Kesembuhan Spiritualitas

MERINDUKAN AWAN

MERINDUKAN AWAN

Di salah satu pertemuan spiritual tingkat dunia yang diadakan di Ubud Bali, ada yang bertanya keheranan: “kenapa yang datang ke pertemuan spiritual umumnya adalah manusia sakit?”. Sejujurnya, kita semua sedang sakit. Kendati dalam kadar yang berbeda. Namun, bila orang kebanyakan menyebut rasa sakit sebagai hukuman Tuhan, atau godaan setan, guru-guru tercerahkan memperlakukan rasa sakit sebagai langkah-langkah pemurnian dan pembersihan. Ia serupa amplas yang menghaluskan kayu yang akan dijadikan meja, mirip pahat tajam yang melukai batu yang sedang dibentuk menjadi patung indah.

Dengan titik berangkat seperti ini, rasa sakit kemudian tidak saja lebih ringan bebannya, namun juga bisa menjadi awal bagi terbukanya pintu spiritual seseorang. Ini yang berada di balik cerita kenapa semua guru-guru suci dimurnikan dengan rasa sakit. Mahatma Gandhi ditembak, Nelson Mandela dipenjara selama dua puluh tujuh tahun, pemenang nobel perdamaian Muhammad Yunus bergumul di tengah kemiskinan, YM Dalai Lama kehilangan negaranya ketika umurnya masih belasan tahun.

Bedanya dengan orang biasa yang menderita oleh rasa sakit, orang-orang bijaksana menggunakan rasa sakit sebagai awal penggalian ke dalam. Awalnya memang seperti tersesat, tetapi keikhlasan, kepolosan, ketulusan kemudian merubah ketersesatan menjadi tanda-tanda pulang ke rumah kesembuhan.

Meminjam cerita Thich Nhat Hanh tentang mengejar awan, suatu hari ada air yang lama sekali tertanam di gunung tanpa ada kesempatan keluar. Hujan deras membuatnya terberkahi sehingga menyatu dengan sungai. Di awal-awal menjadi sungai, air ini senang sekali bisa memantulkan awan, seperti berjumpa kebahagiaan, kedamaian, keheningan. Namun, di suatu waktu cuaca terang membuat awan menghilang. Sehingga sedihlah sang air seperti kehilangan kekasih.

Berhari-hari ia berdoa agar berjumpa kekasihnya yang bernama awan, tetapi tetap awan kadang datang kadang pergi seperti kekasih yang tidak setia sehingga menimbulkan derita. Sebagaimana hekekat derita yang memaksa untuk melakukan penggalian ke dalam, maka merenunglah air sungai dalam-dalam siang malam. Betapa terkejutnya di suatu hari, di puncak renungannya air sungai menemukan bahwa dalam diri air sudah ada awan. Tidak saja awan, dalam air juga ada cahaya bulan, langit, terang matahari dan semuanya. Maka tercerahkanlah air sungai seketika itu. Tandanya sederhana, apa yang dirindukan sudah tersedia di dalam. Setelah itu, berhenti menyebut pihak lain dengan sebutan-sebutan negatif seperti kekasih yang tidak setia. Dan puncak pencerahan menyisakan hanya kasih sayang. Terutama karena melihat ada diri kita di orang lain, ada orang lain di diri kita.

Bila boleh jujur, cerita air sungai tadi adalah cerita kita semua. Ketidaktahuan membuat manusia berkejaran seolah-olah yang membahagiakan kita ada di luar sana. Namun, setiap pencari yang tekun menggali ke dalam tahu, ternyata semua bahan yang bisa membuat manusia berbahagia sudah tersedia di dalam. Hanya berbekalkan rasa syukur, rasa berkecukupan, kemudian terlihat betapa kayanya manusia di dalam. Bermodalkan kekayaan di dalam ini, kemudian terlihat terang dalam kebahagiaan kita ada kebahagiaan orang lain, dalam penderitaan tetangga ada penderitaan kita. Inilah kasih sayang dalam tindakan. Sebagai praktek keseharian, ia hanya menyisakan sebuah kerinduan berupa pelayanan untuk mahluk lain.

Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, siapa saja yang kesehariannya penuh pelayanan (tukang sapu, satpam, kasir, petugas customer service, manajer, presiden direktur hingga pejabat publik) sesungguhnya sudah menjadi mahluk spiritual. Meminjam pendapat seorang guru, kita sesungguhnya mahluk spiritual yang berbadankan manusia, bukan manusia yang sedang belajar menjadi spiritual. Sesampai di sini, kehidupan kemudian senantiasa dibingkai senyuman. Terutama karena melalui senyuman kita tidak saja sedang melayani kehidupan, juga sedang menyembuhkan kehidupan. Inilah ultimate healing (kesembuhan paripurna) alias pencerahan.

Bahan renungan:

1. Berkejaran, berkejaran, berkejaran, itulah tema banyak sekali kehidupan. Sehingga mudah kelelahan dan ujung-ujungnya mudah sakit.

2. Melalui cerita air sungai terlihat terang benderang, apa yang dikejar dan dicari manusia ternyata sudah tersedia berlimpah di dalam.

3. Seni tersembuhkan ternyata seni berhenti berkejaran. Serupa kucing yang mengejar ekornya dan tidak ketemu, setelah berhenti berkejaran dan berhenti berputar-putar ternyata ketemu.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.