Kesembuhan

Muda Bergaya, Tua Bercahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Segala sesuatu adalah energi, begitu banyak sahabat di dunia spiritual menulis. Dan energi ini akan membantu jiwa untuk bertumbuh kalau seseorang bisa mengolahnya dengan pas dan tepat. Sampah jika ditempatkan di bawah pohon bunga akan berubah menjadi bunga indah. Demikan juga dengan energi-energi yang disebut negatif.

Sebagaimana sering terlihat di jalan raya, sejumlah orang tua masih menaiki motor besar Harley Davidson tatkala umur mereka tidak lagi muda. Ini terjadi karena mereka umumnya tidak naik motor saat muda dulu. Sehingga energi naik motor muncul kembali saat yang bersangkutan sudah berumur cukup tua. Sebagian sahabat yang amat jarang pacaran saat muda dulu, energi pacaran baru muncul setelah punya sejumlah cucu.

Cerita akan lain kalau seseorang sudah bosan naik motor ketika masih muda. Lebih-lebih sering bepergian saat muda. Sehingga saat tubuh melemah di usia tua yang bersangkutan bisa merasa aman, nyaman, tentram dalam diam dan kesendirian. Sekaligus ia menjadi tanda penting ke mana jiwa akan pergi setelah melewati gerbang kematian.

Bahan pertumbuhan yang tersisa kemudian, agar kehidupan penuh makna dan penuh cahaya, belajar mengekspresikan energi-energi progresif saat umur masih muda. Terutama karena saat umur masih di bawah 35 tahun, tubuh manusia umumnya masih kuat dan kokoh. Jika tubuh yang masih kokoh dilewati energi-energi progresif seperti naik motor, pacaran, merantau sangat jauh, ikut lomba ini dan itu, maka kemungkinan robohnya jauh lebih kecil.

Lebih dari itu, begitu energi-energi progresif terekspresikan secara memuaskan ketika umur masih muda, nanti saat seseorang memasuki usia tua (di atas 40 tahun) yang tersisa hanya energi-energi halus dan lembut. Dengan sedikit sentuhan ajaran spiritual mendalam, maka jiwa dengan sangat mudah menjadi dewasa sekaligus bercahaya.

Ini persisnya yang dimaksud dengan muda bergaya tua bercahaya. Sederhananya, saat umur anak-anak masih di bawah 20 tahun khususnya, izinkan mereka bertumbuh dengan segala gaya dan style-nya. Kurangi memaksa anak-anak menjadi matang saat umur biologi mereka masih remaja dan kanak-kanak.

Sebagai bahan renungan, asal diizinkan tumbuh alami di tempat alami mereka, semua ciptaan terlahir untuk memperindah. Lumba-lumba terlahir untuk memperindah lautan. Bunga bermekaran lahir untuk memperindah taman. Dengan demikian, tugas terpenting orang tua adalah menemukan panggilan alami anak-anak, serta mendorong mereka agar bertumbuh indah di sana.

Panggilan alami anak-anak sering tersembunyi di balik mimpi ibunya anak-anak saat hamil, mainan yang disukai anak-anak ketika masih balita, mimpi anak-anak ketika masih kecil, pelajaran di sekolah yang mudah mengundang minat, bagaimana anak-anak menghabiskan kebanyakan waktu luang mereka, teman-teman sepergaulan yang bertahan sampai puluhan tahun.

Intinya sederhana, peka membaca tanda-tanda unik anak-anak, jangan pernah memaksa mereka untuk mengikuti keinginan orang tua yang tidak kesampaian. Misalnya, orang tua gagal jadi dokter kemudian anak-anak dipaksa agar menjadi dokter. Tindakan seperti ini mudah membuat anak-anak bernasib seperti pohon kamboja yang ditanam di gunung yang hawanya dingin. Anak-anaknya menderita, orang tuanya sengsara.

Dalam perjalanan untuk membimbing anak-anak tumbuh dewasa, selalu ingat kalau anak-anak adalah sahabat tawa di usia muda serta sumber cahaya di usia tua. Dengan cara ini, tidak saja anak-anak selamat, jiwa orang tua juga bertumbuh sangat sehat. Sekaligus, keluarga bertumbuh menjadi taman jiwa yang penuh cahaya. Yang merawat benih-benih cahaya yang ada di sana menjadi cahaya yang menerangi dunia.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: ratraceofmylife.com

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

1 Komentar

  • Swastiastu,
    Pak gede, sy seorang laki-laki umur 26 tahun sdh bekerja, punya penghasilan ingin menikah dgn pacar tp orang tua tidak setuju karena mereka ingin sy lanjut dalam pendidikan. Mohon nasehat sy harus menikah at lanjut sekolah di usia begini.
    Terimaksih