Kesembuhan

Tubuh Lelah Jiwa Tersenyum Indah

Ditulis oleh Gede Prama

Tubuh Lelah Jiwa Tersenyum Indah

Begitu perayaan hari belas kasih yang dilakukan selama lima hari berlalu pada tanggal 2 maret 2018, terlihat jelas sekali kalau sahabat-sahabat sangat dekat di keluarga Compassion tubuhnya sangat lelah, namun jiwanya tersenyum sangat indah. Lelah terutama karena selama lima hari berturut-turut bekerja habis-habisan pagi, siang, sore hingga malam hari.

Maklum, ribuan remaja, orang dewasa dan lansia telah kami layani. Yang paling menarik dari sesi anak-anak TK khususnya, setiap kali mereka ditanya: “Siapa mahluk terkuat di muka bumi?”. Anak-anak TK secara serentak menjawab: “Mama dan Papa”. Sengaja anak-anak TK diarahkan untuk berfikir seperti ini, tidak saja agar mereka tumbuh penuh hormat, tapi juga agar keluarga selamat.

Para remaja lain lagi, pesan yang paling mereka sukai berbunyi seperti ini: “Berganti sepeda tidak akan banyak menolong kalau seseorang tidak bisa menaiki sepeda. Berganti pasangan hidup tidak akan banyak menolong kalau manusia tidak bisa menyayangi”. Itu sebabnya, anak-anak remaja berkali-kali diajak menyanyikan lirik lagu: “Rasa sayange, rasa sayang-sayange…”.

Di beberapa tempat, remaja-remaja putri yang berrambut panjang khususnya sengaja diberikan hadiah. Terutama untuk mendidik remaja sejak awal agar tumbuh secara alami. Begitu seseorang tumbuh di tempat alami mereka, ia akan bernasib seperti bunga kamboja yang menemukan tanah kering, serupa bunga lotus yang menemukan kolam yang basah. Dengan sedikit upaya, mereka akan mekar menjadi jiwa yang indah.

Sahabat-sahabat lanjut usia (lansia) tidak kalah gembiranya dalam hal ini. Di desa Sukawati dan Tampaksiring, lansia yang hadir banyak sekali. Pesan yang sangat disukai para lansia adalah undangan untuk tidur seperti bayi. Kapan saja tubuh memanggil untuk tidur, cepatlah tidur tanpa banyak berfikir. Begitu tubuh mau bangun, bangunlah secara alami.

Ringkasnya, kurangi berkelahi dengan tubuh, belajar bersahabat dekat dengan tubuh. Sehingga tubuh tidak menjadi penjaranya jiwa karena sering sakit, sebaliknya tubuh bisa menjadi tempat sucinya jiwa. Terutama karena di dalam tubuh manusia disimpan banyak rahasia spiritual. Penyakit jantung sebagai contoh, ia petunjuk untuk menyempurnakan cinta kasih. Penyakit lever, ia undangan untuk memiliki hati yang indah. Ia yang sering sakit kepala diminta untuk lebih sedikit berfikir, lebih banyak mengalir.

Di tengah perjalanan Compassion Day kali ini, sepasang remaja anggota keluarga Compassion meresmikan pernikahan. Sehingga ada pesta kecil di pertengahan jalan. Yang membuat sebagian sahabat terkejut, sebagian teman diizinkan minum bir. Di hari berikutnya baru diterangkan, bagaimana caranya untuk membebaskan diri dari ketergantungan.

Untuk membuat cerita jadi singkat, semua jenis ketergantungan – dari ketergantungan pada alkohol, narkoba dan seks – disebabkan karena orang mengira kalau tegukan berikutnya selalu lebih enak. Setelah teman-teman diajarkan untuk menikmati “tegukan saat ini” dengan cara menahan bir selama mungkin di mulut, seperti obat kumur, sebagian sahabat pencinta bir meletakkan bir malam itu sebagai bir terakhir.

Setelah melewati lima hari yang sangat melelahkan, di sana terjadi seleksi secara sangat alami. Sahabat yang tidak dekat, secara alami berhalangan untuk hadir. Sahabat-sahabat dekat sebagian roboh karena sakit, atau ada keluarga dekat yang masuk rumah sakit. Sahabat-sahabat sangat dekat, tubuhnya memang sangat lelah, tapi jiwanya tersenyum sangat indah.

Jika tubuh lelah rindu mendalam agar segera istirahat, jiwa yang tersenyum indah seperti menemukan tempat istirahat. Tempat istirahatnya tidak di masa depan, setelah punya begini dan punya begitu, melainkan di masa kini yang sangat kaya dengan senyuman. Meminjam puisi tua yang disampaikan berulang-ulang pada Compassion Day kali ini: “Tatkala saya mencari Tuhan, saya menemukan diri saya sendiri. Tatkala saya mencari diri saya sendiri, saya menemukan Tuhan”.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Koleksi Keluarga Compassion.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.