Kesembuhan Spiritualitas

LUKISAN INDAH KEHIDUPAN

LUKISAN INDAH KEHIDUPAN

Entah mana yang benar, sejarah membuat tokoh atau tokoh membuat sejarah. Yang jelas sulit mengingkari kita hidup di putaran waktu yang amat kelangkaan tokoh. Di negeri Barrack Obama yang lama menjadi tauladan demokrasi, sudah mulai ada orang yang berteriak “bohong” saat presiden berpidato. Eropa sejarah pemimpinnya mulai ditandai oleh hal-hal tidak beradab seperti pemimpin dilempar sepatu. Kita di Indonesia serupa, oleh media dan kritikus pemimpin senantiasa duduk di kursi yang disalahkan. Bali yang ditulis oleh sejumlah penulis Barat dengan bahasa puitik seperti morning of the world, juga tidak ketinggalan. Pentas media dan politik berisi terlalu banyak perseteruan. Ciri dominannya cuman satu, semua mengaku benar, semua mau didengar.

Digabung menjadi satu, riuh sekaligus kisruhlah kehidupan. Tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk berpikir jernih, tanpa memberikan tempat bagi keheningan untuk lewat kendati hanya sebentar. Ciri khas zaman ini, sangat langka ada manusia yang menyediakan dirinya menjadi listening yogi. Menyediakan diri untuk mendengar dengan empati dan simpati, kemudian merangkai serpihan-serpihan kebenaran yang berantakan khususnya oleh politik, kemudian mewartakan ke publik bahwa apa yang kita ributkan membuat manusia menjauh dari kejernihan dan jalan keluar.

Dalam konteks listening yogi inilah maka hari raya Nyepi jadi relevan. Bagi anak muda yang masih teramat lapar akan sukses dan progress, keheningan kerap disebut membuang kesempatan untuk maju. Tapi bagi setiap jiwa yang sudah tumbuh dewasa secara spiritual, berpelukan lembut dengan tubuh kosmik (baca: isitirahat dalam keheningan) serupa menghirup udara segar. Tidak saja memperpanjang umur kehidupan, tetapi juga berjumpa wajah kehidupan yang semakin menyatu dari hari ke hari. Menyatu dengan alam, menyatu dengan semua ciptaan, menyatu dengan Tuhan. Tetua Bali menyebutnya tri hita karana.

Siapa yang berani menyelam ke kedalaman kehidupan seperti ini, kolam kehidupan yang tadinya keruh kemudian terang benderang terlihat. Ternyata dari zaman lahirnya nabi sampai zaman kini, kehidupan senantiasa dialektis. Serupa manusia yang membangun rumah kemudian dihancurkan rayap, di mana ada orang membangun, di sana ada kekuatan lain yang menghancurkan. Di mana lahir kesucian, di sana juga lahir kekotoran. Bila manusia biasa dibuat kisruh oleh pola dialektis kehidupan seperti ini, para suci duduk rapi di atas pertentangan dan dualitas, menyaksikannya kemudian memutar roda kasih sayang. Hadirnya rayap yang menghancurkan rumah (baca: hadirnya penggoda di setiap zaman) bukan alasan untuk menghentikan pembangunan. Sebaliknya, membuat kehidupan menjadi semakin halus dan semakin halus. Serupa Mahatma Gandhi yang halus karena hadirnya penjajah Inggris, mirip Nelson Mandela yang lembut karena dipenjara 27 tahun.

Amerika memang putaran waktunya sedang turun, Eropa memang sedang dibelit krisis, Indonesia memang sedang menata ulang dirinya, semuanya hanya manifestasi dari hukum dialektis yang sama. Dan ke mana pun siklus kehidupan sedang berjalan, peradaban memerlukan listening yogi. Yang bisa hening di tengah keramaian, mendengar tidak saja dengan telinga, mengumpulkan dan merangkai serpihan-serpihan kebenaran, kemudian mewartakan pada pemimpin khususnya. Pemimpin tidak ditakdirkan sebagai bagian dari pertentangan, melainkan diharapkan duduk rapi di atas pertentangan, melihatnya secara jernih, kemudian memutar roda keputusan hanya dengan kasih sayang.

Bila ini terjadi, Nyepi tidak saja berwajah penghematan energi, pengurangan emisi, memperkecil kemungkinan pemanasan global, tapi juga menjadi momen kontemplasi yang memungkinkan manusia keluar dari kolam kehidupan yang kisruh oleh kepentingan dan kekuasaan. Boleh saja ada orang yang melihat Nyepi dalam perspektif lain, namun dalam kaca mata kekinian yang kisruh, manusia memerlukan keheningan yang membukakan pintu bagi lahirnya listening yogi.

Dan bila yogi seperti ini lahir, benar seperti ditulis pemenang hadiah nobel sastra Rabindranath Tagore yang sepulang dari kunjungan ke Bali kemudian menyebut Bali sebagai morning of the world. Mentari pagi dari Bali untuk Bumi, mentari keheningan yang mengetuk pintu hati banyak manusia untuk mendengar karena teramat langka manusia di zaman ini yang mau mendengar. Kendati telinga manusia dua kali lebih banyak dari mulut, tetap memerlukan perjuangan keras bagi manusia di zaman ini untuk bisa mendengar. Padahal, hanya di kedalaman keheningan manusia bisa terhubung dengan tubuh kosmik, mengalami kebersatuan, kemudian bisa merasakan tidak saja setiap tempat jadi rumah (home), setiap waktu jadi home, tapi setiap keadaan batin jugahome (every state of mind is home). Dari sini baru mungkin hadir tangan-tangan pemimpin yang bergandengan dengan semuanya, kemudian membuat gerak kehidupan sebagai perjalanan pulang.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.