Kedamaian

Merenungkan Cita-Cita

Ditulis oleh Gede Prama

Mirip dg pertanyaan pewawancara di acara Just Alvin Metro Tv, di dunia malam ada yg bertanya: “Apa cita-cita Anda? Apa yg dicari?”.

Bisa dimaklumi, terutama karena bagi manusia biasa, cita-cita adalah energi yg membuat bangun pagi jadi semangat. Belajar dan kerja pun jadi semangat.

Dan tanpa semangat, banyak manusia rawan sakit dan roboh. Sekali lagi, itu utk orang biasa. Tapi jiwa-jiwa bercahaya punya kompas yg lain.

Cita-cita itu diperlukan bagi ia yg belum menemukan rumah. Tapi cita-cita tidak diperlukan bagi jiwa indah yg telah sampai di rumah.

Sudah sampai di rumah, utk apa bertanya-tanya rumahnya di mana. Di tingkatan ini, sumber gerak keseharian tidak lagi keinginan (cita-cita).

Melainkan mengalir alami. Bunga alaminya berbagi keindahan, burung alaminya bernyanyi. Penulis tentu saja menulis panggilan alaminya.

Penari tentu saja menari panggilan alaminya. Tidak beda dg bunga yg mekar indah di hutan yg sepi, kendati tidak ada yg memuji, ia tetap berbagi keindahan.

Makanya ada sahabat dekat Compassion bertanya, Guruji melayani kami siang malam tanpa ada libur, apakah tidak kelelahan?

Kupu-kupu tidak pernah lelah mewartakan keindahan, burung tidak pernah lelah mewartakan kebahagiaan. Demikian juga dg jiwa yg sampai di rumah.

Begitu mengalir sempurna dg panggilan alami, dari semua arah datang energi. Semua mahluk terasa menjaga. Inspirasi pun mengalir dari mana saja.

Foto: Pintu masuk ke Secret Temple di Ashram tempat Guruji bermukim di perbukitan Bali Utara

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.