Kedamaian

Bukit Sinunggal

Ditulis oleh Gede Prama

Menyusul cerita kemaren tentang membuka rahasia pulau Bali melalui nama-nama desa, ada yg bertanya: “Kenapa nama desa tempat Guruji terlahir tidak disebutkan?”.

Tajun artinya tatujon (tempat tujuan). Yg dituju adalah Bukit Sinunggal yg sangat disucikan. Tempat banyak jiwa mengalami kebersatuan.

Jika menggunakan bahasa Bali Utara, lokasi Tajun ada di tenggara (kaja kangin). Di Pura, di lokasi itu biasanya ada Surya (sumber Cahaya).

Di bagian timur, desa Tajun dijaga oleh sungai Jungkaang. Itu nama Chinese. Yg di Indonesia identik dg agama Buddha.

Dan tidak kebetulan kalau di pinggir tukad Jungkaang ada Pura Shiva-Buddha yg lokasinya lagi-lagi di kawasan suci Bukit Sinunggal.

Di atas Tajun ada 2 desa yg layak direnungkan: “Kembang Sari dan Mengening”. Makna yg mau disampaikan, keheningan dan keindahan tidak bisa dipisahkan.

Kembang (bunga) adalah lambang keindahan. Dan keindahan ini akan mencerahkan jika dituntun oleh keheningan (baca: semuanya baik, semua punya misi suci di bumi).

Lebih terang lagi, di bawah Tajun nama desanya Bulian (baca: abulih). Dg kata lain, tinggallah di rumah indah bernama ke-u-Tuhan.

Sebagaimana puncak gunung tidak terpisahkan dg jurang, teratai tidak terpisahkan dg lumpur, demikian juga dg buruk-baik, sedih-senang, duka-suka.

Tetua Bali menyebutkan: “Suka tan pewali duka”. Suka dan duka ada di lingkaran Mandala (kesempurnaan) yg sama. Ia berputar bergantian.

Dalam tradisi India kuno, ke-u-Tuhan ini kadang disebut kebijaksanaan yg tidak terpisahkan dg compassion. Kata Kembangsari membuka rahasia.

Intisari bunga adalah madu. Intisari pengetahuan (Veda) adalah kebijaksanaan. Bukan sembarang kebijaksanaan, tapi kebijaksanaan yg berpasangan dg compassion.

Itu sebabnya, di Ashram ada jalan setapak cukup panjang. Di ujung jalan setapak ke kanan ada prasasti bertuliskan “compassion”, ke kiri ada prasasti berisi tulisan “wisdom”.

Semoga bisa memberi inspirasi. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia.

Foto: Bukit Sinunggal dari arah Ashram. 5 hektar tanah yg dicuri sudah dihutankan kembali. Dipimpin kepala rumah tangga Ashram Kadek Optimis desember lalu bahkan ditanam lagi ribuan pohon sakral di sana.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.