Kesembuhan Spiritualitas

MATA YANG TERSENYUM

MATA YANG TERSENYUM
Ditulis oleh Gede Prama

MATA YANG TERSENYUM

Bagi orang biasa, mata hanya alat untuk melihat. Tapi bagi pencari-pencari tingkat tinggi di jalan samurai di Jepang dulu, mata adalah pedang yang jauh lebih tajam dibandingkan pedang yang terbuat dari besi atau kayu.

Kisah ini menyisakan sebuah warisan spiritual sederhana, ternyata mata bisa digunakan untuk tujuan-tujuan yang jauh lebih luas dan dalam dari sekadar melihat. Di dunia kesembuhan jiwa, mata juga sangat membantu proses kesembuhan.

Sebagaimana terlihat pada banyak sekali wawancara di sesi-sesi meditasi, tidak sedikit murid meditasi yang menangis sebelum mereka bercerita tentang apa yang terjadi. Sebagian yang menangis itu bahkan para murid yang datang dari negara yang sangat jauh, yang tidak tahu sama sekali siapa Gurunya.

Setelah direnungkan selama kurun waktu yang lama, ternyata mata yang menatap dengan penuh penerimaan dan penuh pengertian mengirim vibrasi-vibrasi indah yang membuat orang-orang jadi mudah menangis.

Ini berarti benar warisan tua para samurai dari Jepang. Mata manusia berfungsi jauh lebih dalam dari sekadar organ tubuh yang membantu untuk melihat. Perhatikan muka manusia. Mulut cuma satu, sedangkan mata dan telinga ada dua.

Pesan spiritualnya sederhana, kesembuhan dunia lebih membutuhkan telinga yang mendengar serta mata yang menatap secara bersahabat, dibandingkan dengan mulut yang penuh dengan permusuhan dan penghakiman.

Terinspirasi dari sini, penting sekali saat menatap seseorang – lebih-lebih manatap jiwa-jiwa yang sakit – untuk menjauhkan diri dari segala bentuk penghakiman. Terutama penghakiman yang bersumber dari kebiasaan untuk mengukur orang lain dengan ukuran-ukuran diri sendiri.

Setelah mata bebas dari penghakiman, setiap kali berjumpa orang-orang sangat disarankan untuk bertanya ke  dalam diri : “apa penderitaan orang ini?”. Melalui pertanyaan seperti ini, tiba-tiba energi belas kasih (compassion) muncul dari dalam.

Gabungan antara pikiran yang bebas dari penghakiman serta hati yang penuh dengan kasih sayang inilah yang membuat seseorang memiliki mata yang tersenyum. Sejenis mata manusia yang menyejukkan. Sejuk bagi yang dipandang sejuk juga bagi yang memandang.

Di tengah bumi yang semakin panas karena pemanasan global, kekerasan, terorisme, konflik di sana-sini, umat manusia memerlukan jauh lebih banyak mata yang tersenyum. Sepasang mata yang ada di sini untuk memercikkan tirtha (air suci). Bukan sembarang tirtha, melainkan tirtha penerimaan dan kasih sayang.

Penulis: Gede Prama.

Photo Courtesy: [email protected]

Gede Prama’s messages in english can be read in bellofpeace.org, fb Home of Compassion by Gede Prama, or twitter @gede_prama

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 Komentar

  • Suryo Adji Laksonodjati @suryo.adji72 • Jumat, 8 April 2016 | 7:58
    Matur suksma Guruji atas tulisan yang menyejukan. Mohon bimbingan bagaimana caranya menyembuhkan penyakit heran : heran bagaimana rasanya jadi orang kaya, heran menikmati makanan yang enak-enak.

  • Heni Rosita @heni_rosita • Jumat, 15 April 2016 | 5:12
    Mohon ijin bertanya guru, terhadap orang tua yang kondisinya sedang depresi/stress (selalu gelisah dan bingung) sebaiknya apa yang bisa kita lakukan utk membantunya? Apakah diajarkan meditasi? Teknik apa yang cocok? Matur suksma guru.