Kesembuhan

Campuhan di Dalam Diri

Ditulis oleh Gede Prama

Di tempat di mana air sungai berciuman indah dengan bibir pantai, atau dua sungai menyatu jadi satu, tetua Bali memberi nama tempat itu dengan campuhan. Tidak sedikit tempat suci yang telah didirikan di sana. Tentu saja ada pesan spiritual indah yang disembunyikan di sana.

Sungai adalah simbol diri yang kecil dan kerdil. Yang suka disebut lebih begini lebih begitu. Sekaligus mudah luka karena begini karena begitu. Dan samudra adalah simbol diri yang Agung. Sebuah tempat di mana semua hal diolah menjadi berkah indah.

Dalam bentuknya yang sederhana namun mendalam, perjalanan spiritual adalah perjalanan air sungai mencari samudra. Perjalanan diri yang kerdil untuk menemukan diri yang Agung. Yoga, meditasi, kontemplasi, doa dan apa pun namanya, banyak yang ditujukan untuk mencapai titik perjumpaan ini.

Sebagaimana kerap dibagikan di kelas-kelas meditasi, bagi orang biasa air sungai memang terus menerus mengalir mencari samudra. Pertanyaannya adalah kapan sampai, kenapa samudra masih jauh, kenapa mesti melewati banyak sekali halangan, serta serangkaian pertanyaan melawan lainnya.

Namun bagi jiwa-jiwa dewasa dan bercahaya, air sungai tidak sedang merindukan samudra. Dalam diri air sungai sudah ada samudra. Dalam bahasa tegas dan lugas, manusia bukan setetes air yang mencari samudra, melainkan samudra dalam setetes air.

Dari kesadaran seperti inilah lahir pendekatan: “terima, mengalir, senyum”, sebagaimana disebarkan oleh keluarga spiritual Compassion. Dari pemahaman seperti ini juga lahir pengertian bahwa seni meditasi adalah seni “istirahat” di saat ini apa adanya.

Di permukaan, gelombang kelihatannya sedang mengejar bibir pantai, tapi sesampai di pantai, gelombangnya kembali menjadi samudra yang sama. Di permukaan, kematian sepertinya memisahkan manusia, tapi di kedalaman yang dalam, kematian bukan lawan kehidupan.

Lawan kematian adalah kelahiran. Kehidupan tidak memiliki lawan. Kawan terdekat kehidupan bernama keabadian. Inilah yang ditemukan oleh para sahabat yang telah menemukan campuhan di dalam diri. Anda bisa lari dari memori buruk tentang masa lalu, bisa menjauh dari ketakutan akan masa depan. Tapi manusia tidak bisa lari dari masa kini.

Anehnya, begitu masa kini “diterima apa adanya”, bahkan ketidakdamaian pun berubah menjadi benih-benih kedamaian. Di Buddha, ini disebut dengan perjumpaan antara Prajna (kebijaksanaan) dengan upaya (belas kasih). Di Hindu, ini disebut sebagai perjumpaan antara Shakti (energi feminim) dengan Shiva (energi maskulin) di dalam diri.

Di tingkat pencapaian seperti inilah sering terdengar pesan seperti ini: “Death is not death for a yogi, it is a little enlightenment”. Kematian tidak lagi datang membawa ketakutan. Ia hanya pengalaman kecil yang mencerahkan. Selamat datang di rumah jiwa-jiwa yang indah.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: charlottecommon.com

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.