Kesembuhan

Jiwa Yang Kaya

Ditulis oleh Gede Prama

Membaca berita sangat intensif tentang dikejar serta diseret ke pengadilan salah satu petinggi negeri karena korupsi mengundang rasa empati. Terutama karena seseorang dengan jabatan dan martabat setinggi itu dikejar seperti buronan, sampai-sampai bingung dan ketakutan serta mengalami kecelakaan berbahaya di jalan raya.

Hal serupa juga terjadi di negeri yang jauh lebih kaya dan jauh lebih maju. Seorang sahabat psikolog di Amerika Serikat bercerita, begitu mendekati bulan-bulan libur seperti akhir desember, angka stres dan depresi menaik pesat. Terutama karena di waktu libur, sejumlah orang harus berkumpul lama dengan orang-orang dekat yang tidak nyambung. Dari ibu mertua yang sangat menuntut, sampai kakak ipar yang hanya bisa melihat hal-hal buruk.

Digabung menjadi satu, tidak saja orang miskin memerlukan daya tahan hidup yang kuat di zaman ini. Orang kaya pun dituntut memiliki daya tahan hidup yang juga kuat. Tanpa daya tahan jenis ini, baik kekayaan maupun kemiskinan, sama-sama berpotensi untuk membuat jiwa roboh dan masuk jurang.

Sahabat-sahabat yang mata spiritualnya sudah terbuka lebar mengerti, apa yang dijumpai seseorang di alam, sangat tergantung pada apa yang dikembangkan yang bersangkutan di dalam. Seperti nelayan yang membawa jaring, secara alami ia akan mendekati lautan. Serupa tukang kayu yang membawa kapak, secara ringan ia akan melangkah ke hutan.

Dengan cara yang sama, orang-orang yang di dalamnya penuh penolakan dan penuh perlawanan, secara alami ia juga akan mengundang penolakan dan perlawanan di luar. Di atap bumi bernama Tibet dan Jepang pernah tersisa cerita indah seperti ini. Serangkaian renungan yang layak diendapkan manusia zaman ini.

Suatu hari ada raksasa yang mau memakan domba di Tibet sana. Tapi raksasanya gagal. Berapa kali pun raksasanya mencoba, tetap saja gagal. Setelah dicari tahu sebabnya, ternyata raja Tibet saat itu setiap hari tekun dan tulus sekali memeditasikan penerimaan diri. Bahkan, siap memberikan sebagian tubuh beliau sebagai makanan mahluk lain.

Di Jepang juga serupa, kapan saja bencana alam menggoda, Kaisar akan masuk ke ruang doa selama berhari-hari. Hanya keluar karena makan, minum dan buang air saja. Selama itu juga Kaisar akan meminta maaf pada alam. Terutama karena bencana memberi masukan, kalau ada yang tidak sempurna dalam keharmonian diri Kaisar.

Belajar dari sini, bekerja tentu saja tidak dilarang, berusaha juga tidak dilarang, tapi sangat penting untuk mendekap dengan penuh penerimaan setiap hasil yang datang. Terutama agar harmoni di dalam diri tetap terjaga baik dan seimbang. Keharmonian di dalam diri inilah yang akan mengundang datangnya kehidupan luar yang juga penuh harmoni.

Itu sebabnya, di sesi-sesi meditasi sering dibagikan pesan: “Belajar meditasi adalah belajar istirahat dari semua bentuk konflik di dalam”. Persisnya, dari salah melawan benar, sampai buruk melawan baik. Kemudian, latih diri untuk senantiasa “istirahat” dalam kesempurnaan saat ini. Sambil selalu ingat, semuanya berputar. Sampah berputar menjadi bunga indah, bunga indah berputar menjadi sampah. Demikian juga dengan sedih-senang, salah-benar.

Jika dalam membadankan pesan ini, suatu hari seseorang akan mengerti melalui pencapaian, orang yang banyak uang tentu saja kaya. Tapi ia yang penuh penerimaan di dalam juga kaya. Dan orang kaya jenis ke dua daya tahan hidupnya jauh lebih kuat. Cuaca boleh terus berganti, tapi yang bersangkutan akan terus tumbuh dalam harmoni.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: getfashionsummary.com

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar