Kesembuhan Spiritualitas

MEMELUK LEMBUT KEKINIAN

MEMELUK LEMBUT KEKINIAN

Seorang murid pernah bertanya ke gurunya di ruang minum teh tentang jalan tercepat menuju pencerahan, dengan lembut gurunya bergumam: minumlah tehmu. Setelah teh habis, tanpa memberi kesempatan pada muridnya bertanya, guru ini lagi-lagi bergumam: sekarang, cuci cangkirmu. Hanya dengan mendengar pesan sederhana ini, murid ini mengalami pencerahan.

Bagi orang kebanyakan, cerita ini susah dimengerti. Namun bagi ia yang telah lama menyelam di kedalaman meditasi, kisah ini mengagumkan. Pencerahan tidak ada di tempat dan waktu yang jauh, setiap guru tercerahkan mengalaminya di saat ini. Makanya, pernah ada yang berpesan: Pencerahan teramat dekat, serupa buku karena teramat dekat banyak yang tidak bisa membacanya. Pencerahan teramat sederhana, namun karena pikiran menyukai kerumitan maka banyak yang tidak mempercayainya. Mungkin itu sebabnya judul karya klasik Larry Rosenberg (2004) adalah Breath by Breath.

Menyatu bersama tarikan dan hembusan nafas, temukan ketenangan, kelembutan, kesejukan. Kemudian baru bisa mengisi kehidupan dengan kemuliaan dan kasih sayang.

Menendang, Mencengkram

Menoleh pada menggunungnya penderitaan manusia saat ini dari penyakit badan, kejiwaan, sampai spiritual sesungguhnya sebagian lebih penderitaan manusia bukannya penderitaan alami, melainkan penderitaan buatan manusia sendiri. Sebutlah seseorang kalah dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Kalah adalah penderitaan alami. Namun marah-marah pada pemilih, nenuduh tanpa bukti pemenang dengan tuduhan politik uang, menghina Komisi Pemilihan Umum dengan tuduhan curang, menyerang orang lain secara berbahaya sehingga ditangkap polisi sehingga dimasukkan lembaga pemasyarakatan adalah penderitaan lebih besar yang dibuatnya sendiri.

Ini ciri khas manusia yang belum membadankan kesadaran, kesehariannya teramat sibuk dengan menendang atau mencengkram. Duka cita, kekalahan, sakit, dicaci dan hal yang menjengkelkan lainnya sekuat tenaga ditendang sejauh-jauhnya. Suka cita, kemenangan, dipuji, ditinggikan dan hal menyenangkan lainnya dicengkram sekeras-kerasnya. Padahal kehidupan serupa gelombang lautan. Gelombang tinggi (baca: kesuksesan dan kemenangan) tidak bisa ditahan keserakahan agar selalu tinggi selama-lamanya. Gelombang rendah (kegagalan, kesialan) tidak bisa dipaksa kesedihan agar cepat-cepat menghilang di bibir pantai. Semuanya berputar alami apa adanya.

Sejujurnya, tumpukan masalah manusia kekinian dari mau dibakarnya sebuah buku suci di Amerika sampai tingginya angka bunuh diri di mana-mana, serupa dengan cerita kekalahan dalam pilkada sebelumnya. Kesadaran dicengkram, dibawa pergi oleh perasaan dan pikiran. Ini yang menyebabkan manusia ketika marah kemudian melakukan hal-hal berbahaya. Namun melalui meditasi, pelan perlahan kesadaran berpisah dengan pikiran dan perasaan. Semakin dalam latihan meditasinya, semakin luas ruang yang tersedia di antara kesadaran di satu sisi serta perasaan dan pikiran di lain sisi.

Minum Teh

Sejujurnya, kemarahan, kebencian mirip mata pancingnya nelayan. Siapa yang menangkapnya akan susah sekali untuk lepas. Itu sebabnya, mata kesadaran diibaratkan dengan mata ikan yang terus menerus terbuka. Dalam tidur, mata fisik boleh tertutup, namun melalui yoga mimpi, bahkan dalam tidur pun mata kesadaran sebaiknya terbuka. Sederhananya, kesadaran mendalam tatkala terjaga bisa membuat seseorang sadar dalam mimpi. Ini kemudian membuahkan kualitas kesadaran ketika mati yang menentukan ke mana manusia akan pergi setelah mati.

Kendati demikian, meditasi tidak membuat seseorang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan guru yang paling tercerahkan sekali pun, bila putaran waktunya digoda, ia tetap akan digoda masalah. Bedanya dengan orang kebanyakan, guru tercerahkan mengolah setiap masalah menjadi berkah meditasi berupa berbunyinya bel kesadaran di dalam diri. Serupa akar beracun yang diracik menjadi obat. Makanya ada tiga jenis manusia di depan kehidupan. Pertama, mereka yang melawan kemudian penuh penderitaan. Kedua, manusia yang menyatu dengan setiap putaran kemudian mengalami kedamaian. Ketiga, Ia yang mengolah kejadian menjadi bahan pencerahan.

Berkaitan dengan ini, seorang sahabat asli Singapura yang teramat bosan melihat keteraturan di negerinya bertahun-tahun, suatu hari bahagia sekali ketika pertama kali sampai di Bali. Bukan karena terpukau keindahan gunung di Kintamani, bukan karena dipeluk kesejukan danau di Bedugul, bukan terkena vibrasi kedamaian pura Besakih. Tetapi tersenyum-senyum gembira melihat manusia mengendarai motor tanpa helm, satu motor dinaiki empat orang, plus ekspresi bahagia.

Bila sahabat Singapura tadi orang biasa, kemungkinan ia terjangkit penyakit manusia kebanyakan, menendang kekiniannya sebagai warga Singapura yang menderita di tengah keteraturan yang kaku, mengira orang Bali bahagia. Jika ia guru tercerahkan, mungkin ia melihat pengalaman pencerahan. Keempat warga Bali yang melaju di atas sepeda motor yang sama ini jelas sekali menyatu dengan tiupan angin, menemukan kedamaian dalam kekinian, membuka misteri keheningan dalam setiap kesegaran saat ini. Dalam pandangan guru tercerahkan, hidup adalah kasih sayang dalam tindakan. Kendati punyanya hanya sepeda motor, kesederhanaan bukan penghalang berputarnya kasih sayang.

Problema manusia kekinian, baru bahagia bila memiliki apa yang dimiliki orang lain. Atau menganggap nanti bahagia ketika sejumlah keinginan tercapai. Dan banyak sekali orang yang tidak berjumpa apa-apa dengan pendekatan ini, kemudian membuat kesembuhan, kedamaian, keheningan terbang entah ke mana.

Diterangi cahaya pemahaman ini, dibandingkan memperparah kehidupan melalui menendang yang menjengkelkan serta mencengkram yang menyenangkan, mungkin indah bila mengingat pesan guru yang bergumam: minumlah tehmu. Memeluk lembut kekinian dengan ketenangan, keteduhan, keindahan kasih sayang itulah kesembuhan, kedamaian, keheningan. Bagi yang sudah sampai sini, dengan senang hati memancarkan cinta ke delapan arah, berbahagia melihat yang atas berbahagia, berdoa untuk kebahagiaan mereka yang masih di bawah.

Bahan renungan:

1. Menendang yang negatif (kesedihan, kemalangan), mencengkram yang positif (kebahagiaan, keberuntungan), inilah akar semua penderitaan

2. Bila demikian keadaannya, bagus sekali bila manusia bisa bersahabat baik dengan hal yang positif sekaligus negatif. Sekaligus ini juga akar-akar kesembuhan

3. Saat berpelukan dengan kesembuhan terlihat terang, ternyata penderitaan sangat memurnikan, kesialan hanyalah bel kesadaran untuk menggali ke dalam secara lebih mendalam

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 Komentar

  • Guru.. apakah benar kasih sayang itu terkadang menyakitkan. seperti yang tiang lakukan. jujur tiang menjalani hubungan dengan seorang lelaki. tapi karena kasih sayng yg begitu besar dia menjadi menderita. kasih sayang tiang membuat tiang egois. bahwa dia milik tiang. dan takut kehilangan. yaa walaupun tiang sudah mengerti tapi susah melaksanakan. karena tiang merasa hidup ini sudah sangat sempurna

  • salam pak gede, saya mempunyai masalah rumah tangga yg rumit. Sy berusaha untk tetap setia kpd janji suci pernikahan selama 15thn. Suami sy banyak tergoda oleh wanita dan ada bbrp yg telah dinikahinya n punya anak. Intinya sy dimadu suami sdh 7th dg madu yg berganti2.. menyikapi kehidupan spt ini, sy berpikiran positif aja..inilah cara Tuhan untk menyadarkan bhw Tuhanlah yg hrs didahulukan..shg sy bisa menjalin hub yg baik dg istri yg lain. Anak dia sdh spt anak sy sendiri..semakin lama sy renungi kehidupan sy ..ada perasaan yg bergeser pd diri sy thd suami..maaf.. Kehidupan finansial sy semakin berat, sdh 2th dia tdk memberikan nafkah lahir ato batin. Akan ttp dia tdk mau menceraikan sy. sy lbh tenang jk dia tdk mengunjungi sy, krn setiap dia datang selalu membawa segudang keluh kesahnya dia. Spt layaknya anak mengadu kpd ibunya..dia k tmpat sy 2x seminggu. Alhamdulillah Tuhan memberikan kesempatan sy untk bekerja untk kebutuhan sy dan anak2 sy 2 orng. Jk sy rasakan sy lebih tenang jk tdk bersama dia, apakah perceraian menjadi solusi yg tepat untk perjalanan kehidupan dunia atopun spiritual sy ? Sy pingin hidup saya damai pak..mhn saran bapak. Salam