Kedamaian

Merenungkan 19 tahun bom Bali: Berjumpa Tuhan sebagai keindahan

Ditulis oleh Gede Prama

Jauh sebelum psikolog terkenal Carl G. Jung menemukan istilah synchronicity, di kedalaman hutan di Peru yang lokasinya persis di balik pulau Bali, ditemukan ajaran tua yang berpesan salah satunya berbunyi seperti ini: “Tidak ada kebetulan, hanya bimbingan-bimbingan”. Di tahun 2000-an, kekuatan yang paling ditakuti manusia di bumi adalah bom teroris. Bom teroris paling menakutkan terjadi di New York 11-9-2001. Di tahun berikutnya di tanggal 12-10-2002, bom teroris meledak di Bali. Jika dicermati, angka-angkanya semua serba bertambah satu. Tanggalnya tambah satu, bulannya tambah satu, tahunnya juga tambah satu. Ia juga membawa pesan suci dari Yang SATU. Jika bom di AS diikuti oleh ditembakkannya tidak terhitung peluru di Irak dan Afganistan, di Bali tidak ada satu batu kecil pun yang dilemparkan ke rumah orang bukan orang Bali. Ia menghadirkan dua kontras, di AS respon manusianya penuh kemarahan, di Bali respon manusianya penuh kedamaian.

Ia sedang bertutur terang benderang: “The balancing energy will come from Bali”. Energi penyeimbangnya akan datang dari pulau Bali. Benar saja, tidak lama setelah tahun 2002, beredar buku dan film terkenal yang sangat dikagumi dunia ketika itu yang berjudul “Eat, pray, love” yang membawa pesan menggetarkan: “Makanan enak ditemukan di Italia, doa menyentuh terdengar di India. Tapi cinta kasih yang menawan hanya ditemukan di pulau Bali”. Beberapa tahun sesudahnya, berkali-kali media-media dunia menyebut Bali sebagai pulau terindah di dunia. Ia sedang membuka cadar misteri: “Tuhan yang paling dirindukan di zaman ini adalah Tuhan sebagai keindahan”. Itu sebabnya, selama ribuan tahun gerak kehidupan di Bali semuanya mewakili tarian keindahan. Tidak saja tempat suci dan upacaranya indah, sawahnya indah, danaunya indah, gunungnya indah, tariannya indah, ukirannya indah, arsitekturnya indah. Dan yang terindah dari yang indah-indah di Bali adalah hati manusianya sangat indah. Sebagai informasi, di tahun 1970-an, sering terdengar cerita bahwa penghuni LP (lembaga pemasyarakatan) Bali nyaris kosong. Kalau pun ada warga binaan di sana, nyaris semuanya datang dari luar Bali. Di tahun 1978 pernah ada bom teroris yang mau diledakkan di Bali, tapi bomnya meledak di dalam bus malam di sebuah kota di Jawa Timur. Sekali lagi, semua ini bercerita tentang penampakan Tuhan sebagai keindahan.

Di tahun 2021 ini ceritanya lain lagi. Bali termasuk salah satu pulau yang sangat menderita oleh karena virus corona. Tidak saja menderita karena banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak hotel yang tutup, tapi juga tidak sedikit manusia yang benar-benar wafat karena serangan virus corona. Sebabnya tentu saja banyak. Tapi sulit membantah, keindahan hati manusia yang tinggal di Bali sudah sangat berubah. Sebagai seseorang yang sering keliling dari satu LP ke LP lain di seluruh Bali untuk berbagi Cahaya, di sana terlihat dengan mata kepala sendiri, penghuni LP penuh di mana-mana. Dan di atas 90 % warga binaannya adalah orang Bali. Sehingga layak direnungkan bersama, bencana memang membawa banyak musibah. Tapi yang lebih penting lagi, bagaimana mengolah bencana sebagai bahan agar dunia semakin indah. Karena besarnya peran pemimpin, sangat disarankan untuk memulai perubahan mulai dari hati para pemimpin. Pemimpin, begitu pernah diajarkan oleh para tetua zaman dulu, adalah seseorang yang berada di depan ketika dunia sedang berperang, tapi seseorang yang berada paling belakang ketika dunia sedang menikmati hasil. Di zaman ini terbalik, banyak pemimpin yang hilang ketika terjadi bencana. Tapi berada paling depan ketika ada pesta. Mudah-mudahan menjadi bahan renungan bagi generasi baru yang kelak menjadi memimpin. Karena sulit sekali menemukan pemimpin sebagai tauladan di zaman ini, belajar menemukan pemimpin di dalam diri. Salah satu cara yang tersedia adalah menyelaraskan kepala dengan hati. Pelayanan, senyuman, rasa berkecukupan, rasa syukur mendalam adalah sebagian jalan setapak yang tersedia dalam hal ini. Sebagaimana kerap dibagikan pada para sahabat dekat: “Kurangi mencari hal-hal yang salah, bagikan sikap yang indah”. Semoga semua mahluk berbahagia.

Photo by Jamie Davies on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.