Kesembuhan Spiritualitas

LENYAP DALAM PERSEMBAHAN

LENYAP DALAM PERSEMBAHAN

Menyusul rencana pemilihan kepala daerah di beberapa tempat di Bali, seorang sahabat camat ragu: “akankah aman keadaannya?”. Di desa Tajun Bali Utara, jarang terjadi Galungan dan Kuningan dilaksanakan secara memprihatinkan, terutama karena panen cengkeh yang diharapkan besar, lenyap ditelan cuaca terlalu banyak hujan. Di Bali Selatan mulai ada yang mengeluh kalau kemacetan membuat Denpasar tidak seperti berada di Bali.  Dan kapan keraguan, kesialan, kesulitan menghadang, tetua Bali biasanya bertanya pada persembahan. Bedanya dulu dan sekarang, bila dulu tetua melakukan persembahan maka mayoritas generasi muda akan ikut. Sekarang, sebagian generasi baru cuman mengerutkan alis ketika diajak melakukan persembahan.

Kehidupan sebagai Persembahan

Di zaman sederhana dulu, persembahan sesederhana janur, bunga, buah, ngayah. Dan karena zamannya sederhana, kebanyakan tempat aman, nyaman, damai karena meguru abesik (berguru pada satu orang). Entah ia pemimpin formal berjabatan kepala desa atau bendesa adat, atau pemimpin informal tanpa jabatan, asal gurunya mengatakan ke timur, maka semuanya bergerak ke timur. Sekarang lain lagi, tidak saja yang berumur tua dan berpendidikan tinggi, bahkan generasi muda dengan bacaan dan pengalaman pas-pasan pun minta diakui sebagai pemimpin. Karena jumlahnya demikian banyak, maka riuhlah dunia baik materi maupun spiritual. Ini memberi warna tidak kecil pada wajah pembangunan tempat suci, penataan kembali tata ruang, sampai dengan ditelannya kejujuran dan kepolosan orang desa oleh politik uang di berbagai kesempatan pemilihan umum.

Digabung menjadi satu, karena ini zaman serba riuh krama Bali  memerlukan pengertian ulang tentang persembahan. Banyak sekali kemuliaan yang disembunyikan tetua dalam persembahan yang berumur tua. Dari ajaran suci, bagaimana kehidupan sebaiknya dilakoni, sampai bagaimana membuat keseharian menjadi shanti (damai). Dan kapan saja pengertian sudah demikian kisruhnya oleh kepentingan dan kekuasaan, maka inilah waktunya kita kembali ke hal-hal esensial, sekaligus berani meninggalkan variasi-variasi sampingan yang memperpanjang permusuhan.

Ada memang yang memperuncing keadaan dengan isu-isu primordial menakutkan yang bisa membuat Bali berbahaya, tapi di pulau kecil di mana keamanan dan kedamaian tidak saja menjadi subyek spiritual, tetapi juga menjadi isu yang berkaitan   langsung   dengan   isi   perut   kebanyakan  orang, sangat tidak disarankan memasuki wilayah seperti ini. Sebaliknya, berkonsentrasi di wilayah-wilayah bersama (common ground) tidak saja lebih mudah, sekaligus lebih indah. Dan wilayah bersama yang bisa cepat akurat memperbaiki keadaan adalah wilayah persembahan. Tidak saja karena itu keseharian orang Bali, tapi juga karena kebanyakan orang Bali percaya sekali bahwa di sana kebanyakan persoalan berakar.

Berangkat dari bahan seperti ini, mungkin ini waktunya untuk mendudukkan ulang pengertian bersama tentang persembahan. Menyempitkan pengertian persembahan menjadi janur, bunga, buah dan ngayah, mudah sekali membuat generasi baru menjauh. Atau membuat generasi terdidik merasa tidak nyambung. Persembahan mencakup sebuah spektrum yang luas. Bila kata puja acuannya, memuja mengandung arti menyenangkan. Dan manusia bisa memuja subyek persembahannya dengan banyak sekali cara.

Bagi yang masih aman nyaman dengan janur, bunga dan buah berikan ruang-ruang pertumbuhan. Di luarnya memang terlihat sederhana, mana tahu di balik tatanan janur, bunga, buah itu tersembunyi ketulusan yang mengagumkan. Dan bagi yang tidak lagi nyaman dengan baju luar, serta mau masuk lebih dalam lagi, puja bisa dilakukan dengan yoga, meditasi, mengajarkan Dharma, dll. Esensial dalam gerak puja seperti ini, tidak saja mencakupkan tangan di dahi dan di dada perlu dilakukan, tetapi merenung yang dalam kenapa kita mesti mencakupkan tangan, kenapa cakupan tangannya mesti sejajar, kenapa mesti tersenyum saat melakukannya, adalah rangkaian hal yang layak diendapkan.

Di zaman India kuno dulu, saat manusia mencakupkan tangan di ulu hati, ia akan berucap sejuk lembut: Namaste! Sederhananya,    saya    membungkuk   penuh   hormat   pada kesucian yang ada di dalam diri Anda. Kedua, sebagaimana kita masih praktikkan sampai hari ini, posisi tangan kanan dan kiri sejajar sempurna. Warisan maknanya, tidak saja sisi kanan (baik, kaya, cantik, ganteng) dari orang itu kita layak hormati, sisi kirinya (jelek, miskin, tidak menarik) juga mendapat penghormatan serupa. Ketiga, senyuman menandakan bahwa manusia sudah berhenti menjadi korban bagi kemarahan dan kedengkian, melainkan sudah menjadi tuan bagi kehidupannya.

Ini baru menyangkut salah satu gerak keseharian yang kerap disebut “sepele” oleh orang kebanyakan berupa mencakupkan tangan. Belum lagi bila diperluas dengan melihat tata ruang di tempat suci. Mengacu pada warisan Guru Besar Mpu Kuturan yang menempatkan Meru sebagai salah satu unsur penting Pura, Meru bercerita terang sekali. Ia berundak-undak bertingkat, dari sebuah dasar yang kokoh, kemudian menaik, menaik semakin mengecil. Menyisakan sebuah puncak yang menengadah ke atas. Sebagaimana tempat suci di mana Guru Besar Mpu Kuturan masih dipuja yakni pura Silayukti, dasar terkokoh dari perjalanan spiritual bernama sila (keseharian dengan moralitas yang luhur). Orang Bali biasa menyebutnya dengan pikiran yang indah, kata-kata yang indah, perbuatan yang indah. Ini fondasi bangunan spiritual yang terkokoh.

Bermodalkan dasar sila yang kokoh, kemudian perlahan samadhi (konsentrasi) semakin lama semakin tajam. Dari batin yang liar, kemudian semakin terfokus. Puncaknya yang tajam (sebagaimana puncak Meru) tidak saja kokoh tidak bergerak, terfokus di sebuah titik kecil, melainkan juga menyembah ruang kosong di atasnya yang kerap disebut keheningan sempurna. Tetua Bali menyebutnya nyepi lan ngewindu. Namun keheningan dan kekosongan bukannya tanpa makna apa-apa, ia memberi ruang pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Inilah urip lan nguripi (kehidupan yang menghidupi semuanya). Mirip sekali dengan konsep Tuhan di agama theistik (Hindu, Islam, Kristianitas) yang maha penyayang. Dan satu-satunya alasan kenapa para Bodhisattva dan Buddha terus menerus terlahir karena kasih sayangnya yang sempurna pada semua makhluk.

Tiga langkah ala Meru ini, di Tantra disebut dengan three trainings of higher person. Tiga latihan untuk jenis manusia yang lebih tinggi: moralitas keseharian yang luhur membantu penajaman konsentrasi. Dengan konsentrasi yang tajam inilah, yogi bisa memasuki gerbang keheningan sempurna. Dalam keheningan sempurna (serupa dengan dua tangan yang mencakup sejajar di ulu hati), rangda (awam menyebutnya wakil hal-hal yang menakutkan) tidak lagi bertempur dengan barong  (awam menyebutnya wakil kebaikan). Keduanya  lenyap ditelan kasih sayang. Inilah yang dimaksud dengan lenyap dalam persembahan. Semua gerak menjadi persembahan asal dilakukan dengan penuh kasih sayang. Bagi yang sudah sampai tahu, di tingkatan ini semua tempat berubah menjadi mandala (kesempurnaan), setiap suara menjadi mantra, semua kejadian menghadirkan bimbingan-bimbingan.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.