Kedamaian

Kidung Penuh Harmoni dari Bali

Ditulis oleh Gede Prama

Menyusul hebohnya cerita wanita Bali yang menghina agama tetua Bali, banyak anak muda yang bertanya di alam doa: “Apakah benar di pulau Bali ada banyak setan?”. Sebuah pertanyaan yang manusiawi. Untuk direnungkan para sahabat, ketika seseorang melihat alam, ia tidak saja sedang melihat alam di luar, tapi juga sedang menemukan dirinya di dalam.

Sebut saja ketika melihat mawar mekar. Bagi anak-anak yang diracuni orang tuanya dengan cerita bahwa mawar bisa melukai, mawar itu mirip setan yang ditakuti. Tapi bagi jiwa-jiwa yang dalam, mawar itu salah satu wakil kesempurnaan di alam ini. Kelopak bunga mawar mewakili kelebihan, duri mewakili kekurangan. Keduanya membentuk kesempurnaan.

J. Krishnamurti menyebut ini sebagai the conditioned self (diri yang dikondisikan). Sebelum mengalami pencerahan sempurna, semua manusia dikondisikan oleh ini dan itu. Dengan demikian, ketika seseorang melihat hal-hal yang seram menakutkan, judul yang keluar dari bibir yang bersangkutan bercerita tentang pengkondisian yang terjadi di dalam dirinya. Sejujurnya alam itu netral.

Ular sebagai contoh, tubuh manusia secara alami bukan makanan ular. Asal mereka tidak diganggu, ular tidak membahayakan. Tapi jika diinjak, tentu saja ular bereaksi dengan menggigit. Hal yang sama juga terjadi dengan mahluk-mahluk yang baju luarnya menakutkan orang awam. Dengan meminta maaf secara mendalam pada Guru rahasia, dibukakan cerita di forum ini.

Sebagai seseorang yang pernah bertapa bertahun-tahun di hutan sendirian di Bali, mahluk-mahluk seram itu ada. Sekali lagi ada. Ada ular berkepala ayam, ada ular yang bisa terbang, sampai wanita berambut panjang dengan kaki yang tidak menyentuh tanah. Dengan kejujujuran yang paling jujur harus diceritakan, mereka semua tidak pernah mengganggu. Apa lagi melukai.

Sekali lagi tidak pernah!. Sebagaimana disaksikan langsung oleh puluhan murid meditasi, kelas meditasi kami pernah didatangi seorang wanita tua asli Bali yang penampilannya mirip dengan rangda (baca: salah satu wajah yang sangat ditakuti di Bali). Sebut saja nama samaran wanita ini Mbok Nyoman. Nyaris semua peserta sudah permisi mau pulang karena takut.

Ketika ditanya oleh seorang sahabat Ustad dari Jawa Timur, doa apa yang Mbok Nyoman bisikkan koq teman-teman pada takut semuanya, dengan nada bicara yang tinggi serta tidak bersahabat, Mbok Nyoman menjawab seperti ini: “Mendoakan kalian semua agar cepat mati”. Karena pak Ustad ikut takut, beliau ketemu Guruji bercerita tentang ketakutan teman-teman.

Begitu Mbok Nyoman didekati, diajak bicara, belakangan bahkan dipeluk oleh Guruji persis seperti memeluk Ibu kandung sendiri, Mbok Nyoman tidak saja tidak menimbulkan masalah, bahkan beberapa kali datang ke Ashram tempat Guruji bermukim membawa persembahan. Ditemani oleh Ibu (istri Guruji), mbok Nyoman berdoa di Ashram khusuk sekali. Vibrasi doanya bagus sekali.

Pelajarannya, salah satu filsuf Jerman benar ketika menulis: “Apa yang ditemukan manusia di bumi adalah keindahan hatinya”. Jika hati seseorang indah, semua mahluk tersenyum indah. Konflik akan terjadi, jika sebuah tempat dengan vibrasi tingkat tinggi diperkosa dengan ukuran-ukuran publik pemula. Bagi anak kecil listrik memang berbahaya, tapi bagi orang dewasa listrik adalah sumber Cahaya.

Hal yang sama juga terjadi dengan mahluk yang ditakuti orang kebanyakan, jika seseorang penakut, apa lagi takut berlebihan, langkah terbaik memang menjauh. Terutama karena tubuh yang takut berlebihan melepaskan adrenalin. Adrenalin ini dicium oleh mahluk-mahluk seram itu sebagai tanda bahwa seseorang akan menyerang. Tentu saja mereka menyerang balik sebagai langkah membela diri.

Cerita akan jadi lain kalau seseorang sudah terbiasa tinggal sendiri di hutan bertahun-tahun. Terbiasa juga menjaga diri dengan ke-u-Tuhan. Mahluk-mahluk seram itu mirip pria bertato, serupa wanita yang mengenakan rok pendek. Tidak semua wanita yang mengenakan rok pendek nakal, tidak semua pria bertato jahat. Demikian juga dengan mahluk-mahluk dengan baju luar yang menyeramkan.

Sebaliknya, harmoni di alam ini akan terjadi jika seseorang merawat mahluk-mahluk seram itu seperti merawat tubuh sendiri. Penunggun Karang (rumah untuk mahluk yang seram itu) dan segehan (makanan untuk mereka) yang diwariskan tetua Bali lahir dari kearifan spiritual yang mengagumkan. Hanya ia yang telah berumah di rumah indah ke-u-Tuhan yang bisa melahirkan ide brilian seperti itu.

Di Ashram tempat Guruji bermukim ada dua Penunggun Karang, setiap kali Guruji mau menyediakan kopi susu untuk mereka, spirit di Ashram sering berbisik seperti ini: “Do it because you are full of love to them. Don’t do it if you are full of fear to them”. Lakukan itu karena Anda mencintai mereka, bukan karena Anda takut berlebihan pada mereka. Hasilnya berbeda jauh sekali.

Inilah yang dimaksud kidung penuh harmoni dari Bali. Jika menggunakan bahasa ilmu pengetahuan, bahkan setelah mengalami pencerahan pun (baca: gelombang otak gamma), di dalam masih ada gelombang. Makanya tetua Bali secara arif menyebut jiwa manusia “dewa ya kala ya”. Di dalam diri manusia ada gelap sekaligus terang. Bagi pemula, gelap itu musuhnya terang.

Tapi bagi jiwa-jiwa bercahaya, tanpa kegelapan Cahaya akan menghilang. Tanpa kekerasan, manusia tidak akan rindu menemukan kedamaian. Kesimpulannya, tersenyumlah pada orang yang menyebut pulau Bali berisi banyak setan. Dari malam yang gelap sering terlahir matahari terbit yang sangat indah. Sehabis ini, percayalah, akan terbit matahari penuh harmoni dari Bali.

Photo by Camille Bismonte on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.