Kedamaian

Bali My Love

Ditulis oleh Gede Prama

Lebih mudah menyatu dg sebuah tempat jika kita melihat tempat itu dalam bentangan sejarah yg lebih panjang. Tidak picik, tidak sempit.

Sejauh yg bisa dilihat dg mata spiritual, sebelum abad 7 kelihatannya tetua Bali mempraktikkan apa yg sekarang di Barat disebut Shamanism.

Jejak-jejak Shamanism di Bali masih ada. Dari dihormatinya alam melalui hari suci Tumpek Pengatag, sampai dg gamelan yg dipimpin oleh suara drum.

Di abad ke 7 ketika Nusantara dipimpin Sriwijaya, Bali dipimpin oleh wangsa Warmadewa, pemerintah resmi ketika itu mengumumkan agama resmi orang Bali adalah Buddha Mahayana.

Sekitar abad ke 8, ketika datang Rsi Markandya dari Jawa, di sana orang Bali belajar menyembah para dewa. Mendirikan Pura. Salah satunya Pura Besakih.

Memasuki abad 10/11 Bali mengalami konflik antarsekte, yg kemudian dirapikan oleh Ida Mpu Kuturan di Pura Samuan Tiga Gianyar.

Arsitek yg berada di balik desa pekraman, Meru sekaligus Pura Dalem, Pura Bale Agung dan Pura Puseh ini dipengaruhi sangat besar oleh ajaran Buddha Mahayana.

Masih jelas dalam catatan sejarah, di abad 15/16, datang Guru Tantra dari Jawa bernama Ida Dangyang Dwijendra. Beliau mendirikan Padmasana.

Karena garis Guru Tantra jika ditarik ke atas akan berjumpa Shiva, maka orang Tantra kadang ada yg menyebutnya Shiva-Buddha.

Judul agama Hindu yg diwarisi sekarang adalah buah kesepakatan tetua Bali di tahun 1959. Terutama utk menjawab tantangan zaman ketika itu.

Gambaran yg lebih utuh diperlukan, terutama agar generasi baru mengenali akar spiritualnya juga secara lebih utuh. Sehingga tidak merasa asing dalam pulau sendiri.

Orang Bali yg punya ketertarikan dg akar kebuddhaan sering bertanya, apa beda Hinayana, Mahayana dan Tantrayana. Ringkasnya seperti ini.

Kehidupan diandaikan seperti pohon beracun. Orang Hinayana menjauh. Orang Mahayana menjaga pohon beracun ini agar tidak meracuni terlalu banyak mahluk.

Sedangkan orang Tantrayana (salah satu cabang Mahayana) mengolah racun menjadi obat. Salah satu racun berbahaya yg diolah adalah sex.

Makanya di Tantrayana ada Guru seperti Saraha, Marpa, YMM Dalai Lama VI yg mengolah sex menjadi jalan pencerahan.

Sahabat dekat Guruji pak Nyoman Sadra yg memimpin Ashram Gandhi peninggalan Ibu tercinta Ibu Gedong, serta pernah lama tinggal di India, bahkan pernah berjumpa Krisnamurti dan Osho bercerita menarik.

Hindu itu bukan nama agama, sekali lagi menurut pak Sadra. Tapi nama sebuah lembah. Weda sendiri artinya pengetahuan. Sebuah wawasan yg layak didengarkan.

Terutama agar orang tidak mudah masuk sebuah kotak, kemudian terpisah dg kotak-kotak yg lain. Jika buku The history of God yg ditulis Prof. Karen Amstrong acuannya, suku bangsa Arya yg kemudian tinggal di lembah Hindus datang dari kawasan Utara.

Yg sekarang dikenal dg Iran. Saat itu mungkin meramalkan bagaimana, kemudian memilih tinggal di Lembah Hindus. Di sana suku bangsa Arya mempelajari dan melaksanakan ajaran Weda.

Wawasan relatif luas seperti ini diperlukan, terutama karena kita sudah tinggal di sebuah desa global melalui internet. Informasi membanjir dari segala arah.

Agar tidak tercabut dari akar-akar sejarah, pengetahuan seperti ini diperlukan. Tidak utk mengganti agama menjadi agama Buddha.

Sekali lagi tidak! Tapi utk mengenali benih-benih spiritual yg pernah ditanam di pulau Bali. Makanya di keluarga Compassion kami tidak pernah mengizinkan orang ganti agama.

Semua orang yg minta izin pindah agama selalu diberi nasehat seperti ini: “Bloom where you are planted”. Mekar indahlah di mana pun kehidupan melahirkan Anda.

Foto ditemukan di akun FB Agoes Gozin. Foto ini bercerita, ada jejak-jejak agama Buddha di Bali yg tidak mudah dihapus.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.