Kesembuhan Spiritualitas

Cahaya Yang Sesungguhnya

Ditulis oleh Gede Prama

 


“Sudah cukup mengejar cahaya ke mana-mana, sudah saatnya berbagi cahaya kepada dunia”

Seorang sahabat dari Jakarta yang pertama kali ikut sesi meditasi di Bali Utara bercerita dengan penuh rasa syukur, kalau saat meditasi bersama di pagi hari beliau melihat cahaya yang sangat indah bergerak dari arah utara, kemudian jatuh dekat-dekat tempat kami sedang melakukan meditasi pagi.

Pengalaman melihat cahaya seperti ini saat meditasi sudah dialami banyak orang sejak dulu sekali. Pesannya kemudian, jangan pernah mengizinkan penampakan cahaya sebagai bahan untuk mempertinggi ego dan keakuan. Jangan pernah merasa diri lebih begini dan lebih begitu dibandingkan orang lain setelah melihat cahaya.

Jika penampakan cahaya membuat ego dan keakuan menaik, maka hadirnya cahaya bukan membuat kehidupan seseorang jadi tambah terang. Sebaliknya, kehadiran cahaya membuat jiwa bertumbuh ke arah yang gelap. Dan ini bertentangan dengan hukum alam. Sebagaimana kita tahu bersama, di alam ini setiap kali ada cahaya menjelang maka kegelapan menghilang.

Salah satu Guru suci dari masa lalu yang bisa memaknakan pemunculan cahaya secara sangat elegan adalah Kabir. Di salah satu karyanya Kabir menulis seperti ini: “cahaya itu hanya muncul beberapa detik. Tapi ia merubah saya menjadi seorang pelayan selama-lamanya”. Inilah cara pemaknaan akan pemunculan cahaya yang disarankan.

Kekerasan yang hadir di sana-sini, angka bunuh diri yang meningkat terus, tingkat perceraian yang tidak bisa dihentikan adalah sebagian contoh kegelapan. Dan kegelapan tidak hadir untuk menghancurkan cahaya. Sebaliknya, kegelapan hadir di sini untuk membuat cahaya memancar semakin terang.

Dibimbing oleh spirit seperti ini, mari belajar menggunakan cahaya yang muncul di langit sebagai pantulan dari cahaya sesungguhnya yang ada di dalam hati. Mirip dengan melihat wajah indah di cermin. Yang layak disyukuri bukan gambar yang ada di cermin, melainkan wajah Anda yang sesungguhnya.

Tidak jauh dari waktu saat sahabat dari Jakarta melihat cahaya, seorang murid Osho berkunjung di twitter dan berbagi pesan seperti ini: “seks adalah bentuk cinta kasih yang paling rendah, menolong dan melayani adalah bentuk cinta kasih tingkat menengah. Namun compassion (belas kasih) yang rela menderita untuk kebahagiaan orang lain adalah bentuk cinta kasih yang paling tinggi”.

Rangkaian kebetulan yang penuh makna ini sedang mengundang kita semua untuk mendalami compassion (belas kasih) lebih dalam lagi. Bukan mendalami compassion dengan cara membicarakannya. Melainkan mendalami compassion dengan cara melaksanakannya dalam keseharian.

Pedomannya sederhana namun mendalam yakni banyak menolong, kalau tidak bisa menolong cukup jangan menyakiti. Siapa saja yang melaksanakan prinsip ini dalam keseharian, ia sudah menjadi cahaya yang berjalan di muka bumi. Jangankan tangan yang menolong, bahkan senyum kecil di bibir saja sudah memancarkan cahaya.

Dan bukan kebetulan kalau puncak perjumpaan sesi meditasi agustus 2016 ini bertepatan dengan hari rabu (bahasa Balinya Buddha), serta jatuh di tanggal 17-8-2016 sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pesannya, jika di zaman dulu kemerdekaan berarti undangan untuk mengusir kegelapan, di zaman ini kemerdekaan berarti undangan untuk memancarkan cahaya.

“Kegelapan tidak hadir di sini untuk menghancurkan cahaya. Kegelapan hadir di sini untuk membuat cahaya memancar jauh lebih terang”

Penulis: Gede Prama
Photo Courtesy: Twitter @Drc_19

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Komentar