Kedamaian

Mencabut Akar Terdalam Penderitaan

Ditulis oleh Gede Prama

Di sekolah, anak-anak dididik utk menerima yg baik membuang yg buruk, mengagungkan yg benar menendang yg salah. Maklum, dunia anak-anak.

Sedikit yg menyadari, kemanjaan utk menerima yg positif, membuang yg negatif adalah akar terdalam semua penderitaan. Sekali lagi semua.

Dulunya hanya dugaan, sekarang telah dibuktikan melalui banyak penelitian, bagaimana otak yg penuh konflik melepaskan banyak racun cortisol.

Semakin kencang seseorang menginginkan yg positif, semakin keras kekuatan negatif di dalam melawan. Inilah otak yg melepaskan banyak racun.

Suatu hari kami pernah didatangi murid meditasi yg penampilan luarnya seperti rangda (foto terlampir). Sehingga semua sahabat sangat ketakutan.

Saat itu juga Mbok Nyoman (nama samaran) didekati bahkan dipeluk. Belakangan ditemani Ibu, Guruji mengunjungi rumahnya sampai 3 kali.

Hanya mau belajar lebih dalam. Tidak sekali dua kali Mbok Nyoman datang ke Ashram membawa persembahan. Berdoanya khusuk sekali.

Pelajarannya, kita semua punya energi negatif-positif di dalam. Semua. Akar terdalam penderitaan mulai dicabut saat kita belajar mendekap keduanya.

Saat dikunjungi memori buruk, Guruji suka berbisik seperti ini: “Tidak saja kekerasan di luar bagian dari diri saya, rasa sakit di dalam juga serupa”.

Itu salah satu bentuk meditasi dalam tindakan. Bayangkan seseorang yg membenci kekuatan kiri secara berlebihan. Ia memotng bagian kiri bambu.

Sekeras apa pun ia memotong bagian kiri, akan selalu tersisa bagian kiri. Jika terus dipotong, ia akan kehilangan seluruh batang bambu.

Hal yg sama juga terjadi jika orang dewasa menerapkan logika “anak-anak sekolah” sebagaimana cerita di awal. Lama-lama akan kehilangan semuanya.

Itu sebabnya, banyak buku suci tua mengajarkan utk melihat kehidupan sebagai sebuah ke-u-Tuhan (wholeness). Karena ada kegelapan maka ada Cahaya.

Karena ada kekerasan maka orang rindu dg kedamaian. Utk itu, kurangi terlalu marah saat melihat orang lain marah. Ia mirip kegelapan yg membuat Cahaya semakin terang.

Kemudian bimbing diri tersenyum indah di tengah. Dari awal yg tidak berawal, malam-siang tidak bisa dipisahkan. Demikian juga dg samsara-nirvana.

Ia yg sampai di sini akan mengerti melalui pencapaian, tanah suci bukan tempat yg tidak berisi penderitaan. Melainkan hati yg mengerti, penderitaan ada di sini utk membuat kebahagiaan jadi dalam.

Sesampai di sini, akar terdalam penderitaan mulai tercabut. Otak tidak perlu melepaskan terlalu banyak racun. Sebaliknya, melepaskan banyak obat.

Jika diberkahi, Anda pun mulai menapaki jalan indah menjadi pembawa Cahaya. Dalam bahasa Mahatma Gandhi: “My life is my message”.

Jiwa indah seperti ini berbagi Cahaya indah sedikit melalui ucapan, lebih banyak melalui keteladanan. Semoga semua mahluk berbahagia.

Keterangan foto: Ini salah satu local genius pulau Bali (rangda). Orang awam menyebutnya kekuatan kiri yg sangat ditakuti. Sekali lagi orang awam

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.