Kesembuhan

Jiwa Yang Mulya

Ditulis oleh Gede Prama

Seorang sahabat dari Jakarta bertanya penuh keheranan membaca berita kalau ada tokoh agama tertentu yang ditolak kehadirannya di Bali melalui sebuah demonstrasi: “Bagaimana itu bisa terjadi di tanah yang penuh toleransi seperti Bali?”. Suka tidak suka demikianlah putaran zaman.

Sejujurnya di setiap tempat dan setiap agama ada jiwa yang terbakar sekaligus jiwa yang mekar. Ciri dominan jiwa-jiwa yang terbakar, mereka lebih banyak diguncang oleh penolakan di dalam diri mereka. Setiap penolakan yang mereka lakukan pada hal-hal di luar hanya pantulan dari penolakan sesungguhnya yang terjadi di dalam.

Studi-studi tentang kelompok ekstrimis di banyak agama dan negara menunjukkan, kaum ekstrimis cenderung penuh ketakutan dan penuh penolakan di dalam. Karena penuh ketakutan, mereka menduga orang lain akan menyerang. Dan sebelum orang lain menyerang, mereka mengambil inisiatif duluan untuk menyerang.

Jiwa yang mekar lain lagi. Mekarnya jiwa di dalam ditandai oleh penerimaan yang sempurna akan kehidupan. Terutama karena sudah mengerti melalui pencapaian, ternyata di semua putaran waktu ada kemunduran sekaligus kemajuan. Sementara jiwa yang terbakar suka meributkan kemunduran, jiwa yang mekar melihat keduanya seperti melihat malam dan siang.

Indahnya siang bisa diketahui karena manusia pernah melewati malam. Indahnya kesejukan akan sangat terasa kalau hadir kekerasan di mana-mana. Dengan demikian, hadirnya jiwa-jiwa yang terbakar di mana-mana – termasuk di Bali – tidak sedang menyerang jiwa yang mekar. Sebaliknya, membuat masyarakat semakin butuh akan kehadiran jiwa-jiwa yang mekar.

Itu juga alasannya kenapa jiwa-jiwa yang mekar di sepanjang zaman mengucapkan selamat tinggal pada ketakutan, sekaligus bersahabat dekat dengan keindahan. Paduan antara ketakutan yang menghilang, dengan keindahan yang menjelang, itulah yang membuat jiwa-jiwa yang mekar hidupnya ringan, tentram dan nyaman.

Catatannya kemudian, sebagaimana sifat alami air yang basah, sifat alami bunga yang mekar indah, sifat alami jiwa-jiwa yang mekar mereka menemukan kebahagiaan dan kedamaian dengan cara berbagi senyuman dan kasih sayang.

Sementara para pemula berjuang untuk menjadi baik, sebagian bahkan takut sama neraka, jiwa-jiwa yang mekar sifat alaminya baik. Ia sealami ikan yang berenang di air, sealami burung yang terbang di udara. Tidak ada ketakutan di sana, hanya ada keindahan.

Seorang sahabat yang menghabiskan waktu sendirian di tengah hutan selama bertahun-tahun bercerita, awalnya sering didatangi yang aneh-aneh. Begitu ketakutan menghilang, keindahan menjelang, bahkan binatang menakutkan seperti ular pun menunjukkan tanda-tanda menghormat.

Jika di agama Buddha sebagian sahabat berbaju suci diberi sebutan Yang Mulya, bagi jiwa-jiwa yang mekar, inilah jiwa mulya yang sesungguhnya. Ia tidak mendapatkan kemulyaan karena menggangi baju, tapi karena telah mengganti ketakutan dengan keindahan. Sudah mengganti perlawanan dengan penerimaan. Sudah mengganti permusuhan dengan senyuman.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar