hebat?

Guru di dalam: Itu cara pandang zaman dulu. Di mana rasa sakit dikaitkan dengan kesalahan dan dosa. Kurangi mengukur hari ini dengan ukuran zaman dulu. Ukurlah hari ini dengan ukuran hari ini. Tidak apa-apa, kesedihan sedang bercerita banyak, bahwa di dalam masih tersisa banyak mutiara dan permata spiritual. Ekspresikanlah kesedihan secara sehat. Berdialog seperti ini adalah salah satu cara mengekspresikan kesedihan secara sehat.

Kesedihan di dalam: Lantas ukuran apa yang sebaiknya digunakan untuk mengukur hari ini. Sehingga para sahabat bisa lebih tenang. Setidaknya tidak menjawab kemarahan dengan kemarahan.

Guru di dalam: Sebagaimana salah satu simbol penting yang Anda wariskan di Ashram tempat Anda bermukim yang bernama Sarwa Mandala. Ajak orang-orang untuk melihat, apa pun yang terjadi di alam ini adalah bagian dari tarian kesempurnaan yang sama. Di Hindu ada Nataraj. Di Buddha ada Buddha belaskasih Avalokiteshvara yang bertangan seribu. Rasa sakit, sebagaimana sering Anda bagikan, sedang membuat para sahabat menjadi salah satu tangan suci Buddha Avalokiteshvara. Yakni meringankan beban penderitaan di alam ini.

Kesedihan di dalam: Tidak banyak orang yang bisa diajak memandang kehidupan seperti itu. Rela sakit untuk meringankan beban penderitaan di alam ini.

Guru di dalam: Sejak zaman dulu pembawa Cahaya selalu tidak banyak jumlahnya. Tapi yang sangat sedikit itulah yang menyelamatkan keadaan. Ajaklah orang-orang yang jumlahnya sedikit itu untuk menjalani rasa sakit setulus dan sehalus mungkin. Sebagaimana diajarkan ilmu statistika, sebagian wajah kehidupan memang mirip zero sum of game. Agar ada yang senang, harus ada yang sedih. Dan pulau Bali beserta orang-orang yang tulus menjalani rasa sakit sedang menjaga keseimbangan alam. Dan itu mulya sekali. Ingat cerita Anda tentang burung putih di salju.

Kesedihan di dalam: Boleh diceritakan ke para sahabat agar lebih semangat menjalani rasa sakit, apa itu burung putih di salju?

Guru di dalam: Anda ada di tengah keramaian menjaga keseimbangan alam, tapi sangat sedikit yang tahu bahwa Anda sedang melakukan tugas mulya itu. Dan ceritakan ke generasi baru orang Bali, tetua Bali zaman dulu sangat metaksu (berkarisma, bercahaya) karena mengambil jalan sebagai burung putih di salju. Ada banyak sekali karya sastra yang Agung, yang masih membimbing sampai hari ini, tidak pakai nama. Tidak pernah diketahui siapa penulisnya. Itu persisnya yang disebut burung putih di salju.

Kesedihan di dalam: Agar generasi baru percaya, bisa disebutkan beberapa contoh zaman dulu yang membuat Bali berwibawa dan berkarisma?

Guru di dalam: Di tahun 1978, ada orang luar yang berniat mau meledakkan bom di Bali. Bomnya meledak di bus malam di sebuah kota di Jawa Timur. Penyair besar India Rabindranath Tagore pernah datang ke Bali. Lidah beliau kurang panjang untuk bisa menjelaskan keindahan pulau Bali. Yang baru saja terjadi, jika bom teroris yang meledak di AS di tahun 2001 diikuti tembakan banyak peluru tentara AS di Irak dan Afganistan, di Bali tidak ada satu pun batu kecil yang dilemparkan ke rumah orang bukan orang Bali. Tidak lama kemudian, media dunia berkali-kali (sekali lagi media dunia) menyebut Bali sebagai pulau terindah di dunia. Penulis terkenal dari AS bernama Elizabeth Gilbert bahkan bercerita ke seluruh dunia melalui buku laris dan film laris. Kesimpulannya jelas dan terang: “Bali adalah pulau cinta kasih”.

Kesedihan di dalam: Dengan kata lain, kuncinya adalah menyimpan mutiara dan permata spiritual di dalam.

Guru di dalam: Anda benar. Perhatikan orang-orang yang berpunya secara material di Bali. Dari dulu hingga kini. Jarang mereka memamerkan terlalu banyak hal di luar. Sebagian lebih penampilannya bahkan dikira orang tidak punya. Kabarkan ke orang Bali, begitu penampilan luar disederhanakan, maka permata dan mutiara di dalam akan memancar. Kurangi mengungkapkan diri melalui kata-kata (apa lagi yang penuh kemarahan), ungkapkanlah dalam bentuk keteladanan. Bisa tidak marah pada serangan orang, itu bahasa keteladanan yang akan dikagumi orang. Apa lagi bisa bercerita indah tentang orang yang menyerang, diam-diam orang akan kagum.

Kesedihan di dalam: Agar dialognya tidak terlalu panjang, karena banyak orang tidak menyukai yang terlalu panjang, apa yang sebaiknya dilakukan orang Bali agar sehat selamat?

Guru di dalam: Dari dulu pulau ini selamat karena jalan bhakti. Di Pura Luhur Uluwatu yang terawat rapi, di sana terlihat bhakti orang Bali pada Ida Danghyang Dwi Jendra. Di Pura Agung Besakih yang juga dirawat rapi, di sana terlihat bhakti orang Bali pada Rsi Markandya. Tapi di Pura Luhur Silayukti terlihat kualitas bhakti yang perlu diperbaiki. Puranya dalam jarak dekat dikepung oleh hotel dan karaoke. Ingatkan orang Bali, tokoh Agung yang mendirikan desa pakraman, yang membangun Pura Dalem, Pura Puseh dan Pura Bale Agung adalah Ida Guru besar Mpu Kuturan. Beliau mendarat dan lebar di Pura Silayukti. Di Pura merajan orang Bali terlihat simbol kijang. Itu kendaraan suci Guru besar Mpu Kuturan ketika datang ke Bali. Tidak kebayang nasib pulau Bali seribu tahun terakhir jika tanpa desa pekraman, tidak kebayang ruwetnya pulau Bali jika tanpa Pura Dalem, Pura Puseh dan Pura Bale Agung. Untuk dicatat rapi oleh generasi muda Bali, kendati beliau seorang pendeta Buddha Mahayana, Bali yang ricuh ketika itu tidak di-Buddha-kan. Tapi semua orang dibikinkan tempat memuja sesuai keyakinan masing-masing. Dan wawasan Agung seperti itu lahir seribu tahun yang lalu. Sebagaimana kerap Anda bagikan: “Penderitaan mirip daun kering, ajaran suci serupa cahaya matahari. Bhakti mendalam pada Guru sejati adalah kaca pembesar yang diletakkan diantara keduanya”

Kesedihan di dalam: Terimakasih secara sangat dalam. Maafkan kami yang bodoh-bodoh ini.

Keterangan foto: Gambar tiga pojokan Ashram Avalokiteshvara pagi ini ketika dialog ini dilakukan. Lingkaran teratas bernama Sarwa Mandala.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.