Kesembuhan

Ikan Kehausan Dalam Air

Ditulis oleh Gede Prama

Harian terkemuka Inggris The Telegraph pernah menulis: “Di Bali, bahkan macet pun rasanya damai”. Di youtube tidak sedikit sahabat-sahabat asli Barat yang menyebarkan video tentang Bali yang indahnya sangat menawan. Oleh karena itu, mudah dimengerti kalau berkali-kali dunia menobatkan Bali sebagai pulau terindah di dunia. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai surga terakhir.

Kendati citra tentang Bali yang demikian indah di dunia sudah berlangsung sangat lama, namun di Bali ada sederetan cerita sedih yang menyentuh hati. Angka bunuh diri, penghuni rumah sakit jiwa, korban narkoba, perceraian semuanya serba meningkat. Di sebuah desa di Bali, ada kepala desa yang bercerita. Kendati denda perceraian dinaikkan tiga kali lipat, angka perceraian tetap naik di desa itu.

Cerita seperti ini bukan cerita baru tentu saja. Sejak zaman dulu sudah terdengar ungkapan tua yang berbunyi seperti ini: “ayam mati kelaparan di lumbung padi, ikan mati kehausan di tengah air”. Dalam bahasa puitis Kabir: “Aku tertawa, ikan mati kehausan di dalam air”. Pesannya, tubuh manusia adalah tubuh yang penuh dengan sukacita. Sayangnya, sangat sedikit yang menemukan sukacita di sana.

Di zaman ini, alasan utama kenapa banyak kehidupan menyerupai kolam kesedihan tidak bertepi, karena orang-orang bersaing terlalu berlebihan. Persaingan jenis ini tidak saja membuat manusia menjadi orang asing dalam tubuh sendiri, tapi juga membuat seseorang bernasib seperti kucing yang mengejar ekornya. Semakin dikejar semakin jauh.

Ini mirip dengan judul film zaman dulu yang berbunyi seperti ini: “Kejar daku engkau kutangkap”. Siapa saja yang mengejar terlalu kencang, dialah yang jiwanya masuk jurang. Terutama karena yang dikejar (baca: keinginan) selalu berlari lebih kencang dibandingkang yang mengejar. Ujungnya, tubuh lelah, pikiran marah, jiwa gelisah.

Di tingkat seperti inilah, peradaban memerlukan pahlawan jenis baru. Di zaman liar dan barbar dulu, seseorang disebut pahlawan karena berani melukai. Di zaman ini, seseorang disebut pahlawan karena berani menyayangi. Dan sebelum seseorang bisa menyayangi orang lain, sebaiknya belajar menyayangi kehidupan terlebih dahulu.

Di zen ada cerita tua seperti ini. Suatu hari ikan-ikan yang sudah lama tumbuh di air bertanya: “Apa itu air?”. Dan semuanya tidak bisa menjawab. Suatu hari salah satu ikan tidak sengaja melompat terlalu jauh. Sehingga terdampar hampir mati di daratan. Hanya karena kebaikan seorang manusia, ikan ini kemudian kembali ke habitat aslinya.

Begitu berkumpul bersama teman-temannya, di sana ikan terakhir bercerita tentang indahnya air. Dengan cara yang sama, manusia baru mengenal indahnya sukacita kalau pernah melewati dalamnya jurang dukacita. Dalam bahasa lain, guru sukacita terdalam adalah dukacita.

Itu sebabnya, tidak sedikit orang tua anak-anak berkebutuhan khusus di seluruh Bali sudah dibagikan pesan spiritual. Memiliki anak berkebutuhan khusus memang tidak ringan. Tapi sebagaimana kegelapan membuat cahaya memancar lebih terang, dukacita yang dihadirkan anak-anak berkebutuhan khusus bisa membuat manusia mengerti dalamnya sukacita.

Untuk itu, kurangi melawan, kurangi persaingan dan pembandingan berlebihan. Pada saat yang sama, tingkatkan kwalitas penerimaan, jangan pernah lelah berbagi senyuman. Untuk sahabat-sahabat di Bali, dunia sangat mengagumi keindahan Bali. Jangan izinkan surga ini hanya dinikmati orang dari luar negeri. Orang Bali juga bisa menikmati surga terakhir di muka bumi. Yang diperlukan hanya satu, hati yang penuh dengan rasa syukur.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Bali Super Tickets.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.