Kedamaian

Menyembuhkan luka jiwa Maya Denawa…

Ditulis oleh Gede Prama

Hari Galungan kali ini unik. Sehari setelah masyarakat diajak memandang sejarah (khususnya Mayadenawa) secara utuh, langit Bali berespon indah sekali.

Di mana-mana muncul awan berbentuk Love. Pada saat yg sama, di medsoa banyak yg ingin tahu kisah Maya Denawa lebih dalam.

Ringkasnya, Maya Denawa adalah putera Maha Raja Bali yg pertama kali menyatukan Bali di abad 10/11 bernama Shri Maharaja Jaya Pangus.

Istananya ada dua, satu jadi Pura Penulisan, kedua jadi Pura Bukit Sinunggal tempat Guruji terlahir. Karena konflik antar raja, Maya Denawa kemudian wafat dibunuh.

Cerita sedihnya, sudah jadi korban kekerasan, diceritakan sangat buruk dari zaman ke zaman: “Disebut komunis, serta judul tidak positif lainnya”.

Sedikit yg menyadari, luka jiwa korban kekerasan seperti ini disimpan di bumi. Suka tidak suka ia mempengaruhi vibrasi bumi dalam waktu lama.

Dan sejak abad ke 12, belum pernah terdengar ada tokoh Bali yg mau mengajak masyarakat utk melihat sejarah Mayadenawa secara utuh.

Dg mata spiritual terlihat, Maya Denawa adalah penganut Buddha Mahayana. Intisari ajarannya adalah Shunyata (kekosongan).

Oleh orang yg tidak suka, ajaran seperti ini dipelesetkan menjadi “komunis”. DIgunakan alasan utk membunuh. Padahal, Shunyata tidak sama dg komunis.

Sebagaimana ruang yg memberi tempat pada apa saja utk bertumbuh, kekosongan ala Mahayana menjadi rahim bagi lahirnya cinta kasih yg tidak bersyarat.

Dan cinta kasih disebut semua agama sebagai salah satu wajah Tuhan. Jadi, tidak benar bahwa Maya Denawa itu komunis. Apa lagi jahat. Tidak benar!

Cara memandang seperti itu, lebih-lebih dibaca dan diyakini banyak sahabat di medsos, ikut meringankan luka jiwa Maya Denawa.

Pada saat yg sama beban Bali dan bumi sedikit lebih ringan. Dan itu yg membuat langit Bali tersenyum indah melalui awan berbentuk Love.

Tadinya, foto awan berbentuk Love hanya dikirim Putu Panca Handayani, belakangan Suryaning Putu juga mengirim foto serupa di bagian Bali yg lain.

Sehingga layak direnungkan ke sahabat yg menerangkan Tampak Siring khususnya, di tempat di mana Maya Denawa dihabisi nyawanya.

Sejarah selalu dibuat oleh pihak yg menang. Pihak yg kalah tidak diizinkan menulis sejarah. Padahal, di setiap konflik kedua belah pihak ada salahnya.

Yg menang tidak seluruhnya benar, yg kalah tidak seluruhnya salah. Anjuran Guruji sederhana, belajar melihat sejarah dg kaca mata ke-u-Tuhan.

Ia meringkankan beban bumi, sekaligus membuat Anda tumbuh jauh lebih harmoni. Semoga Bali dan bumi jadi jauh lebih harmoni.

Foto diambil oleh Suryaning Putu & Putu Panca Handayani . Keduanya terjadi di manis galungan kamis 29/2 2024
Shambala meditation center: bellofpeace.org, belkedamaian.org

bali #love #peace #meditation #healing #healingjourney

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.