Kedamaian

Agama terindah yg pernah ada

Ditulis oleh Gede Prama

Tanpa aba-aba, tanpa tanda-tanda ada orang dari luar Bali menyerang dg kata-kata ritual. Seolah-olah ritual (upacara) itu selalu salah dan rendah.

Begitulah zaman medsos ini. Tanpa membaca pesan orang, tanpa mengerti siapa yg diajak berdialog, stres dan depresi dimuntahkan ke orang lain.

Dikira memuntahkan stres ke orang lain membuat jiwa sembuh. Padahal, itu langkah memasukkan racun yg baru ke dalam jiwa.

Sebelum agama menjadi kekuatan berbahaya, mari merenung. Wajah agama yg ditemukan manusia sangat tergantung pada kualitas pikiran.

Jika pikirannya sempit & picik, agama menjadi keuatan berbahaya. Sebaliknya, bila pikirannya luas & luwes, agama menjadi kekuatan bercahaya.

Jalalludin Rumi di Islam adalah cerita jiwa yg sangat indah. Nelson Mandela adalah kisah yg mengundang decak kagum di gereja.

YMM Dalai Lama memenangkan hadiah Nobel Perdamaian tidak karena merendahkan agama orang lain. Tapi karena memulyakan agama orang.

Mahatma Gandhi pernah ditanya: “Apakah saya boleh jadi penganut Hindu seperti Anda?”. Dg tersenyum jiwa suci ini menjawab tegas dan lugas.

“Boleh, tapi dg menjadi penganut kristen yg taat”. Ringkasnya, mereka tumbuh di agama berbeda, tapi dalam satu hal mereka sama.

“Pikirannya luas dan luwes”. Agar agama menjadi sumber Cahaya, bukan sumber bahaya, seawal mungkin latih pikiran agar luas dan luwes.

Guruji bersyukur sekali lahir di Bali. Ketika belajar agama di SD dulu mendengar pesan ini. Dan pesan ini menemani sampai tua.

“Ekam satvipra bahuda vadanti”. Kebenaran itu satu, tapi jiwa-jiwa suci memberinya banyak nama. Sebuah wawasan yg luas dan luwes.

Belakangan dari orang Zen belajar hal indah: “Tatkala hujan turun, ayam berteduh di bawah pohon, bebek mencemplungkan dirinya di kolam”.

Keduanya mengambil jalan yg beda. Dan keduanya bahagia apa adanya. Bimbingannya, jika ada orang yg mengambil jalan yg beda, tidak perlu merendahkan.

Mungkin ia mengambil jalan berbeda yg juga membahagiakan. Jika mendalam praktiknya, Anda akan tersenyum indah pada pesan berikut ini.

“You’re the silence of peace, you’re the peace of silence”. Tidak ada yg lebih indah dari ini. Anda adalah keheningan yg penuh kedamaian.

Sekaligus kedamaian yg penuh keheningan. Sesampai di sini mata akan berubah indah. Sahabat Muslim terlihat indah bersama pecinya.

Orang Jawa terlihat indah bersama blangkonnya. Teman Gereja terlihat indah ditemani nyanyiannya. Orang Bali juga indah bersama ritualnya.

Itulah wajah agama terindah yg pernah ada. Morihei Ueshiba adalah salah satu tokoh yg pernah sampai di sini.

Pendiri aikido ini mewariskan: “There are many paths leading to the top of Mount Fuji. But there’s only one peak which is love”.

Ada banyak jalan menuju puncak gunung spiritualitas. Tapi hanya ada satu puncak. Yakni cinta kasih yg tidak bersyarat.

Photo courtesy: Unsplash
Shambala meditation center: bellofpeace.org, belkedamaian.org
#bali #love #peace #meditation #healing #healingjourney #harmoni #gurujigedeprama

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.