Kesembuhan

Menyelamatkan Taman Jiwa Bernama Keluarga

Ditulis oleh Gede Prama

Sebuah pohon yang gagah dan besar, ia dimulai dari sebuah benih yang kecil. Demikian juga dengan ledakan bom yang besar, ia juga dirakit dari bahan-bahan yang kecil. Hal yang sama juga terjadi dengan petaka keluarga yang bernama perceraian. Jauh sebelum petaka jenis ini terjadi, tanda-tanda awal yang disebut “kecil” sudah terjadi berkali-kali.

Sejumlah peneliti di Barat yang bidang kajiannyan perceraian, bercerita bagaimana hal-hal yang disebut “kecil” dalam keluarga bisa bertumbuh menjadi petaka besar yang menghanguskan keluarga. Berikut tujuh hal “kecil” yang bisa bertumbuh menjadi petaka besar dalam keluarga. Pertama, kecanduan berlebihan pada social media khususnya, membuat banyak pasangan kehilangan kontak mata.

Padahal, kontak mata adalah langkah sederhana namun mendalam yang membuat dua jiwa semakin terhubung. Kedua, sejak awal pasangan pernikahan sering lari dari konflik dan ketidakcocokan kecil. Cenderung menyimpannya dalam diam. Begitu ia menumpuk banyak di dalam, maka meledaklah ia menjadi bom yang menghancurkan.

Ketiga, jauh sebelum perceraian terjadi, percakapan keseharian cenderung hanya berputar di sekitar rumah dan anak-anak saja. Sejenis percakapan yang tidak saja mudah membosankan, tapi juga membuat hubungan dangkal di permukaan. Keempat, ketergantungan berlebihan pada social media khususnya, bisa bermuara ke mana-mana. Untuk itu, saat berdua miliki keberanian untuk mematikan gadget.

Kelima, tambah tua usia pernikahan, perbedaan tidak tambah sedikit malah tambah banyak. Situs Prevention.com bahkan melaporkan, beberapa tahun terakhir angka perceraian pasangan keluarga yang telah menikah lebih dari 50 tahun dengan pasangan yang sama di AS, malah meningkat lebih dari dua kali. Pelajarannya, lupakan mimpi tua kalau pasangan hidup bisa dibuat sama. Belajar berbahagia dengan cara berbeda.

Keenam, ciri unik pasangan yang mau bercerai, tambah hari mereka semakin kehilangan ciri unik masing-masing. Istri yang senang jadi ibu rumah tangga dipaksa untuk memiliki penampilan publik yang sopan. Suami yang lelah di usia tua, diminta mengantar pergi ke mal setiap hari.

Ketujuh, anak-anak yang tumbuh jauh dari panggilan alami mereka, persoalan waktu akan menjadi beban orang tua yang tidak sederhana. Idealnya, anak-anaklah yang merawat orang tua di usia tua. Namun di sana-sini terlihat, orang tua yang tubuhnya tua renta masih menggendong anak-anak karena sakit mental.

Ini bisa terjadi karena sejak awal anak-anak dipaksa mengikuti kehendak orang tua. Orang tua yang gagal jadi dokter, memaksa anaknya agar jadi dokter. Orang tua yang membaca bahwa bidang information technolgy (IT) sangat mengagumkan, memaksa anak-anak agar belajar IT. Kesalahan “kecil” di awal ini bisa membawa dampak panjang sekali, bahkan bisa membuat orang tua tidak saja cerai, tapi juga wafat karena stroke.

Seorang penulis di situs Prevention.com mewawancarai ribuan orang yang pernikahannya terlanjur terbakar oleh perceraian. Berikut tiga intisari kesimpulan yang bisa ditarik dari sana. Pertama, berganti pasangan hidup tidak secara otomatis akan membuat kehidupan lebih bahagia. Kesimpulan ini diletakkan sebagai kesimpulan pertama dan paling utama.

Kedua, di awal hubungan cinta memang hanya berkaitan dengan rasa senang. Namun begitu waktu bertambah, cinta lebih dekat dengan keberanian. Maksudnya, keberanian untuk terus menerus mencintai kendati pernah dilukai. Ketiga, karena berbagai faktor, ketidaksetiaan sering muncul di sana-sini. Namun pahlawan keluarga tidak menggunakan ketidaksetiaan untuk mengakhiri keluarga. Tapi menggunakannya untuk memperkuat akar-akar pohon keluarga melalui saling menerima dan saling memaafkan.

Ringkasnya, pernikahan bukan restoran tempat di mana manusia berharap hanya yang senang-senang saja. Pernikahan lebih dekat dengan taman yang berisi berbagai jenis benih. Di tangan pahlawan keluarga, benih-benih ini dikenali sejak awal. Dirawat sesuai dengan sifat alami mereka. Siapa saja yang tekun dan tulus dalam hal ini, suatu hari akan ditunggu oleh masa tua yang indah sekaligus penuh berkah.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Creative market.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar