Kesembuhan

Kupu-Kupu yang Lucu

Ditulis oleh Gede Prama

Tatkala pagi menjelang sang malam menghilang, demikianlah salah satu wajah Tuhan sebagai hukum (God as a law). Demikian juga dengan pertumbuhan jiwa manusia. Tatkala anak-anak mulai mengenal kepintaran di sekolah, kepolosan mulai diganti oleh pikiran yang mudah marah.

Saat kanak-kanak dulu, pikiran tidak dipisahkan oleh tembok salah-benar, buruk-baik, rendah-tinggi. Semuanya terhubung rapi dalam sebuah ke-u-Tuhan. Itu sebabnya, anak-anak yang jiwanya sehat badannya terrawat merasa aman, nyaman, tentram di tengah alam.

Mengejar kupu-kupu adalah sebuah kenangan indah bagi anak-anak jenis ini. Tentu bukan untuk ditangkap. Bukan juga untuk dipermainkan. Namun ada yang rasanya indah di dalam saat berkejaran mengikuti kupu-kupu yang terbang ke sana ke mari.

Ia menyisakan jejak-jejak makna di dalam jiwa, jiwa manusia memiliki sayap. Dan sayap-sayap jiwa ini ada di sini untuk memperindah. Bukan untuk membuat masalah apa lagi musibah. Dan serupa kepompong yang berevolusi menjadi kupu-kupu, sayap-sayap jiwa juga berevolusi.

Melihat semua mahluk sedang menderita, itulah kepompong jiwa. Orang miskin menderita karena susah cari makan. Orang kaya menderita karena takut kehilangan. Anak muda menderita karena belum dapat pekerjaan. Orang tua menderita karena takut kehilangan kemewahan.

Kepompong kesadaran seperti ini pelan perlahan dibikin dewasa oleh lingkungan yang sangat menyentuh hati. Jangankan negara berkembang, negara setua dan sedewasa Amerika Serikat pun terancam ditutup karena konflik antarelit. Cerita perang nuklir sempat hilang puluhan tahun, sekarang muncul lagi.

Di sebuah desa di Bali, sebuah pulau yang sering disebut dunia sebagai surga terakhir, seorang kepala desa bercerita kalau ia menaikkan biaya denda untuk warga yang mau cerai sampai sepuluh kali. Tapi angka perceraian tetap tidak bisa dibikin turun. Kalau di surga terakhir saja demikian angkanya, apa yang terjadi dengan tempat lain.

Digabung menjadi satu, bagi mata manusia biasa bumi memang sedang menyentuh hati. Tapi bagi jiwa-jiwa dewasa dan bercahaya, bumi seperti ini sedang memanggil agar kepompong kesadaran cepat berevolusi menjadi kupu-kupu yang berbagi keindahan di sana-sini.

Di zaman kita, dunia mengagumi Nelson Mandela, Bunda Teresa dan Mahatma Gandhi. Dunia memberi penghargaan yang sangat tinggi pada YM Dalai Lama. Ia seperti membawa Cahaya terang benderang, jauhkan diri dari kekerasan, tatap semua mahluk dengan mata yang penuh penerimaan, sediakan tangan untuk pelayanan, itulah cara agar kepompong kesadaran berevolusi menjadi kupu-kupu indah yang lucu.

Meminjam salah satu warisan tua Jalalludin Rumi: “Hidup seperti tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Kadang dikunjungi kesedihan, kadang dikunjungi kesenangan. Namun siapa pun tamu yang datang, jangan pernah lelah berbagi senyuman”. Inilah kupu-kupu indah dan lucu yang sangat diperlukan oleh zaman ini.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Shutterstock.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar