Kesembuhan

Feng Shui Di Dalam Diri

Ditulis oleh Gede Prama

“Your vibe attracts your tribe”, begitu banyak sahabat pencinta spiritualitas di Barat menulis. Ringkasnya, vibrasi seseorang di dalam menentukan orang-orang yang akan mendekat. Ia sesederhana bunga mengundang datangnya kupu-kupu, atau kolam yang mengundang datangnya kodok.

Hal yang sama juga terjadi dengan keberuntungan. Tidak sedikit sahabat yang membuka rahasia dirinya di sesi-sesi meditasi bercerita secara terang dan transparan, alasan utama kenapa hidup mereka kurang beruntung (dari sakit hingga dibunuh penyakit), karena sepanjang hidupnya ia bercakap-cakap dengan dirinya betapa tidak beruntungnya hidup mereka.

Ini memberi inspirasi ke banyak pencari, percakapan di dalam diri adalah lahan bagi bertumbuhnya benih-benih keberuntungan. Di bidang psiko linguistik dikenal luas, berhenti menjadi pembunuh bagi diri sendiri, bantu diri Anda agar bertumbuh. Seseorang menjadi pembunuh bagi dirinya sendiri, kalau setiap hari mengeluh, merasa kurang, protes di dalam diri.

Sebaliknya, manusia sedang membantu jiwanya untuk bertumbuh kalau ia selalu melakukan percakapan positif konstruktif di dalam diri. Di bidang kebahagiaan sering terdengar pesan, kebahagiaan adalah persoalan mengambil sudut pandang. Jika sudut pandangnya positif konstruktif, bahkan kesialan pun membawa benih keberuntungan.

Soal memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, semua orang dititipi ketidaksempurnaan. Namun selalu ingat, sampah sedang berevolusi menjadi bunga indah. Kegelapan di malam hari sedang berevolusi menjadi cahaya di pagi hari. Demikian juga dengan kesialan dan ketidakberuntungan.

Itu sebabnya, sangat-sangat penting bagi para sahabat yang ingin hidupnya dikunjungi keberuntungan, belajar setiap hari hanya melihat sisi-sisi indah dari pengalaman keseharian. Indahnya belum kaya, seseorang jadi punya semangat hidup. Bangun paginya penuh energi. Indahnya sedikit teman, sedikit juga gangguan yang datang.

Lebih-lebih kalau percakapan di dalam yang positif konstruktif, dipadukan dengan ketekunan untuk sering bersyukur dan bertrimakasih di alam terbuka. Rasakan keterhubungan antara diri yang kecil dengan diri yang agung. Ada diri Anda di awan, pepohonan, bunga-bungaan. Ada bunga-bungaan dan rerumputan dalam diri Anda.

Salah satu tanda penting keterhubungan, seseorang akan berfikir berulang-ulang untuk menginjak rumput, berfikir berkali-kali untuk memotong pohon, meminta maaf sebelum memakan daging. Ada serangkaian rasa yang terganggu di dalam jika seseorang menyakiti. Ia mirip dengan tangan kiri yang tidak sengaja dipukul palu oleh tangan kanan, secara alami tangan kanan ikut merasakan rasa sakit tangan kiri, sekaligus mengulurkan tangan bantuan.

Perpaduan antara percakapan positif konstruktif di dalam, dengan energi-energi keterhubungan akan mudah sekali membuat seseorang bernasib seperti taman bunga yang indah. Tanpa berusaha terlalu keras, tanpa perlu larut dalam arus persaingan yang deras, kupu-kupu keberuntungan akan datang secara berlimpah.

Tetua di Jawa punya warisan tua tentang keberuntungan yang layak ditiru. Orang bodoh dikalahkan sama orang pintar. Orang pintar dikalahkan sama orang licik. Tapi ada manusia yang tidak bisa dikalahkan oleh orang licik mana pun, yakni orang yang senantiasa beruntung. Maksudnya, seseorang yang masih bisa berbagi senyuman, bahkan saat hidup dikunjungi kesialan.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Feast on Beauty.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar