Kedamaian

Dialog ke dalam di Ashram Avalokiteshvara: Air mancur kejernihan dari Bali

Ditulis oleh Gede Prama

Penanya: Dunia sedang super rumit. Jika tidak dilarang pemerintah, manusia bisa wafat karena virus. Pada saat yang sama karena gerak manusia dibatasi, ekonomi di bawah menyentuh hati. Sehingga orang bisa wafat karena kelaparan. Apa yang ada di balik fenomena super rumit seperti ini?

Guru di dalam: Manusia menciptakan banyak sekali hal, sekarang ia dibikin super rumit oleh ciptaannya sendiri. Khususnya teknologi. Awalnya, teknologi duduk di bawah sebagai pelayan. Sekarang ia duduk pongah di atas sebagai tuan. Teknologi yang duduk pongah di atas, kemudian bersekongkol dengan segelintir orang yang mengeruk keuntungan

Penanya: Apa yang sebaiknya dilakukan agar lebih banyak manusia yang sehat dan selamat?

Guru di dalam: Di tengah kegelapan yang dibutuhkan adalah Cahaya, di tengah musim panas yang menyengat yang dibutuhkan adalah air yang sejuk. Dengan cara yang sama, di tengah kerumitan yang dibutuhkan adalah kejernihan. Langkah jernihnya, keluar dulu dari kepanikan. Kemudian ajak orang-orang untuk kembali ke hal-hal yang mendasar.

Penanya: Bisa diterangkan lebih jelas tentang kepanikan orang di mana-mana?

Guru di dalam: Orang-orang panik itu mirip manusia yang takut berlebihan sama ular. Sehingga setiap tali yang paling kecil pun melepaskan adrenalin berlebihan di dalam. Adrenalin yang berlebihan dicium oleh alam-alam seram menakutkan itu sebagai energi yang dikira mau menyerang. Karena mereka merasa mau diserang, sebagian menyerang duluan. Ujungnya tentu saja jadi super rumit seperti ini. Keadaan jadi super rumit karena ada segelintir orang yang mau meraup keuntungan super besar dari kepanikan jenis ini. Orang-orang takut berlebihan itu ditakut-takuti dengan terlalu banyak hoax (berita bohong).

Penanya: Jika demikian, apa yang paling dibutuhkan agar orang-orang cepat keluar dari kepanikan?

Guru di dalam: Umat manusia memerlukan tokoh-tokoh yang super jernih dalam memandang kerumitan. Maksudnya, berjaraklah secara sehat dengan kerumitan ini. Soal manusia wafat, di sepanjang waktu ada orang wafat. Dan itu sangat alami. Wajah lain kejernihan, lebih baik tahu sedikit tapi menyelamatkan, dibandingkan tahu terlalu banyak tapi mengacaukan. Dan diantara semua kejernihan, yang paling jernih adalah ini: “Virus tidak membunuh. Kekebalan tubuh yang menurunlah yang membuat virus membunuh”. Ajak pihak-pihak yang tertarik menjernihkan keadaan untuk berkonsentrasi pada satu hal sangat mendasar yakni menjaga kekebalan tubuh. Dari sana banyak pintu akan terbuka.

Penanya: Bisa lebih detail lagi soal kekebalan tubuh, agar orang-orang bisa sehat selamat

Guru di dalam: Anda sudah tahu sendiri, ada kekebalan tubuh yang secara alami ada di dalam (innate), ada juga kekebalan tubuh yang bisa diperoleh dari luar (acquired). Sedihnya, yang dihancurkan oleh berita-berita bohong yang melahirkan kepanikan itu adalah kekebalan tubuh yang ada di dalam. Pikiran yang panik dan kalut membocorkan terlalu banyak energi. Tubuh yang kekurangan terlalu banyak energi itulah yang membuka pintu bagi kekebalan tubuh yang menurun drastis. Sehingga langkah pertamanya, belajar menjadi pahlawan penyelamat bagi diri sendiri. Tutup diri secara sopan dari semua sumber yang menimbulkan kepanikan. Setelah kebocoran energi melalui pikiran bisa dihentikan, belajar terhubung dengan sumber energi. Sebelum bisa terhubung dengan sumber energi di dalam, ajak orang terhubung dengan sumber energi di luar. Nutrisi yang langsung dari alam (sayur dan buah segar yang bervariasi), vitamin D dari cahaya matahari, menghirup udara segar di daerah yang berpenduduk lebih sedikit, mengembangkan keluarga bahagia adalah sebagian pilihan dalam hal ini. Membuat tubuh fisik, tubuh mental dan tubuh spiritual selaras adalah saran yang sangat dianjurkan. Karena reaksi biokimia otak adalah titik perjumpaan antara ketiga tubuh ini, latih diri secara serius untuk bersyukur. Bersyukur membuat otak melepaskan lebih sedikit racun, sekaligus lebih banyak obat. Berbekalkan keselarasan di dalam, kemudian bangun jembatan antara keselarasan di dalam dengan keselarasan di luar. Langkah praktisnya, lihatlah semua sudah sempurna pada tempatnya. Sesederhana ikan di air, burung di pohon, kupu-kupu di taman. Begitu keselarasan di dalam menyatu sempurna dengan keselarasan di luar, di sana seseorang mulai terhubung dengan pusat energi di alam.

Penanya: Soal menyelaraskan diri dengan alam sekitar banyak orang mengalami kesulitan. Terutama karena informasi publik seolah-olah alam itu kotor dan penuh racun.

Guru di dalam: Itulah persoalannya. Alam itu mirip cermin jernih. Jika seseorang kotor akan berjumpa hal kotor di cermin, bila manusia bersih ia akan berjumpa wajah yang bersih di cermin. Langkah lebih praktisnya, rawatlah kebersihan alam sekitar. Setidaknya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Bagus jika membuat semuanya bersih dan indah. Kemudian pemandangan alam yang indah di sekitar melahirkan wawasan yang lebih indah tentang alam sekitar. Begitu itu terjadi, selaraskan diri dengan alam sekitar. Misalnya, saat cuaca di luar bergerak menuju dingin, hangatkan badan. Jika belum bisa membangkitkan energi kundalini, cukup makan makanan (minuman) yang menghangatkan badan. Ketika di luar sedang miskin Cahaya karena musim hujan misalnya, cepat belajar menemukan Cahaya di dalam. Khususnya melalui praktik kesadaran penuh (minduflness).

Penanya: Banyak orang menyukai pesan yang ringkas, padat tapi berisi

Guru di dalam: Intinya adalah menjaga keseimbangan. Makanya banyak disiplin ilmu manusia meletakkan keseimbangan sebagai titik pusat pencarian mereka. Ilmu kedokteran menyukai homeostasis. Ilmu ekonomi menyenangi equilibrium. Orang hukum suka bicara soal keadilan. Psikologi menyukai sociobiome (keseimbangan antara kesendirian dan keramaian). Semuanya bercerita tentang keseimbangan. Sulit membayangan ada kegelapan jika Cahaya hadir. Sulit membayangkan ada penderitaan jika seseorang tumbuh sepenuhnya secara seimbang.

Keterangan foto: Sejumlah air mancur sederhana di Ashram tempat Guruji bermukim di perbukitan di Bali Uatara

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.