Kesembuhan

Sekolah Kebahagiaan

Ditulis oleh Gede Prama

“Sekolah-sekolah formal ternyata mengajarkan terlalu banyak ketidakbahagiaan”, begitu banyak sahabat mengeluh di Barat khususnya. Setelah ditelusuri dan dipelajari, kesimpulan ini tidak terlalu salah. Terutama karena terlalu banyak logika sekolahan yang berisi kumpulan logika “jika maka”.

Anak-anak SD mengira dirinya baru bahagia jika telah lulus SD. Begitu lulus SD, mereka mengira baru bahagia kalau lulus SMP. Setelah lulus SMP lagi-lagi menyebut diri baru bahagia kalau lulus SMA. Penyakit ketidakbahagiaan ini dibawa ke usia dewasa dan tua. Itu sebabnya, banyak orang dewasa mengira kebahagiaan baru datang kalau anak-anak dewasa. Setelah tua, tidak sedikit orang tua mengira kalau kebahagiaan berkunjung kalau anak-anak sudah mandiri.

Ringkasnya, banyak sekali manusia yang terus menerus “menunda” kebahagiaan. Sebagai akibatnya, kehidupan berputar dalam lingkaran ketidakbahagiaan yang tidak berujung. Hasilnya mudah ditebak, badan lelah, pikiran marah-marah, jiwa gelisah. Tidak sedikit sahabat yang berpendidikan tinggi mengeluh tidak bisa tidur. Amerika Serikat yang jumlah doktor (lulusan S3) per kapitanya paling tinggi di dunia, konsumsi pil tidur per kapitanya juga paling tinggi di dunia.

Di titik inilah, kita mesti memikirkan ulang cara kita hidup. Kebiasaan tua yang terus menerus menunda kebahagiaan tidak saja tidak sehat, tapi juga membuat banyak jiwa tidak selamat. Mengajak sekolah untuk segera berubah, itu jauh dari mudah. Apa lagi di negara berkembang yang lembaga pendidikannya dibelit rumit oleh banyak sekali kepentingan.

Untuk itu, kita bisa memulai perubahan di keluarga. Khususnya di keluarga kecil yang berisi bapak, ibu dan anak-anak. Sudah saatnya belajar membuat keluarga sebagai “sekolah kebahagiaan”. Mengerjakan tugas-tugas sekolah dan tugas kantor di rumah tentu saja boleh. Tapi perlu mengimbangi zaman yang telah memanas oleh berbagai kekerasan, dengan keluarga yang berisi banyak pohon kebahagiaan.

Dalam kaitan ini, penting sekali menanamkan ke anak-anak khususnya, kalau kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mesti dikejar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang telah ada di dalam. Persisnya, kebahagiaan bukan buah dari kejadian. Kebahagiaan adalah hasil ikutan dari cara menyimpulkan. Begitu seseorang melihat dari sisi-sisi yang indah, maka setiap keseharian berisi senyuman indah.

Agar keluarga betul-betul menjadi sekolah kebahagiaan, ajak anak-anak untuk memakan es krim kesukaan mereka secara pelan-palan. Sambil diingatkan seperti ini: “Nak, rasa es krim paling enak adalah es krim di saat ini”. Persoalan yang mengganggu manusia yang badannya lelah, pikirannya penuh amarah, jiwanya gelisah, mereka selalu mengira kalau es krim terenak adalah es krim di masa depan.

Studi mendalam tentang ketergantungan – dari ketergantungan akan obat, alkohol, narkoba sampai seks – semuanya memiliki pola yang sama. Selalu mengira bir yang paling enak adalah bir di gelas berikutnya. Lebih awal anak-anak mengerti tentang “es krim saat ini” lebih baik. Terutama agar mereka tidak masuk ke dalam lingkaran ketidakbahagiaan yang tidak berujung.

Lebih dalam dari itu, ajak anak-anak untuk melihat selalu ada sisi-sisi indah di balik masalah. Indahnya rapot merah, anak-anak jadi tahu kekurangan yang mesti diperbaiki. Indahnya papa marah, anak-anak jadi tahu kalau wajah manusia yang marah berubah jadi tidak menarik. Indahnya mama galak, anak-anak jadi tahu kalau manusia galak mukanya jadi cepat tua.

Di atas semuanya, latih anak-anak untuk rajin berbagi senyuman. Kehidupan mirip menyapu lantai. Besok pagi lantai memang kotor kembali, tapi teruslah sapu lantai sambil berbagi senyuman. Guru besar mikro biologi dari Jepang bernama Kazuo Murakami menemukan, senyuman adalah saklar paling penting di dalam yang bisa mengubah genetika manusia.

Sekali-sekali ajak anak-anak mendongeng. Andaikan papa, mama, anak-anak tersesat di luar angkasa sana. Kesepian di tengah kegelapan. Di sana baru manusia mengerti, ternyata bisa berjalan-jalan di muka bumi, menghirup udara segar, menikmati sejuknya udara pegunungan, berdekapan dengan hangatnya hawa pantai, sungguh serangkaian pengalaman surgawi yang sangat membahagiakan.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: gohappiness.org

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.