Kedamaian

Penderitaan sebagai matahari terbit di dalam diri…

Ditulis oleh Gede Prama

Di dunia yang sebagian besar digerakkan oleh kesenangan, penderitaan identik dengan hukuman, kegagalan, setan, kebodohan, dan banyak hal negatif lainnya. Hanya sedikit yang membuka rahasianya, ada banyak harta karun spiritual yang tersembunyi di balik penderitaan. Tentu saja jika Anda terampil secara spiritual. Mirip dengan lumpur yang diubah menjadi teratai, latihan spiritual dapat mengubah penderitaan menjadi matahari terbit di dalam diri yang indah.

Untuk alasan itu, mari kita belajar melihat sisi terang dari penderitaan. Sebagai informasi, semua jiwa yang cemerlang dalam sejarah manusia sedang dimurnikan oleh penderitaan. Ingat, Nelson Mandela dipenjara selama 27 tahun, Mahatma Gandhi ditembak, Yesus Kristus disalibkan, HH Dalai Lama kehilangan negaranya di usia 15 tahun.

Sebagai titik awal, penderitaan, meskipun menyakitkan, sering kali membawa berkah tak terduga yang berkontribusi pada pertumbuhan dan ketahanan pribadi. Salah satu berkah yang signifikan adalah pengembangan empati dan kasih sayang. Mengalami kesulitan secara langsung memungkinkan individu untuk memahami dan terhubung secara mendalam dengan orang lain dalam situasi yang sama, menumbuhkan rasa solidaritas dan dukungan.

Penderitaan juga bertindak sebagai katalisator transformasi pribadi. Penderitaan dapat mendorong individu untuk menilai kembali nilai-nilai, prioritas, dan pilihan hidup mereka, yang sering kali mengarah pada penemuan jati diri dan kekuatan batin yang mendalam. Tantangan yang dihadapi selama masa-masa sulit dapat membangun ketahanan, mengajarkan ketekunan dan kemampuan beradaptasi. Ketahanan ini menjadi aset yang berharga, yang memungkinkan orang untuk menghadapi kesulitan di masa depan dengan keyakinan dan ketabahan yang lebih besar.

Mantan presiden AS Barrack Obama adalah contoh yang baik dalam kasus ini. Ia kehilangan ayahnya saat berusia 2 tahun. Namun, penderitaan terakhir tidak membuat hidupnya gelap. Sebaliknya, ia menggunakannya untuk mencari cahaya. Beasiswa adalah salah satu kunci indah yang membuat Obama mengubah kegelapan penderitaan menjadi cahaya berkat.

Selain itu, penderitaan dapat meningkatkan apresiasi atas kegembiraan hidup yang sederhana dan saat-saat damai. Ketika seseorang keluar dari masa sulit, sering kali ada rasa syukur baru atas stabilitas dan kenyamanan. Apresiasi yang meningkat ini dapat mengarah pada kehidupan yang lebih penuh perhatian dan memuaskan, karena individu belajar untuk menghargai dan menikmati aspek-aspek positif dalam hidup mereka.

Selain itu, penderitaan dapat memperdalam pertumbuhan dan hubungan spiritual. Banyak orang menemukan penghiburan dan makna dalam keyakinan atau kepercayaan filosofis mereka selama masa-masa sulit. Pengayaan spiritual ini dapat memberikan rasa tujuan dan kenyamanan yang mendalam, membimbing individu melewati penderitaan mereka dan seterusnya.

Terakhir, penderitaan dapat menginspirasi tindakan kreativitas dan inovasi. Banyak contoh historis dan kontemporer tentang individu yang, dalam menghadapi kesulitan, telah menciptakan karya seni, sastra, dan kemajuan teknologi yang mendalam. Ekspresi kreatif ini tidak hanya memberikan katarsis pribadi tetapi juga berkontribusi pada pengayaan budaya dan masyarakat.

Intinya, meskipun penderitaan tidak dapat disangkal menantang, sering kali membawa serta potensi untuk pertumbuhan pribadi, empati yang lebih dalam, apresiasi yang lebih baik, pengembangan spiritual, dan ekspresi kreatif, yang memperkaya kehidupan individu dan pengalaman manusia yang lebih luas.

Saran spiritual saya, jangan menghukum diri sendiri di saat penderitaan. Gunakan kegelapan sebagai undangan untuk menemukan cahaya. Karena penyangkalan diri adalah ibu dari semua penyakit, ubah penyangkalan diri menjadi penerimaan diri. Ingatlah, ketika Anda menerima diri Anda apa adanya, kehidupan berkembang dengan cara yang indah.

Sumber foto: Pexels
Pusat meditasi Shambala: bellofpeace.org, belkedamaian.org

bali #cinta #perdamaian #meditasi #penyembuhan #perjalananpenyembuhan #harmoni

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.