Kedamaian

Kebahagiaan Yang Lebih Dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Kebahagiaan telah menjadi nutrisi spiritual yang paling dicari. Entah berapa jumlah uang yang digunakan umat manusia hanya untuk membuat dirinya bahagia. Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) bahkan melakukan peringkat negara bahagia tiap tahunnya. Buthan telah sejak tahun1972 meninggalkan jumlah barang yang dihasilkan (GNP) sebagai ukuran keberhasilan negara.

Kemudian menggantinya dengan ukuran kebahagiaan. Kendati demikian, belum ada kesepakatan final tentang apa itu kebahagiaan. Para sahabat boleh punya pengertian lain, dari sumber yang juga lain. Sekali lagi boleh. Pengalaman Guruji bermeditasi nyaris setiap pagi di Ashram bercerita wajah kebahagiaan yang layak direnungkan oleh para sahabat.

Apa yang disebut banyak orang sebagai kebahagiaan ternyata cara pikiran (mind) berespon pada hal-hal yang menyenangkan dari luar. Dari pujian orang sampai dapat uang. Apa yang disebut banyak orang sebagai kesedihan ternyata cara pikiran berespon terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan dari luar. Dari cacian orang sampai tidak bisa membayar cicilan hutang.

Di putaran waktu ketika tidak ada respon sama sekali dari luar, di sana pikiran melahirkan perasaan datar, bosan, kadang-kadang bad mood. Kemarahan sebagai energi yang dibenci nyaris semua orang sering lahir di posisi 2 dan 3 (respon dari luar negatif, atau tidak ada respon sama sekali). Yang sangat jarang bisa dicapai orang adalah titik ke empat (4).

Di pilosofi Timur disebut sebagai Nirvikalpa Samadhi. Seseorang tidak tersentuh dengan posisi 1 (ada respon menyenangkan dari luar), tidak juga tersentuh dengan posisi 2 dan 3. Yang tersisa hanya seorang saksi. Simbol di alam yang dekat dalam hal ini adalah ruang dan langit. Sebagaimana ruang dan langit yang bisa memberi tempat pada apa saja, begitu juga dengan Nirvikalpa Samadhi.

Jenis kebahagiaan inilah yang tidak bisa dicuri siapa pun dan tidak bisa dicuri oleh apa pun. Dalam bahasa neuro-science (otak manusia), seseorang memasuki gelombang otak gamma. Ia lebih dalam dari tidur yang dalam (deep sleep, delta sleep). Tidak mungkin menceritakan indahnya bunga pada orang yang tidak pernah melihat bunga, demikian juga Nirvikalpa Samadhi.

Tidak mungkin menceritakan Nirvikalpa Samadhi pada orang yang tidak pernah menyentuh angka 4. Lebih-lebih sering tenggelam di angka 2 dan angka 3. Ia mirip menceritakan rasa pisang pada orang yang tidak pernah makan pisang. Lembek mirip mentega, tapi manis seperti gula. Jadi, pisang sama dengan mentega dicampun gula? Jokosembung naik sekuter. Tidak nyambung dan muter-muter.

Makanya jiwa-jiwa Agung zaman dulu lebih sering istirahat di Nirvikalpa Samadhi, memilih lebih banyak diam dan hening. Tidak saja rawan disalah mengerti, tapi kata-kata akan sangat mengotori. Tidak kebetulan kemudian jika tetua Bali memberi angka 4 pada kepala pulau Bali (Bali Utara). Di India kuno, India Utara disebut Uttara Kuru (Great place of peace and harmony).

Tempat Agung untuk kedamaian dan harmoni. Bahan renungannya kemudian, terutama untuk sahabat-sahabat di Bali yang sedih karena begini karena begitu, saat pariwisata memuncak lebih-lebih Bali disebut sebagai pulau terindah di dunia, Bali memasuki posisi 1. Ketika wisatawan tidak datang, pekerjaan menghilang, agama tetua dihina orang, itu posisi 2.

Saat datar, bosan dan hambar karena kehidupan terasa begitu-begitu saja, itu posisi 3. Agar perjalanan jiwa terangkat naik, sesulit apa pun rasanya, belajar memasuki angka 4. Agar pelan perlahan belajar memasuki gerbang kedamaian dan harmoni yang Agung. Tetua Bali menyebutnya Parama Shanti (kedamaian yang maha utama). Damai di bawah, damai di tengah, damai di atas.

Sesampai di sini, tidak ada kejadian luar dan orang luar yang bisa mencuri kebahagiaan di dalam. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang alami. Sealami air yang basah. Sealami bunga yang indah. Siapa yang bisa memisahkan air dengan basah. Siapa yang bisa memisahkan bunga dengan keindahan. Itulah kebahagiaan yang lebih dalam (baca: Nirvikalpa Samadhi, Uttara Kuru).

Pusat layanan gratis (tanpa bayar) keluarga spiritual Compassion:
P3A (Pusat Pelayanan Perawatan Anak berkebutuhan khusus)
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri)
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian)
082335555644 (Telkomsel)
081999162555 (XL)
085857536536 (Indosat)

Photo by Chris Ensey on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.