Kesembuhan

Tubuh Yang Bercahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Setiap kali berjumpa para sahabat yang sakit begini sakit begitu di sesi meditasi, terasa sekali hadirnya tubuh yang miskin cahaya. Tidak saja auranya kekurangan cahaya, tapi juga kulitnya, matanya, perasaanya, pikirannya, semuanya bercerita tentang sebuah tubuh yang jauh dari cahaya. Mirip dengan semak-semak kotor yang rawan mengundang datangnya ular, tubuh yang miskin cahaya juga rawan mengundang datangnya godaan-godaan berbahaya.

Padahal, sebagaimana ditulis di buku suci, tubuh manusia adalah salah satu tubuh yang sangat bercahaya di alam ini. Sebuah manuskrip tua yang ditemukan di pedalaman hutan di Peru, yang sudah berumur lebih dari 2.600 tahun, bahkan secara eksplisit menyebutkan kalau tubuh manusia adalah puncak semua evolusi. Sehingga bisa dimaklumi, kalau semua Buddha mengalami pencerahan sempurna saat mengenakan tubuh manusia.

Belajar dari banyak sahabat yang cahaya tubuhnya sangat redup, terasa sekali kalau mereka gagal terhubung dengan tubuh. Lebih menyentuh lagi, tidak sedikit diantara mereka yang menyalahkan tubuh. Kawan-kawan yang mendalami kesembuhan holistik mengerti, tubuh memiliki seluruh kemampuan untuk menyembuhkan dirinya. Tentu saja dengan syarat, yakni seseorang mesti terhubung baik dengan tubuhnya. Bukan bermusuhan dengan tubuh.

Mirip dengan merawat anak-anak, pesan orang tua akan didengarkan dan dijalankan kalau orang tua terhubung baik dengan anak-anak. Tubuh juga serupa, ia akan bisa menyembuhkan dirinya, kalau seseorang terhubung rapi dengan tubuh. Agar seseorang terhubung rapi dengan tubuhnya, lebih-lebih agar tubuh kecil terhubung rapi dengan tubuh yang agung, ada baiknya merenungkan bahan-bahan spiritual di bawah ini.

Sahabat-sahabat di dunia spiritual yang peka mengerti, jauh sebelum tubuh biologi (tubuh fisik) disentuh rasa sakit, tubuh psikologi (lengkap dengan alam rasanya), serta tubuh energi (lengkap dengan rasa lelahnya) sudah disentuh terlebih dahulu. Seperti sistim peringatan dini, tubuh energi dan tubuh psikologi sudah memberikan alarm sebagai tanda-tanda awal.

Untuk itu, kapan saja tubuh energi memberi tanda melalui rasa lelah khususnya, cepat membimbing diri untuk istirahat. Tidak saja mengistirahatkan tubuh, tapi juga mengistirahatkan pikiran dari segala bentuk konflik di dalam (salah-benar, buruk-baik, kotor-suci). Manakala tubuh psikologi memberi tanda melalui memori buruk, mimpi buruk, resah, gelisah, marah-marah, cepat menghadirkan energi penyeimbang di dalam.

Dari menghadirkan alat penyeimbang luar seperti musik, rekreasi, bercengkrama bersama keluarga, sampai dengan belajar menjadi saksi yang penuh belas kasih di dalam. Ringkasnya, alam rasa yang mulai memanas di dalam membutuhkan air penyejuk. Yang paling disarankan, air penyejuknya datang dari dalam seperti praktik meditasi. Jika belum bisa, tidak apa-apa sementara waktu menghadirkan air penyejuk dari luar.

Agar tubuh kecil mulai terhubung dengan tubuh yang agung, bagus sekali kalau bisa mengenali emosi inti (core emotion) yang terlihat sejak kecil. Para sahabat yang emosi intinya marah, jauhkan diri dari angin kencang, petir dan gempa. Kawan-kawan yang emosi intinya takut, disarankan menjauhi dunia malam serta tanda-tanda black magic. Teman-teman yang emosi intinya sedih, hati-hati saat cuaca mendung, hujan, serta miskin cahaya. Kecelakaan spiritual berbahaya seperti bunuh diri sering dialami oleh manusia yang emosi intinya sedih berjumpa dengan cuaca yang miskin cahaya.

Di puncak semuanya, sangat disarankan untuk selalu memandikan tubuh dengan energi kesadaran. Konkritnya, setiap gerakan tubuh – dari makan, minum, bicara, berjalan, bekerja, berdoa, bahkan saat tidur – sebaiknya diterangi cahaya kesadaran. Orang-orang zen punya pedoman sederhana namun mendalam: “Hanya melakukan satu hal di satu waktu yang sama”. Bersamaan dengan itu, selalu ingat sifat semuanya yang berpasang-pasangan, serta datang secara bergantian. Sedih pasangannya senang, duka pasangannya suka.

Itu sebabnya, praktisi-praktisi tingkat tinggi di zaman ini seperti Eckhart Tolle sering berpesan: “The next evolution is the evolution of consciousness”. Hanya tatkala tubuh manusia selalu dimandikan oleh cahaya kesadaranlah, maka ia layak disebut sebagai tubuh yang bercahaya. Dengan tubuh yang bercahaya, semua bentuk negativitas (dari memori buruk, mimpi buruk, rasa sakit, penyakit, sampai bunuh diri), akan menjauh. Ia sesederhana cacing yang menjauh dari lantai keramik yang sangat bersih. Dalam bahasa tetua di Peru sana, inilah puncak evolusi.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Twitter @h5za1.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar