Kesembuhan Spiritualitas

MEDITASI KEBAJIKAN (MEDITATION ON KINDNESS)

Ditulis oleh Gede Prama

 

Tidak sekali dua kali ada murid mengeluh tentang praktek spiritualnya. Membaca buku sudah banyak, mendengarkan ceramah lebih banyak lagi, browsing di internet sudah bosan, tapi begitu menyangkut hidup keseharain tetap tidak ada perubahan. Setiap kali mendengar pertanyaan seperti ini, Guru di dalam kerap menjawab sederhana: Pengetahuan intelek adalah salah satu bibir sungai yang dalam, praktek keseharian adalah bibir sungai di seberang. Dan jembatan yang menghubungkan keduanya bernama meditasi.

Dan meditasi, meminjam pengalaman banyak Guru terdahulu, tidak lain dan tidak bukan adalah membiasakan batin. To meditate is to familiarize the mind, to meditate is to habituate the mind. Cuman, karena manusia sudah mengotori batinnya selama jumlah kelahiran yang tidak terbatas, butuh waktu lama dan ketekunan yang luar biasa untuk membiasakan batin. Tapi sesulit apa pun perjalanan panjang meditasi harus dilakukan bila menginginkan pertumbuhan spiritual.

Ada banyak sekali pendekatan, teknik, cara yang tersedia dalam meditasi. Tapi karena tema buku ini adalah merapikan tempat suci di dalam diri, maka dipilihkan pendekatan meditasi kebajikan. Terutama karena kebajikan adalah fondasi, tembok sekaligus atap tempat suci di dalam diri. Soal cara duduk, posisi tangan, obyek meditasi, waktu, tempat dll silahkan cari yang tepat sesuai dengan tingkat pertumbuhan masing-masing. Dan dalam meditasi kebajikan ini, fokusnya hanya merenungkan dalam-dalam bibit-bibit kebajikan yang ada, menyiraminya, kemudian puncaknya berbagi ke sebanyak mungkin mahluk yang ada di alam.

Pertama-tama lihat ke belakang sejauh-jauhnya. Meminjam Bhagavad Gita manusia sudah pernah terlahir lebih dari delapan juta empat ratus ribu kali. Menurut orang Tantra, kita sudah pernah terlahir dalam jumlah yang tidak terhitung. Dengan demikian, ada tidak terhitung mahluk di alam ini yang pernah jadi Ibu dan Bapak kita, yang pernah jadi Guru dan saudara dekat. Belum lagi bila dihitung dengan dokter dan perawat yang pernah merawat. Bagi yang memakan daging, tidak terhitung binatang yang dibunuh hanya agar manusia bergizi tubuhnya. Dalam totalitas, hidup kita berdiri di atas tumpukan kebajikan yang tidak berhingga.

Sehingga bila ada manusia yang meragukan dirinya apakah bisa menjadi bajik, tidak saja keliru, tetapi bertentangan dengan putaran waktu yang sudah berjalan panjang. Dalam bahasa tanaman, kebajikan itulah bibit kita yang sesungguhnya. Kebajikan, itulah Ibu spiritual kita yang sesungguhnya. Dan siapa saja yang hidupnya kering kerontang (tidak pernah puas, banyak protesnya, berkelahi) bisa jadi karena hidup terlalu jauh dari Ibu spiritual yang bernama kebajikan.

Oleh karena itu, inilah saat yang tepat untuk kembali mendekat ke Ibu spiritual bernama kebajikan terutama dengan menyirami bibit-bibit kebajikan yang ada di dalam diri. Caranya, yakini bahwa bibit kebajikan sudah ditanam lama di dalam sana. Kemudian, belajar menerima kehidupan apa adanya. Terutama menerima kekurangan-kekurangan kita. Menendang kekurangan serupa dengan menggendong batu dan pasir berat ke sebuah tempat jauh yang tidak ada hubungannya dengan membikin bangunan.

Bila boleh jujur, kalau ukuran manusia biasa yang digunakan acuan, bahkan para Nabi pun ada kekurangannya. Bedanya dengan orang biasa, orang suci menggunakan kekurangan sebagai bahan-bahan untuk rendah hati, petunjuk jalan ke mana perbaikan diri mesti dilakukan. Jika demikian cara memandangnya, manusia sesungguhnya mesti berterimakasih ke pihak-pihak yang menyakiti dan melukai. Pertama, orang yang menyakiti sedang memberi tahu kekurangan-kekurangan kita. Kedua, demikian baiknya mereka, agar kita menjadi baik mereka bahkan rela masuk neraka. Ketiga, bila ini runtutan berfikir yang dipakai, tidak saja tidak layak memarahi orang yang menyakiti, tetapi kita sebaiknya merasa bersalah ke orang yang menyakiti. Terutama hanya agar kita menjadi baik mereka kemudian masuk neraka.

Itu sebabnya, ke setiap mahluk (terutama ke mereka yang menyakiti dan melukai) disarankan untuk melihat mereka sebagai Ibu. Tidak saja Ibu bohong-bohongan, tidak saja Ibu di dunia fantasi, sekali lagi tidak. Tapi sangat mungkin orang yang menyakiti kita pernah menjadi Ibu kita. Mereka menyakiti karena mau memberikan peluang ke kita untuk membayar hutang-hutang karma yang belum terbayar.

Itu yang dilakukan ke pihak yang menyakiti. Sementara ke pihak-pihak netral dan menyayangi kita, seyogyanya kita juga menerapkan dua langkah sebagaimana ditulis dalam pintu belakang buku ini: yang paling baik yang bisa dilakukan adalah banyak membantu, bila tidak bisa membantu setidak-tidaknya jangan menyakiti. Inilah langkah-langkah konkrit menyirami bibit-bibit kebajikan yang ada di dalam diri.

Sejuk, lembut, indah demikianlah perasaan di dalam ketika manusia sering menyirami bibit-bibit kebajikan yang ada di dalam diri. Dan bagi siapa saja yang sudah menyirami bibit-bibit kebajikannya, ada tugas berikutnya yang menunggu yakni berbagi. Berbagi kebajikan tidak harus dilakukan dengan cara yang hebat dan besar. Memungut sampah yang dibuang sembarangan, mematikan kran air atau lampu yang lupa dimatikan, menjaga kebersihan lingkungan, menyayangi anak-anak, suami, istri, menghormati tetangga, sesedikit mungkin menggunakan sampo, sabun dan tas plastik (karena meracuni lingkungan), melepas burung dan ikan, hanyalah sebagian contoh tentang berbagi kebajikan yang ikut membuat diri kita jadi bajik kemudian.

Syukur-syukur bisa menyekolahkan anak-anak miskin, menghidupi orang tua jompo, mendirikan institusi pendidikan khusus anak-anak tertinggal, membangun atau memperbaiki tempat ibadah, membeli hutan kemudian dibiarkan tumbuh liar sebagai bagian dari penghijauan, bagi para sahabat yang jadi pejabat dan pemimpin menjadi tauladan dalam hal kejujuran, dan tentu saja masih banyak pilihan lain.

Puncak kebajikan ditemukan ketika seseorang mengalami pencerahan untuk kesempurnaan pertolongan pada semua mahluk yang ada di alam. Makanya, sebagian orang tercerahkan doanya seperti ini:

As long as there is space

As long as there are beings

Let me take rebirth again and again

To dispel the darkness of suffering

Semasih ada ruang, semasih ada mahluk, izinkan kelahiran terus menerus terjadi. Biar ada yang menerangi kegelapan penderitaan. Bila kebanyakan penekun spiritual teramat sibuk untuk membebaskan diri dari siklus penderitaan yang tidak berujung, mahluk tercerahkan di jalan ini malah berdoa agar terus menerus terlahir untuk menolong Ibu, Bapak, saudara dekat, Guru dan tidak berhingga mahluk yang sudah memberikan kebajikannya.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

3 Komentar

  • guru, bagaimana caranya meditasi? tiang masih kuliah di denpasar. tiang ingin sekali mengikuti meditasi guru.
    guru, saat tiang KKN di desa Belanga Kintamani, saya memimpikan Krsna. tiang slalu tidur bersama Bhagavadgitha. tiang juga kotor karena duniawi. tapi di saat itu Krsna datang ke mimpi tiang. tiang sgt bersyukur dan bahagia. Guru.. saya sangat berterimakasih karena ada Guru. byk ilmu yg saya dapatkan tapi terkadang saat dihadapi oleh cobaan langsung, masih tergida oleh kemarahan. padahal saya tau ilmunya. bagaimana cara meditasi di rumah Guru??

  • Om Swastiastu Guru,,

    Nama saya Adi.Dulu saya sering sekali bercakap cakap dengan guru melalui blog ini.Lebih lebih waktu saya ada masalah dengan rumah tangga saya,waktu itu saya sering berkonsultasi dengan guru di blog ini.Bahkan pertanyaan yang saya tanyakan sangat aneh aneh.

    Sampai suatu saat guru memberikan ajaran yang sangat penting yaitu ‘kurangilah bercakap cakap baik keluar maupun kedalam,dan cobalah belajar untuk istirahat dan hening’…

    sejak saat itu saya tidak pernah memberikan respon di blog ini..saya hanya membaca dan merenungkan apa yang guru tulis di blog ini.akhirnya saya sudah mulai mengenal apa itu hening,,diam dan istirahat.Karna di saat kita diam ,kita mau mendengar,dan saat kita mau mendengar,suara kosmik akan datng memberikan pelajaran.

    Sampai hari ini, saya tidak bisa menahan rindu saya mengunjungi Guru .dan Hari ini saya tdk menanykan apapun…saya hanya inginberterimakasih dan berdoa semoga Mahaguru selalu melindungi guru dalam memberikan fibrasi kedamaian bagi dunia
    Saya minta maaf untuk semuanya.

    Salam sejahtera
    adi

  • Om swastyastu Guru
    Smoga guru slalu dalam keadaan sehat. Guru saya bermimpi indah,sy ikuti saran Guru,sbelum saya tdr sy bac buku yg sy anggp salah satu guru sy YM Milarepa,sy bac sdikit bagian dr buku itu,lalu sy letakan di bwh bntal kpla sy,entah kenapa saya bermimpi indah.saya menyebutnya mimpi sya ‘berita baik’. Saya bermimpi ada cahya dibawa terbang seekor burung,tatkala sy melihat sy sedang dalm posisi tdr terlentang,beberpa saat kemudian burung & cahya itu menyatu menjdi cahya yg lebh besar dr sbelumnya terbang berchya membentk cahya gris lurus pendek &menghilang.
    Setelahnya itu Guru dtng krumah sy tnpa membwa apa2 hnya pakean yg sering Guru kenakan,entah kenapa Guru mandi,krna Guru hnya memakai pakean satu,sy sediakan kamen & slendang hijau,sy menyebtnya jg ‘brita baik’
    Kemudian guru mengjar di tmpat orangtua say blajar spritual,Guru saat di tempat itu mekekidungan yg saya tak tau artinya,guru dri orang tua saya bersma say & orng2 lainya duduk dibwh mendengrkan Guru mekekidungan dan mengjar,say menyebutnya jg ‘brita baik’.
    Trimaksh3x guru,smoga guru slalu membimbing murid,maafkan murid pernh berpikir kurng sopan kepd Guru,pernah brucp tdk sopan,&bertidak kurang baik,dan sering bertanya yg sesungguhnya murid tlah mlakukan planggaran2,maafkan3x.
    Smoga smua makhluk berbahagia,OM SANTHI SANTHI SANTHI OM.