Kesembuhan

Kota Indah Yang Bikin Betah

Ditulis oleh Gede Prama

Dalam sejarah kota-kota modern telah dicatat, sudah terlalu lama “pusat kebahagiaan” manusia berlokasi terlalu jauh dari keluarga. Ada yang menyukai dunia malam, ada yang suka mall, ada yang workaholic sehingga habis waktu di dunia kerja, sampai dengan organisasi sosial. Hasilnya sudah dicatat, angka bunuh diri, angka perceraian, korban narkoba, penghuni lembaga pemasyarakatan semuanya serba meningkat.

Ia sedang mengundang banyak pengelola kota-kota dunia untuk mengkaji ulang “pusat kebahagiaan” warga yang jauh dari keluarga. Oleh karena alasan itulah, bagian penelitian dan pengembangan pemerintah kota administratif Denpasar diundang untuk mengembangkan kota masa depan. Di mana “pusat kebahagiaan” tidak lagi di keramaian, melainkan di tengah keluarga. Agar ide ini didukung oleh masyarakat Bali, penting menyebutkan gagasan ini sebagai sebentuk “persembahan lebih dalam” pada leluhur. Terutama karena kebanyakan leluhur memang terlahir kembali di sekitar keluarga.

Sebagaimana biasa, gagasan-gagasan futuristic (berorientasi ke depan) hampir selalu ditertawakan orang ketika pertama kali disampaikan. Namun kalau tekun dan tulus melaksanakannya, gagasan seperti inilah yang sedang menciptakan masa depan. Meminjam dari Mahatma Gandhi, pertama-tama orang akan tidak peduli. Di tingkat kedua mereka akan tertawa. Ketiga bukan tidak mungkin mereka menyerang. Di tingkat ke empat, kita akan menang.

Berbekalkan spirit seperti ini, layak direnungkan dalam-dalam kalau bio-ritme alam cepat sekali berubah. Akibatnya, ukuran-ukuran lama cepat sekali ketinggalan zaman. Hanya sebagai contoh, Bhutan sudah sejak tahun 1972 meninggalkan ukuran tua GNP (gross national product) yang mengukur kinerja negara berdasarkan barang yang dihasilkan. Kemudian menggantinya dengan ukuran-ukuran kebahagiaan. Empat puluh tahun kemudian, persisnya di tahun 2012 PBB (perserikatan bangsa-bangsa) mulai membuat world happiness index (indeks kebahagiaan dunia). Pesannya sederhana, manusia tidak saja hidup dengan nasi. Peran pemerintah tidak saja mendorong masyarakat agar produktif, tapi juga mendorong masyarakat agar bahagia.

Dengan demikian, bukanlah sebuah lompatan terlalu berani, bukan juga lompatan yang terlalu ke depan, kalau ada yang berani memulai “family based city” (kota yang pusat kebahagiaannya ada di tengah keluarga). Sebagai langkah permulaan, bagus kalau membangun school of happy family (sekolah yang mendukung keluarga agar bahagia), mendirikan interdisciplinary studies on happy family (studi-studi lintas disiplin tentang keluarga bahagia), serta mempersyaratkan agar pasangan-pasangan muda yang mau punya akta pernikahan untuk mengikuti kursus keluarga bahagia.

Bersamaan dengan itu, bekali aparat pemerintah di tingkat desa agar merawat keluarga di wilayahnya masing-masing. Kembangkan indeks pengukuran kinerja desa yang menggunakan kebahagiaan keluarga sebagai ukuran yang utama. Hanya sebagai contoh, ada indeks negatif, ada indeks positif. Keduanya dijumlahkan, kemudian menjadi ukuran kinerja desa masing-masing.

Indeks negatif mencakup seperti angka perceraian per kapita, angka kematian anak balita per kapita. Indeks positif mencakup angka pasangan keluarga yang telah menikah lebih dari 50 tahun per kapita, lulusan perguruan tinggi per kapita. Keduanya dijumlahkan sehingga menghasilkan desa dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi, sedang serta rendah.

Jauh lebih bagus lagi kalau pasangan-pasangan pernikahan yang sudah menikah dengan pasangan yang sama selama lebih dari 50 tahun diberikan fasilitas-fasilitas khusus seperti parkir gratis, memasuki hotel mendapat welcome drink gratis, di taman-taman kota ada fasilitas khusus untuk lansia jenis ini. Di ruang-ruang publik sediakan tempat-tempat yang family friendly. Bersahabat dengan keluarga. Dari tempat duduk ayah, ibu, anak. Sampai dengan lomba bernyanyi dan bermain untuk anak-anak. Ajak masyarakat untuk menggunakan hari sabtu sebagai hari keluarga. Ringkasnya, undang masyarakat untuk merawat keluarga agar menjadi tempat berteduh yang sejuk bagi jiwa manusia.

Di tingkat desa dan kecamatan, layak dikembangkan pusat pelayanan keluarga bahagia. Yang tidak saja bisa membantu menyelesaikan krisis-krisis keluarga, tapi juga membimbing keluarga agar menjadi taman sejuk bagi banyak jiwa. Mirip dengan puskesmas yang merawat kesehatan tubuh fisik warga, layak direnungkan untuk mengembangkan “puskesmas” keluarga bahagia. Yang merawat agar jiwa warga juga bahagia.

Di atas semuanya, selalu ingat pesan di awal. Kebanyakan manusia terlahir kembali di lingkungan keluarga. Sehingga siapa saja yang merawat keluarga secara indah, tidak saja sedang memberikan persembahan indah untuk para leluhur, tapi juga sedang mempersiapkan kehidupan berikutnya yang jauh lebih indah.

Sebagai bahan ringkasan, kekuatan penghambat pertumbuhan keluarga bernama ego. Begitu ego dikecilkan sedikit saja, maka banyak penderitaan yang bisa dikurangi. Keluarga akan bertumbuh indah kalau orang menerapkan mother isntinct (insting keibuan) dan heroic instinct (insting kepahlawanan). Konkritnya, berikan kesempatan seluas-luasnya agar istri dekat dan disayangi anak-anak. Dorong anak-anak agar menghormati papa mereka seperti manusia zaman dulu menghormati pahlawan. Kedua naluri ini sudah berumur sangat tua. Tertanam demikian dalam pada jiwa manusia. Wajah di permukaan saja yang berubah dari waktu ke waktu.

Author: Guruji Gede Prama.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.