Kesembuhan Spiritualitas

TAMAN PENCERAHAN

TAMAN PENCERAHAN
Ditulis oleh Gede Prama

TAMAN PENCERAHAN

“Di mana rumah kita yang sesungguhnya?”, ini pertanyaan banyak sekali pencari. Agama-agama sebagian menunjuk surga setelah kematian sebagai rumah sejati. Tetapi di zaman di mana ilmu pengetahuan dan teknologi sudah demikian canggihnya, dogma tentang surga tidak lagi memuaskan bagi sebagian pencari.

Di jalan meditasi khususnya, surga sebagai rumah tidak banyak dibahas. Yang menarik minat banyak pihak adalah rumah pencerahan. Sebagaimana istilahnya, pencerahan menghadirkan kehidupan yang cerah dan terang, jauh dari kegelapan kebingungan dan ketidaktahuan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana orang bisa sampai di rumah pencerahan?
Ciri khas perjalanan di jalan meditasi, semua yang dicari tersedia secara berlimpah di dalam diri. Sehingga tugas seorang pencari mirip dengan seorang tukang taman yang berpengalaman. Tanah subur, pepohonan indah, air, matahari semuanya sudah tersedia di dalam. Pekerjaan rumahnya cuman satu, bagaimana meracik unsur-unsur unik di dalam diri sehingga kehidupan bertransformasi menjadi taman pencerahan.

Mirip dengan pepohonan, ada bunga kamboja yang memerlukan sedikit air, ada bunga lotus yang memerlukan banyak sekali air. Demikian juga taman di dalam. Masing-masing memiliki ciri-ciri unik yang layak dikenali. Itu makanya ada Guru yang berpesan: “raja segala pengetahuan adalah pengetahuan tentang diri”.

Indahnya meditasi – terutama di tingkat kesempurnaan bukan di tingkat pertumbuhan – tidak ada unsur-unsur diri di dalam yang dibuang. Tukang taman berpengalaman tidak membuang sampah taman. Semuanya diolah menjadi kompos, diletakkan di bawah pohon bunga, sehingga sesuatu hari mekar menjadi bunga.

Dengan cara yang sama, seorang pencari di jalan meditasi tidak membuang kemarahan dan ketakutan, melainkan mengolahnya menjadi bunga-bunga indah pencerahan. Dalam bahasa yang ringkas, padat, dalam: “kemarahan dan ketakutan adalah kompos yang sedang berevolusi menjadi bunga pencerahan”.

Dengan pendekatan ini, seseorang tidak saja menghentikan seluruh pertempuran di dalam yang menjadi sumber banyak penyakit dan konflik, tapi juga secara tekun merawat taman di dalam. Pertama-tama seseorang mengenali taman di dalam. Dengan berkah ketekunan dan ketulusan, suatu hari taman di dalam mekar menjadi pencerahan.

Konkretnya, pencerahan memerlukan dua jenis tumpukan kekayaan. Pertama adalah tumpukan kebajikan (accumulation of merits). Ini mirip dengan menanam bibit-bibit pohon bunga di dalam. Memaafkan, menerima, melayani, mencintai adalah sebagian cara yang tersedia. Kedua adalah tumpukan kebijaksanaan (accumulation of wisdom). Kekayaan kebijaksanaan bisa dikumpulkan melalui praktik kesadaran yang mendalam.

Tumpukan kekayaan kebajikan bisa ditabung dalam kehidupan sehari-hari. Namun tumpukan kekayaan kebijaksanaan bisa dikumpulkan dengan cara melakukan apa pun kegiatan keseharian dengan penuh kesadaran. Makan, minum, kerja, doa, mengendarai kendaraan, semua dilakukan dengan penuh kesadaran. Kapan saja ada kejadian ekstrim (terlalu sedih atau terlalu senang), kembali ke nafas, terhubung dengan energi kesadaran yang ada di dalam.

Diantara banyak praktik kesadaran, yang terdalam bernama paratantra yakni memandang setiap orang dan kejadian sebagai sebuah jejaring sebab akibat yang rumit. Orang yang marah sebagai contoh. Di balik kemarahannya ada orang tua yang tidak dewasa, pendidikan yang tidak mendidik, lingkungan yang menyedihkan, dll. Dengan cara pandang seperti ini, orang marah tidak mengundang kemarahan, sebaliknya membuat bunga belas kasih mekar di dalam.

Inilah taman pencerahan. Tumpukan perbuatan baik membuat seseorang menanam bibit-bibit di dalam. Praktik kesadaran mendalam membuat bibit-bibit itu mekar menjadi bunga indah. Dan satu-satunya alasan kenapa bunga ini mekar adalah untuk menyempurnakan pelayanan kepada semua mahluk.

Penulis: Gede Prama.
Photo Courtesy: Twitter @fatihalanresmi.

Pesan Gede Prama dalam bahasa Inggis bisa dibaca di bellofpeace.org, fb home of Compassion by Gede Prama, atau Twitter @gede_prama

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 Komentar

  • GST BGS MERTHADI • one year ago
    SUKSMA GURU DARI TAJUN MEMBERI PENCERAHAN KESEMUA ANAK ADAM KESELURUH DUNIA

    herryherrys • one year ago
    Sungguh mencerahkan pak gede prama , di saat teknologi yang berkembang pesat saat ini dan begitu banyak manusia yang hidup hedonis. Kita masih diingatkan kembali kepada kodrat kita sebagai hamba Allah.. Yang seringkali kehilangan smartphone lebih penting dibandingkan kehilangan keversamaan sebagai keutuhan keluarga.

    inyoman ariana • one year ago
    Matur suksma Guru, pencerahannya.

    eduard g p • one year ago
    Thanks Pak Gede Prama…sangat indah

    gunakasih • one year ago
    Matur suksma guru atas pencerahannya. Semoga disisa waktu ini sebelum pulang ke rumah wayah masih bisa melakukan sebuah pekayanan yang dipenuhi dengan bunga bunga bermekaran penuh cinta kasih, ketulusan dan keihklasan

    Intan • one year ago
    Matur Suksma, Matur Nuwun Guru….

    wayan sudika • one year ago
    Terima kasih Pak Gede, ….rayayu!

    adi wirawan • one year ago
    astungkare banyak yg tercerahkan sehingga bunga mekar di mana mana

    Gusti • one year ago
    Suksma Pak Gede smoga terus bisa menginspirasi smua manusia…dumogi rahayu pk gede

    Gede Jadiarte • one year ago
    Matur suksma Guru

    Rivaldi • one year ago
    GURU….bimbingan tulusmu membawa pencerahan
    GURU….buku sucimu mengajarkan kedamaian dan
    belas kasih
    GURU….makna simbolikmu penuh ajaran
    kehidupan
    GURU….biarlah Engkau tetap menjadi rahasia
    hidupku.
    MATUR SUKSMA GURU

    i kadek adi pradana • one year ago
    Terimakasih Guru 🙂

    v.gopal • one year ago
    terimakasih Guru….Semoga semua makhluk didunia damai dan berbahagia.

    Gede Juliarta • one year ago
    Matur suksma Guru, mohon izin share.

    resti • one year ago
    Guru terima kasih banyak

    putu • one year ago
    OSA, Pak Gede
    Batin sy terasa sejuk membaca tulisan pak gd, cuman masih ada ganjalan di hati sy, sy hidup di lingkungan orang2 yg pintar scr spiritual tp belaskasihnya kurang , shg apapun kemauan mereka kalau tdk diikuti , hidup dibuat susah, mengatasinya sulit, mengikuti kehendaknya , batin sy berontak, tdk diikuti , dipersulit / main keroyok, suksma