Kedamaian

Tanah suci Para Arya

Ditulis oleh Gede Prama

Orang Bali punya tradisi tua yg layak dihormati. Tiap kali orang Bali mau belajar secara dalam dari seorang Guru, ada yg bertanya soal soroh.

Alias silsilah leluhur. Murid-murid dekat semuanya segan bertanya soal ini. Tapi di dunia malam ada yg bertanya, oleh roh di dalam dijawab: “Arya”.

Dan memang di Pura Merajan tua tempat Guruji terlahir ada papan “Arya”. Dg membuang kerangka rendah-tinggi, sejak muda sudah dicari arti kata Arya ini.

Ternyata nama suku bangsa yg datang dari arah Utara (Uttara Kuru) kemudian belajar Weda di lembah Hindus di Himalaya adalah suku bangsa Arya.

Setelah didalami lagi, Arya artinya manusia yg tidak tertarik dg apa-apa. Hanya tertarik belajar kesucian. Kemungkinan apa yg dilakukan suku Arya di lembah Hindus hanya belajar Weda.

Weda itu sendiri artinya pengetahuan. Yg bisa ditafsikan macam-macam. Yg jelas ada berbagai motif orang belajar pengetahuan.

Dan motif (niat) menentukan arah perjalanan kemudian. Yg sering dibagikan ke sahabat dekat, ajaran suci ada di sini utk memurnikan diri dan memulyakan orang lain.

Makanya kami tidak pernah berdebat, apa lagi berkelahi. Begitu ada orang yg perbedaannya terlalu jauh, tanpa salah-benar biasanya kami mengalah dan menjauh.

Terutama karena tidak semua binatang mengerti indahnya bunga. Tidak semua manusia tertarik utk belajar kesucian.

Jalan setapak yg diambil, cacing memang di lumpur kotor, tapi ia punya misi suci di bumi utk membuat tanah jadi subur. Demikian juga dg orang yg tidak tertarik belajar kesucian.

Sama dg belajar di perguruan tinggi, sedalam apa seseorang bertumbuh tergantung pada kecerdasannya. Demikian juga dg dunia kesucian.

Ada orang yg menggunakan kesucian utk menyerang (merendahkan) orang lain. Tanpa berniat menyebut itu tidak positif, kami tidak mengambil jalan itu.

Di jalan setapak yg kami lalui, sering terdengar pesan begini: “Keep growing till you understand that ignorance and intelligence are one”.

Bertumbuhlah sampai mengerti melalui pencapaian pribadi, ternyata ketidaktahuan (avidya) dan kecerdasan (vidya) tidak lagi dua.

Sebaimana kegelapan tidak bisa dipisahkan dg Cahaya, teratai tidak bisa dipisahkan dg lumpur, demikian juga dg avidya dan vidya.

Dalam bahasa ilmu pengetahuan modern: “Everything is a verb”. Semua sedang bertumbuh. Sampah jadi bunga indah, orang yg belum tahu nanti jadi tahu.

Ajaran seperti inilah yg di abad ke 8 dan 9 diselamatkan dari India, dibawa ke atap bumi Tibet oleh Sejumlah Guru besar seperti YMA Lama Padmasambawa.

Itu sebabnya orang Tibet menyebut India dg sebutan The Land of Aryas (tanah suci para Arya). Sebuah tempat di mana ajaran suci pernah dipelajari, dibadankan dan diajarkan.

Jika di Tibet ajaran seperti ini diberi nama Rigpa, tetua Bali menyebutnya Embang, menggunakannya sebagai pedoman utk memutuskan tahun baru sebagai hari Nyepi.

Seorang pujangga besar bernama Michael Naimi menulis: “Kata-kata adalah tongkat bagi jiwa yg pincang, tapi beban berat bagi jiwa yg telah terbang”.

Di dunia Tao terdengar, Tao yg bisa dijelaskan bukan Tao. Ada juga pesan begini: “Labeling and naming are the mother of all darkness”.

Semoga bisa menjadi sumber inspirasi. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia.

Foto: Salah satu pojokan Ashram tempat Guruji bermukim di perbukitan di Bali Utara. Tulisan kecil di kejauhan berisi 11 makna Genta

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.