Kesembuhan Spiritualitas

PUTRI CENING AYU

PUTRI CENING AYU

Akhir Desember 2012 lalu, nyaris 300 orang (kebanyakan remaja) berkumpul tekun sekali bermeditasi di Bali Utara. Umur muda, miskinnya pengalaman, terbatasnya pengetahuan, berbedanya latar belakang bahkan sebagian datang dari luar negeri, bukan halangan bagi mereka untuk datang jauh-jauh ke Bali Utara. Ciri khas meditasi remaja, terlalu banyak remaja kita yang bermasalah dengan orang tuanya sekaligus hidupnya. Sehingga bila tidak ada upaya sengaja di kedua kubu (remaja dan orang tua) untuk memperbaiki diri, masa depan kemungkinan akan penuh dengan awan ketidaktahuan (clouds of unknowing).

Dahaga Jiwa

Nyaris semua kehidupan di zaman ini dahaga. Industri pariwisata yang terus bertumbuh adalah cermin dari rasa dahaga ini. Jauh-jauh datang dari belahan bumi lain, hanya untuk mengisi sebagian dahaga dengan cara berrekreasi. Anak-anak bersekolah, generasi muda yang bekerja keras, orang tua yang membanting tulang, orang bijaksana berdoa semua dilakukan karena ada rasa dahaga di dalam sini. Yang menyedihkan, sebagian orang mencoba mengisi dahaga jiwa di dalam sini melalui narkoba, seks bebas, korupsi.

Dan sebagaimana sudah dicatat sejarah secara amat rapi, semua dahaga jiwa yang mau dipenuhi dengan uang, seks dan narkoba, semuanya – sekali lagi semuanya – menimbulkan lubang-lubang jiwa yang lebih menyedihkan lagi. Ada yang tidak bisa diselamatkan dari ketergantungan narkoba, ada yang terpaksa melakukan kejahatan spiritual paling berbahaya bernama bunuh diri, ada yang terpaksa menjalani kehidupan di lembaga pemasyarakatan. Kita semua memang sekumpulan jiwa yang sedang dahaga, tapi dahaga itu tidak bisa diobati dengan cara menendang dan membuang. Seperti remaja yang mau membuang ketidaksempurnaan orang tuanya, atau sebagian orang tua yang menendang kekurangan anak-anak. Ciri khas jiwa-jiwa yang berbahaya, kekurangan dan ketidaksempurnaan semuanya mau dibuang. Padahal semakin kekurangan dibuang, kemudian semakin ia mengejar sebagai bayangan menakutkan yang membuat kehidupan menjadi gersang. Itu sebabnya, semua remaja yang menganggap orang tuanya gagal menyediakan lingkungan bertumbuh ideal di masa kanak-kanak, kemudian seperti pohon yang tercabut dari akarnya. Ia tidak menyisakan hal lain terkecuali kehidupan yang kering dan gersang. Di sekolah salah, di rumah tidak betah. Punya pacar menjadi masalah, diputus pacar jadi musibah.

Kesempurnaan dan Keutuhan

Itu sebabnya, di setiap sesi meditasi semua sahabat diajak untuk berhenti menendang dan membuang. Sebaliknya, belajar memeluk lembut setiap bagian kehidupan seperti langit memayungi semuanya. Terutama karena tidak ada sampah kehidupan, semuanya hanyalah bahan-bahan yang sedang berproses menjadi bunga. Orang tua yang gagal memberi lingkungan terbaik di masa kecil, orang tua yang bercerai, guru yang tidak menjadi tauladan yang baik, pacar yang menghianati, oleh sebagian remaja mau dibuang serupa membuang sampah.

Meditasi – demikian juga penyembuhan kejiwaan yang holisitk seperti pendekatan psikolog Carl G. Jung – sudah lama menjauh dari kemewahan kanak-kanak yang mau membuang sampah ketidaksempurnaan. Dalam meditasi, semua kejadian kehidupan (baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan) diletakkan sebagai pupuk di bawah pohon bunga kehidupan. Sehingga pada saatnya, semuanya berevolusi menjadi bunga mekar pencerahan. Itu sebabnya, para remaja tatkala dibimbing melalui guided meditation, diajak menyelam dalam bahwa semua mahluk pernah jadi ibu kita, tatkala jadi ibu kita mereka baiknya sempurna, sebagian ibu bahkan wafat melahirkan kita tatkala teknologi melahirkan masih sangat sederhana, para remaja kemudian menangis mendalam. Bukan karena cengeng, tapi karena remaja mulai menyentuh bagian-bagian batin yang selama ini pelengkapnya dicari di luar (seperti pacar dan orang tua), ternyata tersedia di dalam.

Salah satu peninggalan tetua Bali, berbentuk lirik lagu sederhana, namun memiliki karisma spiritual mengagumkan, sekaligus masih dinyanyikan sampai kini berbunyi seperti ini: “putri cening ayu ngijeng cening jumah, meme luas malu, ke peken meblanja apang ada darang nasi”. Di permukaan, lagu ini tidak menunjukkan keistimewaan. Tapi di kedalaman meditasi, lagu ini mewakili roh compassion pulau Bali.

Ia bercerita tentang kasih sayang sempurna seorang Ibu. Ketidaksempurnaan kehidupan seperti orang tua bermasalah, membuat bayi di dalam sini menangis. Dan bayi menangis tidak memerlukan kemarahan, ia memerlukan pelukan kasih sayang seorang Ibu. Dan lagu ini menjadi indah menawan secara meditasi, terutama karena mengundang kita untuk “merawat” kesedihan, kemalangan, kekurangan. Kesedihan adalah bayi yang sedang menangis, kesadaran adalah Dewi Kwan Im yang sedang mendekap lengkap dengan kasih sayangnya. Dan hanya dengan cara dirawatlah, kemudian kesedihan dan kemalangan bisa berproses menjadi bunga pencerahan kemudian.

Ciri jiwa yang sudah berhasil mengolah sampah kehidupan menjadi bunga pencerahan, ia bisa “ngijeng” (baca: tinggal aman nyaman di rumah). Terutama karena kesedihan adalah tanda kuat kalau anak-anak bermainnya terlalu jauh dari rumah. Dan hanya di rumah (baca: coming home) seseorang bisa menemukan kembali keutuhan yang telah lama hilang. Keutuhan – perhatikan ejaannya yang tertulis ke-u-Tuhan – inilah yang kerap disebut Tuhan. Di mana semuanya (baik-buruk, senang-sedih) dipeluk utuh sebagai bagian dari kesempurnaan yang sama. Itu sebabnya, dalam meditasi peserta dibimbing lirik lagu let it be (izinkan semuanya mengalir sempurna apa adanya).

Ini cara pandang kesembuhan yang disarankan untuk remaja. Bagi orang tua, setiap anak adalah berlian. Bila ada anak yang bermasalah, itu disebabkan karena orang tua dan sekolah belum cukup dalam menyelami samudra dalam diri anak-anak. Oleh karena itulah kerap dipesankan, anak-anak (khususnya yang bermasalah) adalah mahluk agung yang terlahir untuk menyempurnakan kualitas pencapaian spiritual orang tuanya.

Untuk itu, selami samudra dalam diri anak-anak. Caranya, terima, sayangi, rawat kekurangannya. Sebagai akibatnya, tidak saja orang tua bisa membimbing anak-anak menjadi berlian kemudian, orang tuanya juga menemukan bunga pencerahan di dalam diri. Serangkaian hasil yang bahkan tidak bisa dihadiahkan oleh buku suci mana pun. Meminjam Swami Vivekananda, buku suci di luar hanya bermakna kalau ia membantu kita membuka buku suci di dalam diri. Dan anak-anak lengkap dengan dinamikanya, adalah kekuatan yang bisa membuat orang tua menemukan buku suci di dalam diri. Untuk itulah, peninggalan tetua Bali berupa lagu “Putri cening ayu” layak kita renungkan ulang.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 Komentar