Kesembuhan Spiritualitas

SPA DI ALAM DOA

SPA DI ALAM DOA

Hujan kesedihan di mana-mana, mungkin itu cuaca spiritual bumi ini di awal 2011. Begitu derasnya hujan kesedihan, sampai-sampai serentak di tiga negara (Tunisia, Sudan, Mesir) terjadi revolusi menumbangkan kekuasaan. Indonesia serupa, sudah mulai ada orang yang menggunakan agama untuk menyerang penguasa. Sehingga lagi-lagi bumi ini diselimuti awan ketidakpastian.

Dalam kehidupan manusia kebanyakan, kesedihan tidak punya rumah lain terkecuali negatif. Karena negatif, maka semuanya lari sekaligus menendang. Ini yang menyebabkan sahabat yang terkena kanker kemudian menghujat dokter. Rekan aktivis korupsi marah ketika terdakwa korupsi dilantik menjadi kepala daerah. Teman-teman yang bertahun-tahun menghabiskan energi membangun persahabatan antaragama, belakangan sedih melihat rumah ibadah diserang.

Cuman, sebagaimana hujan bila musimnya tiba tidak ada yang bisa menahannya. Kita hanya mampu membikin waduk yang bisa menyimpan air persiapan musim kemarau tiba, sekaligus menghindari agar banjir tidak berbahaya. Sejarah mengajarkan, ada kesedihan yang berbuntut perkelahian seperti kisah kebanyakan negara Afrika. Ada kesedihan yang menjadi pupuk-pupuk pertumbuhan kemudian, sebagaimana kisah Jepang yang pernah dijatuhi bom atom belakangan bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia. Sehingga memberi inspirasi, akankah Indonesia menggunakan kesedihan sebagai awal percekcokan, atau terbukanya pintu terobosan.

Perhatikan tempat ibadah sebagai representasi kehidupan. Sebagian sahabat yang mata spiritualnya terbuka tahu, banyak tempat ibadah yang serupa taman kering yang tidak pernah disirami. Sebabnya, semua datang ke tempat ibadah hanya mau mengambil. Jarang sekali yang datang dengan niat memberi dan melayani.

Bila di tempat ibadah saja perilaku manusia seperti itu, tidak kebayang apa yang terjadi di kursi-kursi kekuasaan yang bergelimang uang dan kekayaan. Sehingga kembali ke analogi waduk yang menampung hujan deras kesedihan, kita memerlukan jauh lebih banyak elit yang berani mengambil kesedihan kebanyakan orang melalui pelayanan mengagumkan.

Ini yang dilakukan Panglima Besar Sudirman untuk Indonesia, Mahatma Gandhi untuk India, Nelson Mandela untuk Afrika Selatan, George Washington untuk Amerika Serikat. Ada yang serupa di antara mereka, ketika hujan deras kesedihan turun mereka memperuntukkan hidupnya seperti waduk. Pertama, mereka berani mengambil kesedihan manusia kebanyakan. Panglima Besar Sudirman tetap berjuang kendati badannya sakit. Nelson Mandela mengambil penderitaan rakyatnya dengan cara 27 tahun menderita di penjara. Kedua, sebagaimana waduk tatkala musim kering tiba semua air yang ada diperuntukkan pada orang lain. Ini sebabnya tatkala India merdeka, Mahatma Gandhi menolak duduk di kursi kekuasaan, George Washington mewariskan tauladan yang ditiru dunia dengan membuang jauh-jauh keserakahan akan kekuasaan.

Pidato mantan wakil presiden Amerika Serikat Al Gore di Jakarta Minggu 9 januari 2011 sesungguhnya menghadirkan secercah cahaya kebangkitan. Terutama karena Indonesia disebut bisa menjadi superpower dalam energi panas bumi. Cuman sebagaimana cahaya mentari, ia hanya memasuki rumah kita bila ada yang membuka jendela. Di antara banyak jendela, jendela terlebar bernama pengorbanan, terutama pengorbanan para elit.

Jendela berikutnya bernama pelayanan. Birokrasi kita memang sudah berubah, namun cerita Gayus Tambunan menguak tirai pelayanan birokrasi kita yang sangat menyedihkan. Jendela berikutnya bernama doa. Alam yang menerjang secara bertubi-tubi melalui letusan gunung, banjir dan tsunami adalah masukan jujur tentang seberapa dalam manusia telah berdoa di Nusantara.

Mudah menyerah bukanlah pilihan manusia bijaksana. Melalui jejaring sosial masing-masing kita bisa memulainya. Sebuah lentera memang tidak bisa menghalau semua kegelapan. Namun, bila satu lentera menghidupkan lentera yang lain, tidak saja lentera pertama tidak kehilangan cahaya. Tapi tugas penerangan bisa lebih mudah kemudian.

Dalam pesan seorang guru, apa pun kesehariannya, jadilah penerang melalui pelayanan. Secara bersama-sama kita bisa buat kesedihan menjadi spa di alam doa. Kesedihan hanya pijatan-pijatan kecil yang menyembuhkan kemudian.

Bahan renungan:

1. Kesedihan memang hadir di mana-mana. Tapi ia memberikan pilihan, apakah kesedihan akan menjadi awal keruntuhan seperti Afrika, atau menjadi awal kebangkitan sebagaimana Jepang.

2. Jalan yang ditempuh para bijaksana adalah menempatkan kesedihan sebagai vitamin pertumbuhan.

3. Di puncak pertumbuhan terbuka rahasianya, ternyata kesedihan hanya pijatan-pijatan kecil yang menyembuhkan kemudian. Semacam spa di alam doa.

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Komentar

  • Salam damai.
    Yth Bli Gede.

    Kehidupan saya selama36 thn sangatlah ekstrim dari segi ekonomi maupun kehidupan sosial, dimana kesialan Dan keberuntungan selalu menghentak hampir bersamaan selama kehidupan saya (saya bukan penjudi). singkatnya, kalau mengalami kesialan selalu di barengi dgn keberuntungan yg tidak Di duga2, begitu juga sebaliknya. Anehnya kesialan yg saya akan alami kebanyakan saya memimpikan sebelumnya. Dari memimpikan ibu sebelum kematianya,sampai kematianya dgn mimpi berseri. Dan juga memimpikan bapak memberi tahu kematianya, waktu itu saya Di luar negri Dan kematianya dirahasiakan.memimpikan kakak kencing Di upacara agama yg saya lakukan,sebelum dia korupsi pada perusahaan yg saya berikan untuk mengelola.sampai mimpi naik pesawat menuju sorga Di dampingi ibu yg sudah meninggal, namun pesawat jatuh Di tengah hutan badung, katanya kalau ingin tahu mata angin, harus sembahyang,pesawatnya terbang setelah itu.dan mimpi ini seperti cermin dalam kehidupan saya selama 12 tahun yg saya Mau tanyakan,apakah arti semua ini?? Dan apakah arti mimpi memegang bayi terbungkus kain putih hanya mukanya kelihatan,seperti patung tapi hidup Dan saya makan (untal)bayinya,Dan suara hati bilang bayinya adalah Buda, “itulah Buda”. Dan baru ini saya mimpi naik sepeda motor Di pertigaan jalan yg sering saya lewati,bisanya saya jalan lurus namun Kali ini saya belok kanan, jalan semakin menanjak semakin keatas sampai ” ngoper gigi satu” hampir tidak kuat namun akhirnya sampai Di puncak,s motornya sampai nyangkut di tengah candi bentar karena tidak ada tempat datar, Di balik c bentar saya melihat patung buda begitu besarnya dibilang patung ya bukan,karena matanya mengikuti gerakan saya, laku saya sujud seperti orang tibet. Setelah itu budanya mengecil sampai ukuran manusia,turun dari duduknya berjalan langsung lurus keluar candi bentar. Lalu ADA seorang berucap itulah maitreya. Namun dlm hati saya tidak puas,pasti ada sesuatu disini gumam saya, setelah saya berjalan kebelakang bekas patung buda, disana saya mendengar mantra seperti mantra buda Di tibet, Di nyanyikan pemangkunya di sertai suara genta, tapi anehnya semua pemedek dan pemangkunya orang bali,berpakaian,berupacara khas Bali.dan pemangkunya memberi tahu satu pemedek yg mau mengaturkan daging APA lagi daging babi yg mentah, pemangkunya bilang jangankan memakanya menyentuh saja saya tidak boleh. Setelah itu semua mengaturkan sembah dan sujud termasuk saya.
    Apakah arti semua ini????

    Hormat saya Made.