E-books Kesembuhan Spiritualitas

HADAPILAH KEPALSUAN DENGAN BATIN YANG BERSIH

guru gede prama1

Dimuat di koran Suara Merdeka, Minggu 19 Oktober 2008
Wartawan: Triyono Triwikromo

Lelaki kelahiran Desa Tajun, Singaraja, Bali Utara, ini dikenal sebagai filsuf sekalipun begitu, orang sangat paham ia juga merupakan pembicara andal di bidang manajemen. Pendidikan konsultan yang satu ini memang lebih berbasis ekonomi dan manajemen akan tetapi Gede Prama akhirnya justru lebih populer sebagai guru kehidupan. Apa pendapat lulusan MBA Refreshment Course di Prancis ini terhadap fenomena palsu-memalsu dan mental menerabas yang menghantui negeri ini? Berikut petikan perbincangan dengan penulis Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan ini di desa kelahirannya yang hening dan damai belum lama ini.

Belakangan fenomena palsu-memalsu termasuk pemalsuan dokumen di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang kian merebak. Mengapa tragik kehidupan semacam ini gampang terjadi di negeri ini?

Sebenarnya kehidupan kita itu seperti putaran alam. Ada siang yang terang. Ada malam yang gelap. Tampaknya sekarang ini kita sedang berada di putaran gelap. Ini merupakan Zaman Kaliyuga, Zaman Kegelapan. Seperti berjalan di kegelapan, kita ini membutuhkan orang-orang yang bisa menerangi peradaban. Sayang orang-orang semacam itu sedikit. Lebih sayang lagi, di semua bidang baik kedokteran, kepengacaraan, maupun kespiritualan pada zaman ini, barangkali yang palsu lebih banyak daripada asli.
Saya baru saja membaca buku Brings of the Dawn atau Pembawa Cahaya. Buku berfantasi spiritual ini menyatakan, Bumi ini merupakan wilayah perebutan dan dalam waktu lama dikuasai oleh kekuatan gelap. Sang pengarang lantas menunjuk titik-titik gelap di bumi tempat terjadi konflik, perang, dan permusuhan.
Saya tidak ingin mengatakan yang palsu itu benar atau jelek. Namun saya hendak mengatakan fenomena kepalsuan ini terjadi karena kita memang sedang berada dalam pusaran waktu yang memungkinkan segalanya digoda untuk bergerak di titik yang gelap. Karena itu semua angka kepalsuan naik. Pencurian di Bali juga naik dan pencurinya orang-orang Bali, bukan hanya orang. Barang-barang suci di Bali pun dicuri juga oleh para pencuri Bali. Bali yang memiliki sejarah religiusitas yang tinggi telah berubah sekalipun presentasinya masih kecil.
Mari kita bersahabat dengan putaran zaman. Jika pun kepalsuan tidak bisa kita tiadakan, saran saya terhadap teman-teman yang menyukai kepalsuan, pada saatnya nanti Anda akan dihukum oleh perbuatan sendiri. Sebagai contoh, Marcos Presiden Filipina saat meninggal mayatnya tidak diterima di negeri sendiri. Ini menunjukkan jika Anda menyukai kegelapan dan kepalsuan, hidup Anda juga akan diseret oleh kegelapan dan kepalsuan. Jika Anda hidup di jalan yang agak terang, memang tidak membuat Anda cepat kaya, tetapi setidak-tidaknya Anda akan hidup dalam kedamaian.
Saat ini kita memang masih lama mendapatkan guru pencerah sekaliber Nabi. Mungkin yang bisa kita lakukan adalah setiap orang menjadi penerang di lingkungan masing-masing. Jika saja di Bali yang berpenduduk 4 juta ini memiliki 10 saja guru asli, keadaan akan menjadi lebih baik. Atau jika kita tidak bisa menjadi guru di lingkungan masing-masing, setidak-tidaknya menjadi guru di keluarga sendiri. Inilah cahaya kecil yang bisa kita wariskan saat kita meninggal.

Ya, kita memang tidak mungkin pada masa ini mendapatkan cahaya besar. Namun jika cahaya-cahaya kecil itu banyak, akan terang juga. Lilin itu bercahaya kecil, tetapi jika 2 miliar batang, apakah tidak akan menerangi semesta?

Hanya perlu saja ingatkan, setelah habis masa zaman kegelapan, kita akan memasuki zaman terang. Karena itu, janganlah berkecil hati menghadapi zaman yang serbapalsu dan gelap ini. Yang menjadi persoalan, kita tidak tahu kapan zaman kegelapan segera berlalu.

Bukankah palsu-memalsu ini sangat berkait dengan mental menerabas?Mengapa kita juga rela hidup dalam kebrengsekan semacam ini?

Di semua tempat memang tumbuh generasi instan. Ada banyak orang ingin pintar tetapi tidak mau belajar, ingin kaya tidak mau bekerja keras. Ini melanggar hukum alam. Anda bisa merampok, tetapi bisa juga Anda masuk ke penjara.
Terus terang, ada beberapa lembaga besar yang pengaruhnya kian menurun. Yang pertama adalah agama. Yang membuat saya sedih, di Eropa, yang ke gereja hanya 10 persen. Yang kedua adalah pendidikan. Wibawa pendidikan juga mulai menurun. Hasil dari pendidikan para doktor dan ahli justru melakukan korupsi. Ini sangat mengecewakan. Minat orang tua di desa saya untuk menyekolahkan anak juga tidak terlalu tinggi. Yang ketiga, institusi keluarga juga sedang runtuh. Sangat banyak perceraian.
Inilah suatu masa terjadi peradaban berguncang keras dan pada saat sama kita hampir tidak memiliki pegangan. Karena itu di Barat, misalnya, orang kian berburu pegangan berupa spiritualitas dan religiusitas. Pegangan mereka bukan lagi kotak-kotak agama. Yang menjadi intisari religiusitas: pertama, mengurangi sekecil-kecilnya berbuat jahat. Kedua, melakukan tugas sebaiknya. Ketiga, memurnikan hati dan pikiran. Spiritualitas dan religiusitas ini bisa menyatukan kelompok-kelompok yang ratusan tahun bertikai. Orang-orang Hindu, Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dan agama lain masuk dalam ruang yang sama. Itu sebabnya dalam Global Paradox Naisbitt bilang, Religion no, Spirituality yes. Anak-anak muda Indonesia juga kian tekun berburu spiritualitas dan religiusitas. Kian banyak majelis taklim yang mengundang orang-orang lain yang berbasis keyakinan lain.
Persoalan kita: bagaimana kita menularkan pencarian cahaya terang ini ke lingkungan sekitar. Sekali lagi kita tak mungkin menghilangkan kepalsuan dan kegelapan, tetapi jangan sampai mereka dominan.

Apa yang harus dilakukan konsumen pada saat mendapatkan dokter palsu, pemimpin palsu, atau bahkan nabi palsu?

Ya inilah sebuah zaman yang mengharuskan kita superhati-hati. Dulu kita percaya dengan diagnosis satu dokter untuk tindakan operasi yang akan kita lakukan. Sekarang kita memang harus menggunakan opini kedua dan ketiga dari dokter lain. Terhadap pemimpin palsu atau nabi palsu, kita juga harus bersikap sangat hati-hati. Terutama di bidang spiritualitas dan religiusitas, kita harus berhati-hati saat berjumpa dengan sang guru kehidupan. Kadang-kadang yang asli terlihat palsu, yang palsu terlihat asli.
Namun jangan khawatir. Kita masih memiliki filter. Filternya: Anda harus membersihkan batin Anda. Jika batin Anda bersih, batin hanya akan terhubung baik dengan yang bersih. Dan untuk menghasilkan yang baik itu, jika Anda Islam, ya lakukan syariat Islam sebaik-baiknya. Jika Anda Kristen, ya lakukanlah Sepuluh Perintah Tuhan sebaik-baiknya, jika Anda Buddha, lakukan Sila sebaik-baiknya juga.
Memang ada perbedaan cara melakukan, tetapi ada satu kegiatan yang sama yang juga bisa dilakukan: membersihkan batin. Dalam batin yang bersih, Anda akan mendapatkan guru kehidupan yang bersih. Jika batin Anda bersih, melihat Sidharta Gautama mungkin hanya mendapatkan tubuh yang berbadan besar dan bertelinga tebal. Jika batin bersih, bisa saja saat bertemu dengan tukang parkir pun Anda menganggap bertemu dengan sang sumber kesucian.
Pendek kata, bersihkan batin Anda. Dengan batin yang bersih, Anda seperti sudah menyalakan lilin pada waktu yang gelap. Tindakan ini sekurang-kurangnya, tidak akan membuat Anda tersandung. Ciri-ciri orang berbatin bersih, mereka tidak akan tertarik mengikuti yang palsu-palsu. Jika Anda tertarik mengikuti yang palsu-palsu, itu pertanda lilin pencerah Anda belum menyala.
Jika kian banyak lilin yang menyala, kian banyak orang-orang yang berada dalam kegelapan menemukan alternatif.
Di sana ada cahaya, ke sana kita akan pergi. Bayangkan jika semua berada dalam kegelapan, maka segala tembok akan kita tabrak.
Ya, saya percaya pada teman-teman di Barat yang bilang, Pada putaran zaman sekarang ini tidak mungkin muncul cahaya matahari nabi seperti dulu. Jika pun ada, guru-guru semacam itu akan dicurigai.

Apa sanksi bagi para pemalsu?

Alam sudah memiliki hukum lengkap. Tidak perlu ditambah lagi hukum-hukum baru. Jelasnya: di sungai ada makhluk lembut bernama air, ada barang keras bernama batu. Air karena lembut bisa pergi ke tempat-tempat yang jauh dari gunung ke laut. Batu karena keras seumur-umur berada di satu tempat. Jadi bagi mereka yang mencintai kesucian dan kebersihan batin, ia akan sampai di tempat yang jauh. Bagi mereka yang mengikuti jalan batu, berhati-hati, bisa masuk penjara. Jika tak korupsi, Anda tak perlu takut sekalipun sepeleton anggota Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) mengepung rumah. Jika Anda korupsi, berhadapan dengan orang-orang berambut cepak saja, Anda anggap bertemu intel.
Jadi sekali lagi, tidak perlu menambah sanksi baru. Sudah ada hukum yang sempurna dan biarkan siapa pun hidup dan mengikuti perputaran hukum. Mereka akan terhukum oleh perbuatan sendiri. Jika saat ini belum terhukum, itu hanya persoalan waktu.

Jadi ada semacam azab yang secara otomatis menghukum para pemalsu?

Hazrat Inayat Khan pernah bilang, Engkau yang memberi berkah kepada orang baik, Engkau juga yang memberi musibah orang jahat. Lalu ada jawaban, Bukan. Bukan. Orang jahat itu mengundang musibah bagi dirinya sendiri. Orang baik mengundang berkah dirinya sendiri.
Dalam bahasa Hindu-Buddha, Tuhan tidak mengubah hukum, tetapi membiarkan bekerja sendiri. Jika kau berbuat jahat dan tak masuk penjara, tidur Anda tak akan tenang.

Oke banyak penganjur kebajikan, tetapi mengapa juga banyak penganjur peradaban kepalsuan?

Jika bertolak dari gambaran alam yang tampak pada lambang yin-yang, Itu karena mereka mau putih, tetapi tidak mau hitam. Mau baik, tidak mau buruk. Kebahagiaan dengan berpikir semacam itu akan datang dan pergi begitu saja. Anda senang saat bahagia, dan marah-marah saat berduka. Itulah cara memandang hidup yang hitam putih.
Sekarang kita lihat gambaran yang lebih holistik. Putih ada karena ada hitam. Hitam ada untuk memperterang putih. Orang suci tak terlihat jika tidak ada orang jahat. Muhammad menjadi tampak bercahaya karena ia hidup pada zaman jahiliah. Yesus begitu juga. Jika Yesus, Siddharta, dan Muhammad berkumpul tak akan kelihatan. Di sesama cahaya, cahaya-cahaya itu tak akan kelihatan.
Saran saya jika Anda mencintai kebajikan, sinar terang, dan sebagainya janganlah membenci kejahatan secara berlebihan. Namun kebencian berlebihan terhadap kejahatan, justru mempertunjukkan bahwa kita sendiri jahat. Mereka ada untuk membuat Anda yang suci akan tampak lebih terang.

Jadi, apa kata sederhana untuk berhadapan dengan yang palsu?

Hadapi para pemalsu itu dengan batin yang bersih. Hadapilah kejahatan itu dengan cinta. Cinta dalam artian yang dalam. Bukan cinta yang ingin menyogok Tuhan.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Komentar

  • Om swastyastu pak gede
    saya sangat senang membaca tulisan pak gede, setap selesai membaca terasa ada kebenaran yang terungkap ,yang di luar pemikiran saya.Suksma