Kesembuhan

Kecantikan Paling Menawan

Ditulis oleh Gede Prama

Sebagian sahabat yang jiwanya sudah menua mengerti, tatkala masih muda dulu nyaris semua manusia tertarik dengan kecantikan (kegantengan) di tingkat kulit yang sangat permukaan. Mata, bibir, hidung, warna baju kesukaan, cahaya kulit adalah sebagian hal-hal luar dan permukaan yang membuat jiwa-jiwa belum dewasa ditarik sebagaimana magnet menarik logam.

Dan begitu seseorang kaya dengan pengalaman ditipu di sana ditipu di sini, terkecoh di sana terkecoh di sini, di sana seseorang mulai memaksa diri untuk melihah wajah kecantikan di balik kulit yang muncul di permukaan. Sebagaimana terlihat di sesi-sesi meditasi, sebagian sahabat yang menemukan pasangan hidup di sesi meditasi membawa pelajaran sederhana namun mendalam.

Ia yang di dalamnya sampah (baca: kebencian, kemarahan, dendam) mudah tertipu dengan lalat yang berbaju kupu-kupu indah. Ia yang di dalamnya bunga indah, dengan sedikit upaya akan didatangi kupu-kupu indah. Pelajaran yang tersisa kemudian, dibandingkan dengan membungkus sampah kemudian berjumpa lalat berbaju kupu-kupu indah, lebih disarankan untuk mengolah sampah menjadi bunga indah.

Dan perjalanan mengolah sampah kekurangan dan ketidaksempurnaan ini jauh dari mudah. Salah-salah bisa masuk jurang musibah. Namun bagi para sahabat yang tekadnya kuat, menyimpan banyak benih cahaya di dalam, lebih-lebih membawa kerinduan mendalam sejak masa kecil agar hidupnya berguna dan bermakna, langkah-langkah berikut ini sangat layak untuk direnungkan.

Sebagaimana dialami oleh banyak jiwa-jiwa bercahaya, pintu pembuka sangat menentukan untuk bisa menemukan kecantikan paling menawan bernama penderitaan. Terutama jenis penderitaan yang tidak menyisakan pilihan untuk lari menjauh. Di keluarga, amplas paling menghaluskan biasanya datang dari anak-anak yang memerlukan perhatian dan penanganan khusus.

Jika tidak cocok dengan atasan, seseorang bisa pindah tempat kerja. Bila seseorang tidak cocok dengan pasangan hidup, yang bersangkutan bisa cerai. Tapi kalau tidak cocok sama anak-anak, anak-anak berontak, atau anak-anak memerlukan perawatan khusus, orang tua tidak punya kemewahan ala anak-anak yang selalu lari dari masalah. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah mengolahnya menjadi jalan spiritual.

Dari sinilah pintu kecantikan paling menawan mulai terbuka. Menceritakannya mudah, tapi menjalaninya sangat susah. Ceritanya tidak panjang, namun kelokan-kelokan yang harus dilalui panjang dan curam. Wajah konkritnya di lapangan bisa bermacam-macam. Dari anak yang berkebutuhan khusus, anak yang kena bully di sekolah, sampai dengan anak-anak yang diseret narkoba.

Sejujurnya, inilah praktik spiritual terdalam yang pernah ada. Mungkin itu sebabnya, di zaman dulu penekun spiritual mendalam banyak yang menghindari jalan berkeluarga. Terutama karena cobaan dan tantangannya sangat berat. Tidak sedikit yang roboh dan heboh. Namun sebagaimana pepatah tua di zen: “Small clay makes small Buddha. Big clay makes big Buddha”. Jika tantangannya kecil maka seseorang dapat pencerahan kecil. Bila guncangannya besar, seseorang mendapatkan pencerahan yang juga besar.

Mungkin itu sebabnya, di Tantra mahluk tercerahkan disebut Mahasiddha. Seseorang yang sudah melewati guncangan yang tidak kebayang hebatnya, kemudian berjumpa cahaya. Kuncinya sederhana, selalu mendekap setiap rasa sakit yang datang dengan sepasang tangan keikhlasan. Dalam bahasa psikologi, melatih diri untuk merasa nyaman dan aman bahkan tatkala tidak tahu.

Siapa saja yang bisa melewati malam-malam gelap seperti ini selama bertahun-tahun, suatu hari mengalami (bukan mengerti menggunakan kata-kata), ternyata apa yang disebut pikiran dan perasaan sebagai salah-benar, buruk-baik, kotor-suci, duka-suka, cacian-pujian ternyata adalah sepasang bibir Tuhan yang sedang berbagi senyuman. Sukacita adalah sejenis musik. Dukacita adalah cara jiwa mengerti makna sang lirik. Kebahagiaan adalah sejenis senyuman. Kesedihan adalah tanda jiwa sedang menggali semakin dalam.

Setelah melewati “malam-malam gelap bagi sang jiwa”, seorang sahabat di Barat mengalami pencerahan. Tapi setelah itu ia tidak menjadi Guru spiritual yang terkenal. Namun memilih menjadi supir taksi di keramaian kota New York. Ketika ditanya kenapa, ia menjawab: “Mau melihat senyuman Tuhan setiap hari”. Maksudnya, mau mendengarkan keluh kesah orang-orang setiap hari di tengah taksi. Dari ibu yang diusir putranya sendiri, sampai remaja yang jatuh cinta. Inilah kecantikan paling menawan. Ia mirip dengan burung putih di salju. Seseorang memperindah masyarakat. Tapi sangat sedikit yang mengenali kalau ia sedang memperindah masyarakat.

Penulis : Guruji Gede Prama.
Photo Courtesy : Twitter @Drc_19.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar