Kesembuhan

Mengolah Bahaya Menjadi Cahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Apa yang lama ditakuti orang akhirnya menjadi kenyataan, akhir bulan november 2017 Gunung Agung betul-betul meletus. Ribuan pengungsi lagi-lagi harus memulai bab kesedihan yang baru dan haru. Tidak ada yang berdoa agar alam menimbulkan bencana. Kendati demikian, tetap saja bencana berkunjung sebagai tamu kehidupan.

Menuduh ini dan itu salah, tentu saja mudah. Namun mengolah setiap kesedihan menjadi bahan-bahan pertumbuhan, itu yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang indah. Di tengah kesedihan, di antara awan-awan bencana yang menutupi matahari Bali, ada jiwa yang melihat kilatan Cahaya: “Memandang seperti langit, bertindak seperti bumi”.

Di mata langit, tidak ada kematian tidak ada kesedihan. Yang ada hanya bentuk-bentuk yang terus menerus berubah. Daun kering di hari ini jadi kompos di hari berikutnya, serta akan muncul sebagai daun muda di hari lain. Bencana di hari ini memang membawa kesedihan, tapi ia sedang berubah bentuk menjadi keindahan di masa depan.

Batu yang dikeluarkan Gunung Agung di tahun 1963 memang menimbulkan banyak kesedihan di saat itu. Tapi kini, batu-batu itu sudah membuat banyak sekali tempat suci di Bali terlihat jauh lebih agung. Ringkasnya, setiap matahari tenggelam selalu membawa janji akan terbitnya matahari di hari berikutnya. Setiap bencana akan diikuti Cahaya di waktu berikutnya.

Itu cara memandang ala langit. Dan karena tubuh manusia terbuat dari bumi, tumbuh di bumi, maka layak untuk belajar bertindak seperti bumi. Singkatnya, semua hal yang ditanam di bumi sedang diolah menjadi bunga indah. Dengan demikian, tugas spiritual terpenting manusia di tengah bencana adalah mengolah bahaya menjadi Cahaya.

Perhatikan anak kecil yang digonggong anjing. Ketakutan membuat tubuh anak jenis ini memproduksi adrenalin. Bau adrenalin ini membuat anjing mengira kalau dirinya akan diserang. Sebagai akibatnya, anjing yang menggonggong bisa membuat anak penakut terakhir menjadi dalam bahaya.

Hal yang sama juga terjadi dengan manusia di depan bencana. Ketakutan berlebihan khususnya akan mengundang datangnya bahaya yang lebih besar. Adrenalin kolektif masyarakat bisa menjadi magnet yang mengundang datangnya bahaya yang lebih besar. Itu sebabnya, di studi tentang energi sering terdengar pesan: “Changing frequency is changing reality”.

Manusia secara aktif bisa ikut menentukan wajah realita di muka bumi. Maha karya yang paling sering dikutip dalam hal ini adalah studi bentuk partikel air yang dilakukan Dr. Masaru Emoto. Saat ditunjukkan pesan negatif seperti tolol, bentuk partikel air menakutkan. Ketika ditunjukkan pesan positif seperti damai, bentuk partikel air menjadi penuh keindahan.

Jejak maknanya kemudian, kurangi memandang letusan Gunung Agung dengan mata yang penuh ketakutan. Ia hanya akan mengundang datangnya bahaya yang lebih besar. Sebaliknya, lihat pesan-pesan keindahan yang disembunyikan di balik meletusnya Gunung Agung.

Tetua Bali menyebut Gunung Agung dengan sebutan Ibu. Jarang sekali terdengar ada Ibu yang melukai. Kebanyakan Ibu mendapatkan energi melalui kegiatan menyayangi. Meminjam lirik sebuah lagu tentang Ibu: “Hanya memberi tak akan kembali. Bagai Sang Surya menyinari dunia”. Inilah persisnya yang disebut mengolah bahaya menjadi Cahaya: “Tinggalkan ketakutan, temukan keindahan di balik cobaan”.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: High on Bali.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar