Kesembuhan Spiritualitas

Seni Istirahat

Ditulis oleh Gede Prama

Kapan saja binatang di hutan mengalami luka, mereka mengobati diri mereka hanya dengan istirahat. Anehnya, tidak sedikit binatang di hutan yang sembuh melalui langkah istirahat secara sempurna dalam kesendirian dan dalam keheningan hutan. Itu salah satu pesan simbolik yang terlihat terang benderang di keheningan hutan.

Jika pesan ini dipadukan dengan pengalaman berjumpa ribuan sahabat di sesi-sesi meditasi, pesan simbolik ini ada benarnya. Setiap kali berjumpa sahabat-sahabat dengan penyakit yang sangat menakutkan, luka jiwa yang sangat dalam, bahkan ada yang sudah mencoba bunuh diri berkali-kali, di sana terlihat melalui mata mereka kalau mereka tidak pernah istirahat.

Jangankan saat berjumpa orang-orang yang melukai, bahkan saat tidur pun mereka masih dikejar oleh mimpi buruk yang berisi marah dan dendam. Sebagian bahkan bercerita kalau mereka tidak bisa tidur sama sekali. Ini semua menjadi masukan, betapa pentingnya belajar seni istirahat dalam kehidupan.

Dalam bahasa sederhana namun dalam, kenapa manusia di zaman ini suka mengira dirinya paling benar karena mengukur diri sendiri dengan ukuran diri sendiri. Alasan utama kenapa banyak orang sering terlihat salah, karena manusia mengukur orang lain dengan ukuran diri sendiri.

Ringkasnya, kegagalan untuk istirahat salah satu alasannya disebabkan karena kebiasaan tua untuk mengukur orang lain dengan ukuran diri sendiri. Perceraian, kekerasan, konflik, keluarga yang bertumbuh ke arah berbahaya, bunuh diri hampir semuanya bermuara dari sini.

Oleh karena itu, mari belajar mengukur orang lain dengan ukuran orang lain. Bukan memperkosa orang lain dengan ukuran diri sendiri. Perhatikan rumput liar di taman. Bagi tukang taman, rumput liar sangat mengganggu. Namun bagi kelinci, rumput liar adalah makanan enak.

Hal yang sama terjadi dengan anak-anak yang oleh sebagian orang tua disebut nakal. Bagi sebagian orang tua, anak-anak yang aktif dengan kegiatan begini dan begitu diberi sebutan nakal. Namun dari kaca mata anak-anak, itu cara jiwa mereka untuk belajar bertumbuh agar bisa semakin dewasa.

Suatu hari para binatang ingin mendirikan sekolah sebagaimana manusia. Mata kuliah berenang diajarkan oleh ikan. Pelajaran lari dibimbing serigala. Kursus terbang dikoordinir oleh burung. Dan setelah sekian tahun lewat, sekolahnya ditutup. Yang bisa berenang hanya ikan, yang larinya kencang serigala, yang bisa terbang hanya burung.

Pelajarannya sederhana, untuk bisa istirahat sepenuhnya dalam kehidupan sangat-sangat penting untuk menemukan ilmu “tahu diri”. Jika keinginan jauh lebih tinggi dari kemampuan, ia mudah membuat kehidupan jadi roboh. Bila keinginan lebih rendah dari kemampuan, itu namanya malas.

Dan titik istirahat yang mendekati sempurna bisa ditemukan kalau seseorang belajar menemukan keseimbangan antara keinginan dan kemampuan. Sebagaimana keseimbangan menaiki sepeda, titik keseimbangan lebih mungkin ditemukan kalau seseorang terus menerus berlatih untuk bertumbuh ke depan. Dan ciri jiwa yang sudah istirahat sederhana, semuanya terlihat sebagai tarian kesempurnaan yang sama.

Penulis: Gede Prama.
Photo Courtesy: Twitter @moon_perla.

===============================
Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa dibaca di bellofpeace.org, versi bahasa Indonesia beserta ratusan tulisan Guruji yang lain, wawancara sejumlah media terkemuka seperti Kompas bersama Guruji, video-video pesan perdamaian, video bimbingan meditasi, e-book, semuanya ada di belkedamaian.org. With compassion, admin

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.