Kesembuhan

Pelangi Di Puncak Gunung Agung

Ditulis oleh Gede Prama

Pelangi Di Puncak Gunung Agung

Kekuatan jaring terlihat di tengah ganasnya lautan. Kekuatan cangkul terlihat di tengah kerasnya tanah ladang. Dengan cara yang sama, kwalitas pencapaian spiritual sebuah masyarakat, terlihat tatkala di sana terjadi bencana. Kalau ini ukurannya, bayang-bayang bencana yang ditimbulkan Gunung Agung di bulan september 2017 membuka banyak rahasia tentang pencapaian spiritual masyarakat Bali.

Sebagaimana diberitakan luas, masyarakat Bali tidak saja menerima pengungsi manusia, bahkan binatang peliharaan pun diterima. Sejumlah sahabat Bupati cukup hati-hati untuk tidak mengotori pesan suci dengan kepentingan pribadi. Dan yang membuat banyak sahabat tersentuh, ada kulkul sakral (bel tradisional tetua Bali) yang berbunyi di Puri Klungkung tanpa ada tangan manusia yang memukulnya.

Digabung menjadi satu, ada pesan-pesan simbolik yang mau disampaikan Gunung Agung. Ternyata, upacara tidak saja menghabiskan biaya, tapi juga menerangi ruang-ruang gelapnya jiwa. Buktinya, empati masyarakat Bali tidak saja mekar untuk sesama manusia, tapi juga mekar untuk mahluk bawah seperti binatang.

Dan mengenai kulkul yang berbunyi tanpa disentuh tangan manusia, ia sedang mengingatkan life as a unified whole. Kehidupan sebagai sebuah ke-u-Tuhan. Mirip jejaring laba-laba, apa saja yang dilakukan di salah satu bagian, ia akan menggerakkan bagian lain. Andaikan ada jiwa yang mekar indah, maka seluruh permukaan bumi ikut mendapatkan bau wangi yang indah.

Sedihnya, bencana di mana-mana sedang bercerita, kalau bumi mirip taman kering yang merindukan air. Tidak mudah mengajak manusia yang sedang lapar ini dan itu untuk belajar sejuk melalui rasa berkecukupan. Namun kulkul sakral di Puri Klungkung adalah bel kosmik yang terlalu penting untuk diabaikan.

Yang paling elok adalah mulai menyirami taman kering di dalam diri. Terutama karena saat seseorang menyejukkan diri, ia juga ikut menyejukkan bumi. Jika dicari hingga ke akar-akarnya, kehidupan yang memanas berakar pada kebiasaan tua manusia yang menolak dirinya. Yang kulitnya hitam mau putih. Yang hidungnya mancung ke dalam mau mancung ke luar.

Jumlah korban narkoba yang terus bertumbuh, penghuni lembaga pemasyarakatan yang terus bertumbuh, angka perceraian yang terus bertumbuh, penghuni rumah sakit jiwa yang terus bertumbuh, adalah cermin dari konflik di dalam diri manusia yang juga terus bertumbuh. Tanpa upaya sengaja untuk menyejukkan diri, kehidupan akan dikunjungi hawa panas berupa konflik dan penyakit.

Untuk belajar menyejukkan diri, tetua Bali punya nasehat sederhana namun bercahaya: “Rwa bhinedane tampi”. Sebagaimana puncak gunung yang bersandingan sejuk dengan jurang di sebelahnya, setiap kelebihan bersandingan dengan kekurangan. Kekayaan akan diikuti oleh kerumitan. Keterkenalan sering bersahabat dekat dengan godaan. Rasa enak berlebihan akan diikuti oleh rasa sakit yang juga berlebihan.

Mendekap keduanya sebagai sebuah ke-u-Tuhan, itulah benih kedamaian. Itu sebabnya, di rumah-rumah tua di Bali selalu ada ruang suka-duka. Artinya, duka dan suka tumbuh di pikiran yang sama. Untuk itu, latih diri untuk bersahabat dekat baik dengan duka maupun suka. Yang disarankan meditasi sederhana, saksikan duka dan suka seperti menyaksikan sampah dan bunga indah di taman. Keduanya berputar bergantian.

Dalam bahasa penekun spiritual mendalam di Barat: “When I love myself enough, life blossoms in a beautiful way”. Tatkala seseorang berdekapan dengan hidupnya apa adanya, di sana kehidupan mekar menyerupai bunga indah. Sebagaimana dialami oleh jiwa-jiwa yang dalam, begitu bunga indah mekar di dalam, maka alam sekitar ikut mekar indah (baca: jauh dari masalah, jauh dari musibah).

Dalam bahasa jiwa-jiwa yang damai sekaligus tercerahkan: “Alam mengerti keindahan diri mereka melalui mata Anda”. Dan kapan saja keindahan di dalam berdekapan indah dengan keindahan di luar, di sana jiwa betul-betul melangkah pulang. Itu sebabnya, di atap bumi Tibet, di mana ada Gunung Kailash yang diyakini sebagai Home of Shiva (rumah indah Tuhan), di sana mahluk tercerahkan disebut memiliki rainbow body (tubuh yang seindah pelangi).

Maksudnya, saat seseorang mengalami pencerahan, atau jiwa-jiwa indah mengalami kematian, di sana langit membungkuk hormat dengan mempersembahkan pelangi yang sangat indah. Sekaligus berarti, inilah kehidupan sebagai sebuah persembahan indah. Ini juga yang dimaksud tulisan kecil dan sederhana ini sebagai pelangi indah yang muncul di puncak Gunung Agung. Ringkasnya, tidak ada ketidaksempurnaan, yang ada hanya bibir yang kurang berbagi senyuman.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Picture: Putu Wirawan.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar