Kesembuhan

Benih-Benih Cahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Di zaman ini, Guru simbolik yang sangat menghaluskan jiwa adalah anak-anak di rumah. Terutama karena anak-anak tidak memberikan pilihan lain selain merawat mereka. Jika tidak cocok dengan pasangan hidup, seseorang bisa cerai. Jika tidak cocok dengan atasan, yang bersangkutan bisa pindah tempat kerja. Tapi kalau tidak cocok dengan anak, Anda mau lari ke mana?

Dan panggilan hidup merawat anak-anak bisa diolah menjadi perjalanan spiritual mendalam, kalau seseorang tidak memandang anak-anak sebagai beban kehidupan. Cara pandang yang disarankan adalah memandang anak-anak seperti nelayan memandang lautan, seperti petani memandang sawah.

Tanpa lautan, nelayan tidak bisa bekerja. Tanpa sawah, petani tidak bisa berkarya. Dengan cara yang sama, tanpa kehadiran anak-anak, khususnya anak-anak yang bermasalah, maka orang tua jiwanya tidak akan bisa bertumbuh dewasa, tidak akan pernah bercahaya.

Itu sebabnya, di kelas-kelas meditasi berkali-kali dibagikan pesan, anak-anak bukan milik orang tua. Anak-anak adalah benih-benih cahaya yang dikirimkan oleh masa depan. Siapa saja yang berhasil merawat benih-benih cahaya ini, merekalah yang akan memiliki jiwa yang bercahaya.

Dalam logika yang sederhana namun dalam, ada dua cara untuk memancarkan cahaya. Pertama, menjadi cahaya. Kedua, menjadi cermin jernih dan bersih yang memantulkan cahaya. Setiap sahabat yang sudah merawat anak-anak secara indah lebih dari seperempat abad mengerti, kalau orang tua bersih dan jernih memandang anak-anak, persoalan waktu jiwa orang tuanya bercahaya.

Konkritnya, izinkan anak-anak bertumbuh sesuai dengan panggilan alami mereka. Bukan memperlakukan mereka sebagai boneka orang tua. Belajar peka membaca tanda-tanda anak sejak kecil. Entah kesenangannya, kawan mainnya, rapotnya di sekolah, komentar Gurunya, bagaimana anak-anak menghabiskan waktu senggang, sampai jenis rekreasi yang mereka sukai.

Di bidang psikologi ada pendekatan yang disebut not knowing approach of therapy. Belajar untuk tidak menggunakan ukuran dan kerangka di tempat lain untuk mengukur anak-anak. Misalnya, anak-anak tetangga kelihatannya cocok belajar komputer, kemudian jangan memaksa anak-anak di rumah harus belajar komputer juga.

Lebih bagus lagi kalau orang tua bisa berbicara dalam keseharian dengan bahasa anak-anak. Kalau mereka bermain, ikut bermain bersama mereka. Kalau anak-anak sedang bernyanyi, ikut bernyanyi. Kalau anak-anak suka menari, ikut menari. Dengan cara ini, orang tua bisa masuk ke dunia anak-anak secara sangat dalam.

Tanda penting kalau orang tua bisa masuk ke dunia anak-anak secara dalam, mereka sering membuka hal-hal pribadi yang bersifat rahasia ke orang tua. Dari mimpi basah hingga naksir pacar mereka ceritakan. Untuk memantau perkembangan anak agar tidak berbahaya, penting untuk memeriksa tong sampah mereka. Apa yang diminum, dimakan, dibaca biasanya tanpa anak-anak sadari bisa kelihatan di tong sampah. Dan di atas semuanya, selalu ingat bahwa ukuran terindah cinta adalah mencintai tanpa pernah mengukurnya.

Melalui pendekatan seperti ini, orang tua tidak saja sedang menyelamatkan anak-anak, tapi juga sedang mempersiapkan masa tua yang bercahaya. Di studi-studi kematian sering disebutkan, yang dipindahkan dari satu tubuh ke tubuh lain di saat kematian adalah energi kebiasaan. Dan siapa saja yang membiasakan diri untuk merawat benih-benih cahaya yang ada di anak-anak, lebih-lebih memiliki kebiasaan sering berbagi cahaya, ada kemungkinan ia akan terlahir di alam cahaya.

Penulis: Gede Prama.
Photo Courtesy: Dokumentasi Keluarga Spiritual Compassion.

===============================
Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa dibaca di bellofpeace.org, versi bahasa Indonesia beserta ratusan tulisan Guruji yang lain, wawancara sejumlah media terkemuka seperti Kompas bersama Guruji, video-video pesan perdamaian, video bimbingan meditasi, e-book, semuanya ada di belkedamaian.org. With compassion, admin.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

3 Komentar