Kesembuhan

Bercanda Dengan Tuhan

Ditulis oleh Gede Prama

Seorang sahabat dekat di keluarga Compassion bercerita, kalau suatu hari ia dilarang pegawainya menyebrang dari Lombok menuju Bali. Terutama karena ombak sedang ganas-ganasnya. Dengan tersenyum sahabat ini menjawab: “Saya ingin menguji kedalaman hubungan saya dengan Tuhan”. Dan benar saja, gelombang lautan menerjang dengan sangat hebat. Di tengah ketakutan yang sangat mencekam, ia bergumam pelan: “Maaf Tuhan, saya sedang bercanda”. Anehnya, gelombang ganas langsung hilang.

Bagi sejumlah pemula yang mensakralkan Tuhan secara berlebihan, cerita ini bisa dianggap tidak sopan. Namun bagi jiwa-jiwa dewasa, lebih-lebih bercahaya, Tuhan menyukai canda, itu sebabnya Beliau menciptakan tawa. Lebih dalam dari itu, tanpa canda dan tawa, kehidupan akan berubah menjadi lahan kering yang gersang. Sedikit sekali pohon kebahagiaan dan kedamaian yang bisa tumbuh di sana.

Tidak jauh dari topik Tuhan yang suka bercanda, suatu hari ada anak kecil yang bertanya pada mamanya soal benar tidaknya surga berada di bawah telapak kaki Ibu. Setelah mendengar bisikan Tuhan, ibu yang suka tertawa ini menjawab: “Kalau yang di bawah kaki ibu, itu surga untuk anak-anak. Kalau yang diantara dua kaki ibu, itu surga untuk bapak-bapak”.

Entah siapa yang memulainya, sejak dulu wajah spiritualitas selalu digambarkan dengan wajah yang terlalu serius. Sebagian bahkan mengancam melalui kata dosa dan neraka. Di tengah zaman yang pendidikannya sudah tinggi, bumi sudah berubah menjadi sebuah desa global melalui internet, menyajikan wajah spiritualitas yang terlalu serius mudah membuat generasi baru akan menjauh.

Sehingga ia menghadirkan sebuah tantangan baru, bagaimana mengajak generasi baru jiwanya agar bertumbuh dalam, namun pada saat yang sama mereka tidak menjauh dari dunia canda dan tawa. Di titik inilah, manusia memerlukan wilayah-wilayah perjumpaan antara spiritualitas dan ilmu pengetahuan.

Di dunia kesembuhan di Barat ada sebuah cerita yang sangat terkenal. Suatu hari ada orang tua yang terkena penyakit ini itu serta penuh komplikasi. Sehingga para dokter semuanya angkat tangan. Di tengah keadaan seperti ini, pria berusia lanjut ini menyewa sebuah kamar kecil di hotel kecil selama satu bulan.

Selama lebih dari 30 hari, pria penggemar tawa dan canda ini hanya menonton film-film lucu yang membuat ia tertawa terpingkal-pingkal sepanjang hari. Pagi tertawa, siang tertawa, sore tertawa, malam tertawa. Setelah sebulan, pria yang tidak lagi muda ini sembuh dari penyakit yang penuh komplikasi.

Cerita ini tentu saja bukan tahayul. Begitu seseorang sering tertawa, hormon-hormon stres di otak menurun drastis. Pada saat yang sama, kekebalan tubuh membaik. Lebih dari itu, tawa dan canda membuat seseorang mudah terhubung. Dan keterhubungan adalah akar semua kesembuhan.

Di suatu malam ada seorang pria yang meditasinya mendalam sekali. Demikian dalamnya, konon pria ini melihat sekilas wajah Tuhan yang sedang tersenyum. Ketika Tuhan terlihat tersenyum indah, ia memberanikan diri untuk bertanya, tentu saja setelah terlebih dahulu mohon maaf sedalam-dalamnya.

“Tuhan, kenapa saya diberkahi istri yang cantik sekali?”. Dengan tersenyum Tuhan menjawab: “Itulah sebabnya kamu cinta sama dia”. Mendengar jawaban seperti itu, pria ini melanjutkan pertanyaannya: “Sudah cantik, baik lagi Tuhan”. Lagi-lagi Tuhan menjawab: “Itulah sebabnya kamu cinta sama dia”. Merasa pertanyaannya dijawab terus, ayah seorang putri ini bertanya: “Tapi kenapa istri saya tolol sekali Tuhan?”. Masih ditemani senyuman yang sama Tuhan menjawab: “Itulah sebabnya istrimu pilih kamu. Kalau dia pintar, dia akan pilih orang lain”.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.