Kedamaian

Kematian pun mendamaikan

Ditulis oleh Gede Prama

Guru spiritual dari Inggris Dr. William Bloom menyebut kematian sebagai “the last important life initiation”. Inisiasi terakhir di hidup ini.

Sebuah kesimpulan yg layak direnungkan. Terutama karena kebiasaan energi terkuat di saat kematian menentukan di mana ia akan terlahir.

Cerita sedihnya, banyak orang takut memikirkan apa lagi membicarakan kematian. Sehingga saat kematian datang, seseorang mengalaminya tanpa persiapan sama sekali.

Itu yg sering terjadi di kehidupan banyak orang. Agar para sahabat sehat selamat, mari belajar merenungkan kematian. Terutama karena ia “pasti” datang.

utk direnungkan bersama, kematian adalah Guru kehidupan terbaik yg pernah ada. Begitu pengetahuan seseorang akan kematian mendalam, secara alami pengetahuannya akan kehidupan juga mendalam.

Dr. William Bloom bahkan menyebutkan, jika tekun berlatih meditasi khususnya, Anda bisa mengolah energi ketegangan di saat kematian, menjadi energi yg mengangkat perjalanan jiwa.

Berikut sejumlah bahan renungan. Pertama, penolakan berlebihan akan kematian sebaiknya dihindari. Ia mengganggu kualitas hidup di hidup ini, maupun kualitas perjalanan berikutnya.

Yg dianjurkan, lihat kematian sesederhana daun kering yg jatuh. Sesuatu yg sangat alami. Ia terjadi pada semua mahluk. Bukan sesuatu yg besar.

Kedua, belajar bersahabat dg kesendirian. Persisnya kesendirian yg bebas dari ketakutan, sekaligus dekat dg penerimaan, senyuman dan kedamaian.

Tanpa latihan jenis ini, kematian akan sangat menakutkan sekaligus menyedihkan. Bahkan horor. Segelintir orang dekat yg wafat bercerita, perjalanannya sangat menyentuh hati karena tidak biasa sendiri.

Ketiga, diantara semua kualitas, yg paling menyelamatkan di hidup ini maupun di perjalanan setelah wafat adalah ketekunan utk selalu terhubung dg saat ini.

Tanpa menolak yg negatif, tanpa melekat pada yg positif. Buku tua orang Tibet “The Tibetan book of the dead” membenarkan hal ini.

Jika seseorang gagal mengalami inisiasi di saat kematian – ingat cerita terdahulu Cahaya putih Ayah dari atas kepala, Cahaya merah Ibu dari bawah menyatu di titik tengah tubuh – maka ia memasuki alam antara (bardo).

Di alam bardo, semua hal buruk dan baik bisa terjadi. Tapi perlu dicatat, semua adalah pantulan kualitas pikiran seseorang. Yg buruk bukan setan, yg baik pun bukan datang dari alam kesucian.

Seseorang akan mungkin selamat, jika ia terus menerus menyatu rapi dg saat ini. Sekali lagi tanpa negatif, tanpa positif. Orang Tibet menyebutnya Rigpa.

Bila kualitas Rigpa-nya bagus, setidaknya ia akan lahir di alam dg berkah spiritual yg berlimpah: “Jadi manusia, di keluarga berkecukupan, tertarik mempercantik jiwa, berjumpa Guru sejati”.

Itu pencapaian minimum. Lebih tinggi dari itu, seseorang bisa memilih mau terlahir atau tidak terlahir. Kalau pun terlahir, ia terlahir sebagai bagian dari the grand design.

Lahir kembali utk meringankan beban penderitaan di alam ini. Dan biasanya, manusia jenis ini akan dikawal rapi oleh alam penjaga di mana pun ia terlahir.

Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga semua mahluk berbahagia.

Photo courtesy: The shift network

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.