Kesembuhan Spiritualitas

MELUKIS EMOSI JADI HARMONI

MELUKIS EMOSI JADI HARMONI

Di dunia spiritual mendalam, sebagian sahabat sangat membenci emosi. Terutama emosi negatif seperti marah dan benci. Bila boleh jujur, bahkan setelah tercerahkan pun emosi tetap ada di dalam. Kendati oleh makhluk tercerahkan hanya disaksikan dengan senyuman. Di sisi biologi, badan terbuat dari tanah, air, api, udara, ruang. Unsur api di sisi biologi memiliki mitra di sisi psikologi dalam bentuk emosi. Sehingga semasih seseorang memiliki tubuh biologi, selama itu juga emosi akan tetap ada.

Survival of The Fittest

Dalam karyanya berjudul Expression of the Emotions in Man and Animals, Charles Darwin terang sekali bercerita bahwa manusia memiliki ekspresi emosi serupa di mana-mana. Lebih dalam dari itu, penemu teori evolusi ini berspekulasi, emosi adalah kunci penting bagi keberlangsungan sebuah spesies (survival of the fittest).

Di zaman Darwin, ini memang hanya sebuah spekulasi. Di zaman ini, ia didukung oleh banyak sekali penelitian akademis. Candace B. Pert, Ph.D adalah salah satu ilmuwan yang teliti sekali dalam soal ini. Dalam karya indahnya berjudul Molecules of Emotion, ia bercerita terang dan dalam, bagaimana emosi berperan besar dalam proses kesembuhan baik biologi maupun psikologi.

Emosi, demikian guru besar peneliti di Departemen Fisiologi dan Biofisika di Universitas Georgetown ini menulis, bisa menjadi sumber penyakit, bisa juga menjadi sumber kesembuhan. Di sejumlah penelitian terlihat terang benderang, tiap perubahan dalam emosi diikuti perubahan di sisi fisiologi. Kembali ke spekulasinya Darwin, hati-hati dengan emosi. Ia menentukan seberapa lama sekaligus seberapa bahagia seseorang akan hidup.

Survival of The Kindest

Di psikologi, emosi adalah bidang kajian yang luas dan terbuka. Sigmund Freud menggarisbawahi trauma dan perasaan yang ditekan-tekan selama bertahun-tahun, terutama di umur nol hingga sepuluh tahun. Semakin banyak trauma dan perasaan yang ditekan-tekan, semakin labil seseorang secara emosi. Itu sebabnya Freud menyarankan untuk mengekspresikan emosi secara sehat melalui buku harian, persahabatan dan dialog.

Carl G. Jung melalui archetype-nya lebih dekat dengan meditasi dan filsafat Timur. Dengan simbol lingkaran sempurna (mirip bumi, bulan purnama, matahari), emosi hanya rangkaian energi yang mengalir. Ia sesederhana malam berganti siang, atau musim panas berganti musim hujan. Rasa sakit terjadi karena seseorang gagal mengalir, kesembuhan terjadi karena seseorang menyatu sempurna dengan tiap aliran kekinian.

Sebagaimana langit yang alaminya berwarna biru, kebersatuan dengan kekinian secara alami melahirkan kebaikan. Terutama kebaikan untuk menolong agar semua makhluk bisa sembuh dengan cara mengalir. Tatkala menolong, seseorang tidak saja sedang meringankan beban orang lain, tapi juga sedang membangkitkan perasaan bermakna dan berguna. Rasa berguna dan bermakna inilah yang bisa memperpanjang umur seseorang. Inilah survival of the kindest.

Lukisan Harmoni

Itu sebabnya di jalan meditasi, terutama di tingkat kesempurnaan (bukan di tingkat pertumbuhan) orang disarankan berputar di lingkaran sempurna: “terima, mengalir, senyum”. Rasa sakit seperti bayi menangis, kesadaran digambarkan dalam bentuk seorang ibu yang mendekap putra tunggalnya.

Meminjam hasil penemuan psikolog Inggris John Bowlby di tahun 1960an tentangattachment theory, sejak lahir otak kita secara biologis didesain untuk penuh cinta dan peduli. Sehingga tatkala seseorang belajar “menerima, mengalir, tersenyum”, ia sedang kembali ke rumah alami otak. Sebagaimana gunung, pantai, sungai yang alami terlihat dan terasa indah, emosi yang diterima, dibiarkan mengalir, dan didekap dengan senyuman, kemudian berubah jadi lukisan indah harmoni.

Pengertian menerima, mengalir, senyum bukan berarti marah semaunya, benci sekehendak hati. Sekali lagi bukan. Serupa dengan tukang taman. Yang ditanam memang hanya rumput Jepang, tapi rumput liar ikut tumbuh. Dan rumput liar ini (baca: emosi negatif) terus menerus dicabut tanpa keluhan. Sudah menjadi sifat alami taman, di mana ada rumput di sana ada rumput liar. Menerima sifat alami rumput sebagai rumput, rumput liar sebagai rumput liar, itulah lukisan indah harmoni.

————————————–

 

English Note: English speaking friends, the messages that flowing through me can be accessed in twitter @gede_prama or web //www.bellofpeace.org

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Komentar

  • agus adi mahayoga • 3 years ago
    salam guru..
    menerima. kata sederhana itu yg
    saya jumpai diujung penderitaan.
    menerima tidak jauh. dia ada
    disaat ini. di detik ini. dia tak
    menolak pikiran yg datang.
    dia tak menolak pekerjaan yg
    datang.
    dia tak menolak apapun berkah
    didalam dan diluar. dialah
    menerimA. dia tak ada jauh
    didepan dan tak juga dibelakang
    dia disaat ini. dia membukakan
    pintu kedamaian bagi saya guru..
    benar guru seperti ibu pertiwi.
    seperti samudra yg luas. indah
    kata ini jauh sekali berada
    tersembunyi dalam semak jiwa.
    dan penderitaan menghantar saya
    menjumpainya.
    suksma guru gedeprama

    sri • 3 years ago
    salam hormat pada Guru, matur sukmsa Guru atas pencerahannya.

    bay • 3 years ago
    mengalir saja dulu

    komang • 3 years ago
    Suksma Pak Gede,
    Alam semesta raya (Tuhan) bergerak dalam lingkaran yang harmonis bernama Utpeti-Stiti-Pralina. Dan kita sebagai salah bentuk fisik yang tercipta dari proses tersebut, emosi adalah sebuah keniscayaan. Dan jatukarma dari emosi adalah kesadaran.

    Dumogi kenak rahayu sinarengsami.

    yulie • 3 years ago
    terimakasih, pelajaran yang amat luar biasa untuk hari ini, menerima, mengalir, senyum
    🙂

    sendy huang • 3 years ago
    Namaste, Guru,,

    matur suksme atas penjelasannya

    ,, (^_^),,

    trisnahardianto • 3 years ago
    Saya melihat setiap artikel yang anda tuliskan sangat layak untuk di pahami dan disebar luaskan kepada lebih banyak orang, mohon izin “meng-copy” tulisan anda untuk disebarkan kel lebih banyak orang dengan berbagai cara yang saya mampu lakukan, dengan tetap mencantumkan nama anda sebagai penulis tentunya,

    saya akan sangat senang dan berterimakasih jika, saudara yang baik hatinya, memberikan izin sesuai harapan saya, terima kasih. 🙂

    arya wirawan • 3 years ago
    excellent…!!!, kindly continue to share to other people.

    TD Ginting • 3 years ago
    MEDITASI

    1.

    biar
    biar daun
    ber(b)isik, danau
    ber(ter)iak, dengarkan.

    2.

    mari
    mari diam
    men(y)epi dan
    men(y)ebar damai

    3.

    menerima,
    mencipta harmoni:
    men(y)egarkan hati
    men(y)enangkan hidup.

    anton007 • 3 years ago
    Menenangkan sekali…

    made tanada • 3 years ago
    Terimakasih bapak gede prama….

    sutrisno mukadi • 3 years ago
    Terima kasih guru, membaca artikel guru, sy tidak jadi emosi …semoga bisa ketemu dalam meditasi bulan pebruari 2014 di jakarta.amin

    Terima kasih..sekali lg terima kasih///rahayu guru

    wasalam sutrisno mukadi

    maschun sofwan • 3 years ago
    keren

    udyn • 3 years ago
    Dari yg saya baca…emosi sebenarnya sama…baik positif maupun negatif hanya energi yg tercipta dan mengalir…bagaimana kita merespon energi trsbutlah akan memunculkan sikap kita…marah hanya akan menguras energi…kasih sayang akan menciptakan energi…diciptakan oleh pikiran…dirasakan dan dinikmati oleh hati…apapun pikiran tsb akan menjadi perasaan yg positif…smoga semua mahluk berbahagia…rahayu guru…masih bnyak yg harus dipelajari dan dipraktekan…

    i kadek adi pradana • 3 years ago
    Terimakasih Guru